Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 179 : Bersatu Dengannya Atau Mengikhlaskannya


__ADS_3

Untuk itu, jangan pernah mengatakan tidak untuk sesuatu yang belum pasti.


Kesimpulan itu yang kini dirasakan oleh Jimmy. Kala itu, ia sangat yakin tidak mungkin menerima ungkapan rasa cinta dari Erin. Namun, lambat laun, dirinyalah yang justru merasakan pertumbuhan rasa cinta itu hingga semakin yakin.


Jimmy masih di dalam perjalanan menuju ke kediaman Raymond untuk menjemput Erin. Sedari tadi, bibirnya terus membentuk sebuah senyuman. Sejak resmi berpacaran, mungkin inilah waktu bagi keduanya benar-benar jalan hanya berdua.


Tok tok tok


''Permisi, Non ... tuan Jimmy sudah datang.'' panggil asisten rumah tangga.


''Iya sebentar.'' jawab Erin dari dalam kamarnya.


ART tersebut langsung meninggalkan kamar Erin setelah menyampaikan pesan.


''Haduuhhh ... aku pantas nggak sih pakai baju ini?'' gumam Erin.


Sudah beberapa lembar baju Erin coba, tetapi selalu merasa kurang cocok. Ntah karena benar-benar kurang cocok atau dirinyalah yang sedang terbalut rasa grogi.


''Hufftttt! ini sajalah daripada semuanya nggak pantas.''


Erin pun akhirnya menjatuhkan pilihan pada baju berwarna milo. Dengan makeup sederhana dan rambut ia cepol ke atas.


Erin meraih tas selempang, lalu bergegas menemui Jimmy yang sudah menunggunya di bawah.


Huuuuhhhhh


Erin menarik nafasnya dalam-dalam saat sampai di anak tangga terakhir agar lebih tenang. Setelah merasa cukup tenang, Erin langsung melanjutkan langkahnya.


''Kak Jimmy.'' sapa Erin dari arah belakang sofa tempat Jimmy sedang duduk menunggunya.


''Eh, iya.''


Jimmy pun langsung berdiri dengan raut wajah yang sedikit terkejut.


''Sekarang?'' tanya Jimmy.


Erin mengangguk.


''Iya Kak, sekarang saja. Kak Jimmy juga harus istirahat sebelum pulang ke Indonesia.'' jawab Erin diikuti senyum manisnya.


''Baiklah.'' balas Jimmy.


Erin dan Jimmy langsung meninggalkan rumah. Sedangkan kedua orangtuanya sudah lebih dulu pergi ke tempat acara.


''Cantik.'' bisik Jimmy sebelum Erin masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Erin tersipu malu, wajahnya sudah merona. Ia hanya menoleh sekilas lalu masuk ke dalam mobil untuk menutupi rasa gugupnya.


Setelah Erin masuk ke dalam mobil, Jimmy langsung bergegas mengikuti. Keduanya hanya saling melempar senyum tanpa memulai percakapan. Mungkin keduanya masih sama-sama gugup. Perlu mengatur nafasnya agar terlihat tidak canggung lagi.


''Kak.''


''Sayang.''


Jimmy dan Erin langsung terkekeh secara bersamaan.


''Kamu dulu.'' ujar Jimmy mempersilahkan Erin untuk berbicara lebih dulu.


''Nggak jadi, aku cuma mau tanya kok belum jalan.'' ujar Erin.


''Kalau Kakak mau bicara apa?'' tanya Erin.


''Nggak ada, Kakak cuma mau manggil kamu.'' jawab Jimmy.


Erin langsung memalingkan wajahnya yang sudah kembali memerah seperti udang rebus itu.


Sementara Jimmy sebenarnya juga tidak paham dengan dirinya sendiri yang ntah sedang bersikap yang benar atau tidak. Atau justru seperti orang tidak waras. Ah, ntahlah ... terkadang cinta itu memang bisa membuat seseorang terlihat konyol.


Jimmy melajukan mobil menuju ke tempat yang sudah di beritahukan oleh Erin semalam. Dan ia pun akan langsung menjadikan tempat tersebut sebagai tujuan utama, agar apa yang akan di cari oleh Erin bisa lebih cepat di dapatkan.


''Biasa saja seperti Erin yang dulu. Erin yang Kakak kenal sangat pandai merayu.'' ujar Jimmy menahan tawanya.


''Erin yang dulu suka bikin malu.'' jawab Erin lalu kembali menatap jendela di sampingnya.


Jelas saja Erin sangat malu dengan sikapnya yang dulu terhadap Jimmy. Ia selalu menunjukkan bahwa dirinya tengah mencari perhatian, bahkan lebih dari sikapnya ke kakak kandung. Saat itu, Erin belum bisa mengerti sepenuhnya. Namun, sekarang di dalam diamnya ia sudah bisa memahami apa yang sudah terjadi di masalalu kakaknya.


Dengan bertambahnya usia yang selalu diperlakukan seperti anak kecil di dalam keluarganya. Erin tetaplah tumbuh dan berkembang dengan cukup baik, terutama pada pola pikirnya.


''Tatap calon suaminya, dong.'' ujar Jimmy menyadarkan lamunan Erin.


''Kakak jangan bahas yang dulu, aku malu tau!'' protes Erin.


''Iya.'' balas Jimmy lalu mengusap rambut Erin.


Erin langsung tersenyum dan menghadap ke arah depan. Jimmy juga ikut tersenyum melihatnya.


''Nah, kalau senyum kan jadi semakin manis.'' puji Jimmy membuat Erin langsung memerah lagi wajahnya.


Erin tidak begitu berani menatap wajah kekasihnya itu. Jantungnya langsung berdebar kencang tak karuan. Apalagi dengan outfit Jimmy yang tidak memakai pakaian formal, membuat aura Jimmy semakin terpancar.


(Kalau othornya, auranya awur-awuran, eh nggak ding🤭 astaghfirullah 🤭)

__ADS_1


''Sudah sampai, sayang.'' ujar Jimmy.


''Oh, iya.'' jawab Erin.


Keduanya langsung melepaskan safety belt masing-masing.


''Jangan keluar dulu.'' cegah Jimmy.


Erin mengernyitkan keningnya. Sedangkan Jimmy langsung cepat-cepat keluar.


Senyum Erin langsung mengembang saat Jimmy membukakan pintu untuknya.


''Terima kasih, Kak.'' ucap Erin.


''Sama-sama, my future wife.'' balas Jimmy membuat Erin tersenyum dan tersipu lagi.


Jauh dari jangkauan mata-mata, Jimmy memberanikan diri untuk menggenggam tangan kekasihnya itu. Meskipun pergerakan Erin hampir saja spontan melepaskan.


''Tidak ada yang mengawasi kita, sayang.''


''Aku takut tiba-tiba kak Edgar muncul di depanku. Lalu, kedua bola matanya melotot sempurna dan tajam seakan-akan sudah siap menerkamku, Kak.'' ujar Erin memperagakan kakaknya itu.


Jimmy langsung tertawa pelan karena berusaha menahan.


''Kakak ipar sedang sibuk dengan kegiatan meeting, sayang. Dan kalau sudah selesai langsung pulang ke rumah, berduaan dengan istri tercintanya. Tidak mungkin tiba-tiba muncul disini.'' terang Jimmy.


''Ah, iya juga. Kakakku itu tidak mungkin rela meninggalkan kak Mentari hanya demi adiknya haha''


''Lagi pula, tuan Edgar memintaku untuk mengawasimu. Tugas yang tidak rumit, bukan?'' bisik Jimmy.


''Mengawasi diri sendiri, dong?'' balas Erin.


''Hmm, ya sudah ayo masuk, katanya mau pilih-pilih.''


''Iya, pilih yang lagi diskon besar-besaran.'' canda Erin membuat Jimmy terkekeh.


Tak terasa, berbicara yang di rasa sebentar ternyata cukup menyita waktu juga. Jimmy masih dengan menggenggam tangan Erin.


Cinta itu butuh keyakinan dan kesabaran untuk mendapatkannya. Dan juga yang tidak boleh dilupakan dalam mencintai adalah rasa ikhlas, ikhlas ketika takdir tidak mempersatukan kita. Kalau tidak jadi pasangan di pelaminan ya menjadi tamu undangan. Menyakitkan sekali, bukan?? Tidak juga.


Erin mencuri pandang ke arah Jimmy, tinggi badan yang tidak berselisih banyak itu memang memudahkan.


"Rasanya masih seperti mimpi, terkadang aku masih merasa tidak percaya bahwa dirinya adalah kekasihku, seseorang yang memang aku mau. Dia yang sejak dulu mengabaikan perasaan cintaku, ternyata kini, dialah yang paling gencar membahas masa depan kita berdua. Aku pun tidak tau, takdir seperti apa yang akan ku terima di akhir kisah nanti. Bersatu dengannya atau mengikhlaskannya. Tapi, sampai detik ini, aku masih berharap akhir kisahku tetaplah bersamanya, seseorang yang tidak pernah membuatku berpaling.''


Kalimat yang hanya bisa Erin ungkapkan dalam hati. Ia begitu mencintai makhluk Tuhan yang satu ini, setelah keluarganya.

__ADS_1


''Sorry, sorry.'' ucap seseorang.


Erin pun mengucapkan kata yang sama ketika secara tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang karena ia tengah menunduk. Dan seseorang itu baru dari arah lorong lain dan hendak berbelok ke arahnya, sehingga keduanya tidak sengaja bertabrakan.


__ADS_2