Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 171 : Ide


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu, wisuda Erin sudah semakin dekat. Edgar pun sudah memastikan untuk tidak akan datang dan memilih untuk menunggu kedatangan keluarganya saat pulang ke tanah air. Namun, Mentari selalu merasa tidak tega kepada adik iparnya itu.


Seperti biasanya, Mentari dan Edgar sedang menikmati sarapannya di meja makan hanya berdua saja.


"Sayang, kenapa kamu bengong gitu, sih?" selidik Edgar yang sudah lebih dulu menghabiskan sarapannya.


Mentari menoleh. "Ah, masa sih, Mas?" elaknya.


"Aku nggak kenapa-kenapa kok Mas." jawab Mentari seraya tersenyum.


Edgar pun tersenyum lalu mengusap lengan sang istri.


''Habiskan dulu sarapannya, sayang.'' ucap Edgar yang mendapatkan anggukan kepala dari sang istri.


Keduanya pun sudah menyelesaikan sarapannya.


Saat bersamaan, Jimmy datang dengan menampilkan senyum.


''Selamat pagi, Tuan ... Nona.'' sapa Jimmy.


''Pagi, Jimmy.'' jawab Edgar.


"E.. Mas ... Jim ... sebelum kalian berangkat ke kantor, boleh aku bicara sebentar." ujar Mentari menatap suaminya dan Jimmy bergantian. Tetapi tangan Edgar langsung menahan wajah sang istri agar tidak menatap Jimmy terlalu lama.


Jimmy sedikit terkejut, untung saja ia cukup baik dalam mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap tampak biasa saja.


"Ada apa sayang? sepertinya sangat penting." tanya Edgar.


"Iya Mas. Boleh kan?" balas Mentari.


Edgar mengangguk. "Tentu sayang."


"Duduk dulu, Jim." suruh Edgar pada Jimmy.


"Baik Tuan." jawab Jimmy.


Jimmy menatap Mentari beberapa detik.


"Anda tidak akan membocorkan itu lebih cepat kan, Nona?" bathin Jimmy.


Bagaimana pun juga Jimmy tetap was-was, karena ia tetap harus menuruti apa yang dikatakan oleh Erin untuk merahasiakan hal ini terlebih dahulu sampai kekasihnya itu benar-benar siap. Namun, sikap Mentari tiba-tiba membuatnya deg-degan.


Menyadari tatapan itu, Mentari tersenyum seolah menjawab semuanya akan baik-baik saja, jadi, berhentilah khawatir.


Mentari beralih menatap suaminya.


"Mas, aku aku bertanya sekaliii lagi sama kamu." ujar Mentari membuka percakapan setelah ketiganya duduk.


Kening Edgar langsung berkerut.


"Apa, sayang?" tanya Edgar.


"Kamu seperti seseorang yang sedang menyelediki sebuah kasus." canda Edgar.


"Sedikit." jawab Mentari.


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya pelan.


"Kamu yakin nggak akan datang di wisudanya Erin?" tanya Mentari.


"Iya sayang, aku yakin, alasannya sama. Erin pun juga yang meminta hal itu, kan?" balas Edgar.

__ADS_1


Mentari menunduk untuk memikirkan kata-kata selanjutnya. Karena permintaan itu juga datang langsung dari Erin.


"Kamu sedih ya?" tanya Edgar.


Mentari langsung mengangkat wajahnya.


"Apa salah kalau aku bersedih, Mas?" tanya Mentari.


"Tentu tidak, sayang."


"Aku sangat sedih, diantara kita tidak ada yang menghadiri acara wisuda Erin secara langsung." Mentari menunduk lagi.


Jimmy menyimak Mentari, ia masih penasaran apa sebenarnya yang menjadi tujuan wanita itu.


"Jadi, kita harus bagaimana, sayang?"


"Aku tidak mau meninggalkan kamu di dalam kondisi yang tidak mendesak, dan kalaupun aku memaksakan diri untuk hadir tanpa kamu, Erin akan lebih marah sama kakaknya karena dituduh tidak mempedulikan istrinya sendiri. Tau sendiri kan sekarang Erin lebih menyayangimu daripada kakak kandungnya sendiri, huh." keluh Edgar.


"Jadi, kamu cemburu, Mas?" balas Mentari.


"Pastilah." jawab Edgar tanpa ragu.


Jimmy menggaruk kepalanya melihat interaksi dua anak manusia di depannya itu.


"Jadi, sebenarnya poinnya apa sih???" tanya Jimmy dalam hati.


"Sebenarnya apa kegunaanku berada disini? apakah hanya untuk melihat adegan suami istri ini?" bathin Jimmy lagi.


"Kamu sih galak jadi kakak. Coba akrabin adiknya, nanti tiba-tiba ada yang datang melamar, kamu kaget." ujar Mentari.


Jimmy langsung menatap Mentari.


"Mana bisa begitu?! laki-laki yang akan menjadi pendamping adikku harus melewati banyak tahap." tegas Edgar.


"Nonaaaa ... anda jangan buat jantung saya menjadi pindah ke tumit." bathin Jimmy mewaspadai.


Jimmy terlihat menegakkan duduknya sembari merapikan jasnya.


Edgar terlihat kesal membayangkan ada sosok yang tiba-tiba datang untuk melamar adiknya.


Mentari ingin tertawa melihat ekspresi wajah kedua pria itu.


"Itu kan masih seandainya, Mas ... jangan keterusan seakan-akan sudah terjadi." ujar Mentari menyadarkan Edgar dari bayangannya tentang masa depan Erin.


"Ya sudah sana berangkat ke kantor." usir Mentari.


Kedua pria itu langsung menatap Mentari.


"Kenapa, sih?" tanya Mentari yang sudah mengkerutkan keningnya.


Edgar menangkup kedua pipi Mentari dengan gemas. "Nggak papa, ya sudah kita jalan dulu ya, sayang." pamit Edgar sembari berdiri.


Sebelum meninggalkan, Edgar mencium kening dan bibir sang istri. Tidak peduli dengan keberadaan Jimmy disana.


"EHM!"


"Udah sana, berangkat!" usir Mentari langsung mendorong dada Edgar.


Edgar terkekeh.


"Kalau pengin ya nikah dong, Jim." ejek Edgar.

__ADS_1


"Siap laksanakan, Tuan." jawab Jimmy.


Mentari merapatkan bibirnya karena ingin tertawa. Dan ingin juga menyahuti perkataan Edgar. "Calon adikmu ada di depan kamu lho, Maaasss.'' bathin Mentari geregetan sendiri.


Kedua pria itu langsung berdiri dan siap untuk berangkat ke kantor.


Namun, belum juga masuk ke dalam mobil, Mentari sedikit berlari dan memeluk suaminya dari belakang. Tentu saja Edgar dan Jimmy langsung terkejut.


"Ada apa sayang, hem?"


"Masih rindu ya? aku bisa mengatur jadwalku agar di handle semuanya sama Jimmy kalau kamu nggak mau jauh dari aku." ujar Edgar.


Mentari justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku kepikiran Erin terus, Mas." jawab Mentari dengan sedih.


Edgar langsung berputar.


"Terima kasih ya sayang karena sudah menyayangi adikku."


"Tentu saja aku menyayanginya, Mas." jawab Mentari dengan memberikan tatapan matanya.


Jimmy lagi-lagi dibuat pusing dengan sikap Mentari yang tampak memiliki maksud tertentu itu.


"Tiba-tiba aku punya ide, Mas." Mentari memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Edgar.


"Ide? apa?" tanya Edgar penasaran. Begitu juga dengan Jimmy.


Mentari mendongak lalu menarik nafasnya sesaat.


"Kalau kamu benar-benar nggak bisa datang, gimana kalau Jimmy saja yang datang kesana mewakili kita?"


"Jangan bilang-bilang, kita kasih ini untuk kejutan." Mentari mengucapkan hal itu dengan harapan besar dan juga hati-hati.


Jimmy terkejut dengan ide yang disampaikan oleh Mentari. Karena itu sangat membuatnya senang jika memang benar-benar bisa mengunjungi kekasihnya secara langsung. Tetapi ia juga cemas mengenai respon dari Edgar.


Edgar tampak berpikir mengenai ide yang disampaikan oleh Mentari.


"Emmmmm."


"Mas ... Jimmy kan sudah seperti keluarga. Erin juga sama sangat menyayangi kalian. Kalau diantara kita nggak ada yang datang, aku sangat sedih. Bisa jadi anak-anakku juga ikut bersedih." ujar Mentari.


"Maaf Nak, Mama harus menggunakan cara ini demi aunty kalian." bathin Mentari seraya mengusap perutnya.


Melihat itu, Edgar ikut mengusap lembut perut Mentari.


"Nanti aku pertimbangkan lagi ya, sayang. Kita lihat jadwal pekerjaan dulu." jawab Edgar.


Mentari tersenyum.


"Janjilah padaku kalau kamu akan membawa kabar gembira, Mas." pinta Mentari.


Edgar mengecup kening Mentari. "Ku usahakan ya, sayang."


"Aku ada meeting, sayang. Nanti dilanjut lagi ya." sambungnya.


"Iya Mas, hati-hati."


Edgar masuk ke dalam mobil terlebih dulu. Sementara itu, sebelum masuk ke dalam mobil, Jimmy sempat menoleh ke arah Mentari, dan Mentari langsung mengangkat jempolnya. Jimmy tersenyum tipis mengisyaratkan bahwa dirinya sangat berterima kasih atas usulan ini.


Mentari masih tetap diam sembari menunggu perginya sang suami. Ia melambaikan tangan dengan semangat pada Edgar yang semakin menjauh sampai hilang di balik pagar yang tinggi.

__ADS_1


Mentari kembali menarik nafasnya dalam-dalam.


"Semoga ide ini akan berhasil." gumamnya.


__ADS_2