Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 200 : Jimmy Mengungkapkan


__ADS_3

Jimmy langsung terkejut, ia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan mata Edgar yang tajam itu.


''Tidak!'' tegas Jimmy.


Edgar menumpuk tangannya di atas meja, dengan tatapan tajamnya yang belum teralihkan itu.


''Kamu yakin?!'' selidik Edgar seperti seseorang yang sedang mengintrogasi.


"Yakin! Karena saya berpacaran dengan Erin!" jawab Jimmy cepat lalu menutup mulutnya sendiri karena kelepasan.


Dap!


Keduanya langsung diam tanpa kata dengan kedua sorot mata tajam yang saling beradu itu. Baik Edgar maupun Jimmy sama-sama shock.


"Matilah aku! habislah kau, Jiim!!" rutuk Jimmy dalam hati menyesali mulutnya yang keceplosan.


"ERIN?"


"MAKSUDMU ERIN ADIKKU?" pekik Edgar dengan mencondongkan badannya.


Jimmy menumpuk tangan diatas pahanya, lalu mengangkat wajahnya menatap Edgar.


''Maaf Tuan.'' ucap Jimmy lirih.


BRAK!


Edgar langsung berdiri dan menggebrak meja kerjanya sendiri.


''Saya bisa jelaskan ini semua, Tuan.'' ucap Jimmy memohon. Ia memberanikan diri untuk menatap Edgar.


''JELASKAN?! APA YANG MAU KAMU JELASKAN? HA!'' seru Edgar.


Jika ruangan itu tidak kedap suara, mungkin saja suara Edgar bisa menembus sampai benua biru.


Jimmy langsung kebingungan sendiri. Bagaimana pun ia sudah terlanjur mengatakan hal kejujuran ini. Ia harus siap menerima amarah dari kakak beradik itu. Bukan kemauannya untuk merahasiakan hubungan antara dirinya dan Erin, tetapi sang kekasih lah yang memintanya untuk merahasiakan hubungan ini. Rahasia telah terungkap, sudah saatnya Jimmy mengatakan apa adanya, daripada terus menerus bersembunyi.


Sekarang Edgar sudah seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Tatapan mata Edgar yang tajam dan di sertai suara yang keras itu sampai menusuk jiwanya.


''JADI, SELAMA INI KAMU SUDAH BERKENCAN DENGAN ADIKKU?!''


''SEJAK KAPAN??!''


Edgar terus menatap Jimmy dengan tajam.


''TERUS, WAKTU KAMU KESANA?? OH, NO!!''


Edgar memegang kepalanya kuat, segala hal perdugaan negatif langsung bermunculan di benaknya.


''KAMU SUDAH APAKAN ERIN, HA?!!''


''KALIAN SUDAH BERBUAT APA SAJA SELAMA INI, HA?!!''


Jimmy langsung terbelalak mendengar dugaan itu. Ia sudah paham kemana arah pikiran Edgar sehingga melontarkan pertanyaan seperti itu.


''Saya menjaganya, Tuan. Saya bersumpah, saya tidak berbuat seperti yang saat ini anda pikirkan.'' jawab Jimmy dengan tegas.

__ADS_1


''Yang perlu Tuan tau, saya juga ingin menjaga keperjakaan saya, saya tidak ingin ternoda.'' imbuh Jimmy.


Edgar semakin terbelalak dan kehabisan kata-kata dengan informasi yang tidak pernah terlintas di benaknya itu.


''Silahkan duduk, Tuan.''


''Kurang ajar malah nyuruh!'' balas Edgar yang sudah tersulut emosi.


Sedari tadi Edgar berdiri dengan badan yang condong ke depan, sehingga membuat Jimmy bergidik ngeri.


Meskipun emosi, Edgar tetap menuruti perintah dari Jimmy untuk duduk kembali. Rasanya Jimmy ingin tertawa, tetapi ia tahan.


Sudah tidak ada yang bisa Jimmy tutupi lagi selain menghadapi kebenaran ini. Cepat atau lambat, semua akan tau. Mungkin sekarang memang sudah waktunya Jimmy mengungkapkan pada pemegang izin restu tertinggi di keluarga kekasihnya, Edgar Raymond.


Edgar menyandarkan kepalanya di sandaran kursi itu. Ia terus memegang pelipisnya yang terasa pusing dan tidak habis pikir. Untung saja awal pekan ini jadwal meetingnya siang hari, sehingga ia masih memiliki waktu untuk bisa memulihkan fokusnya.


''Jelaskan, Jim! cepat jelaskan!!''


Edgar mengatakan tanpa menatap Jimmy.


''Sebelum saya berkata panjang lebar, saya mohon pada anda untuk tidak akan memarahi Erin, Tuan.'' ucap Jimmy memohon.


''Hmmmmmm.'' jawab Edgar.


''Saya mohon maaf untuk semua ini. Saya mohon maaf karena bersembunyi dari kalian. Kami resmi berpacaran belum lama. Tapi, saya tidak main-main, Tuan. Saya serius menjalani hubungan ini. Tujuan saya tentu saja akan menikahinya secepat mungkin. Itu juga kalau Erin sudah siap, tapi, ternyata dia belum siap.''


''Tapi, karena selama ini Erin belum siap, saya tetap akan menunggunya. Dia yang meminta saya untuk merahasiakan hubungan ini dari kalian semua. Saya menghargainya, saya menurutinya, karena saya mencintainya.'' terang Jimmy.


Edgar menatap Jimmy dengan memicingkan matanya. Menatap tajam pada pria yang akan menjadi calon adik iparnya itu.


''Tuan, izinkan saya menjadi pendamping hidup untuk Erin.''


Edgar masih diam, pikirannya sedang kalut memikirkan adik kecilnya itu. Jangankan membayangkan sang adik menikah, mengatakan adiknya sudah besar saja rasanya tidak ikhlas.


Semakin tidak habis pikir, ternyata orang yang menjadi calon adik iparnya adalah seseorang yang selalu berada didekatnya. Sempit sekali rasanya dunia ini. Lu lagi lu lagi.


Arrrghh!


Edgar mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap Jimmy.


''Kenapa kamu memacari adikku?''


''Apa kamu sungguh-sungguh mencintainya?''


''Apa kamu bisa berjanji tidak akan pernah menyakitinya?''


''Kamu tau 'kan kalau Erin itu masih anak kecil?''


''Apa sudah tidak ada wanita dewasa lagi diluar sana?''


Edgar kembali menyandarkan kepalanya. Ntah apa yang sedang dipikirkan sekarang.


''Saya tidak mencintai wanita lain selain Erin, Tuan. Saya sudah yakin dengan pilihan ini. Begitu juga dengan Erin yang yakin menerima saya.''


''Kamu bisa disebut pedofil.'' sahut Edgar tanpa merasa berdosa.

__ADS_1


Jimmy langsung ingin melepaskan tawanya. Rasa sayang kakak pada adiknya itu akhirnya keluar. Sejak kapan hubungan sesama dewasa disebut pedofil. Dasar Edgar.


''Maaf, Tuan. Saya tidak berpacaran dengan anak dibawah umur.'' balas Jimmy.


''Tuan masih ingat 'kan kalau Erin baru saja wisuda?''


Edgar langsung berdiri.


''Aku belum bisa berpikir jernih. Aku mau pulang menemui istriku. Nanti aku kembali lagi sebelum meeting.'' tutur Edgar.


Edgar langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Jimmy.


''Nona Mentari juga sudah tau, Tuan.'' seru Jimmy sehingga membuat langkah Edgar terhenti.


Edgar langsung berbalik arah, Jimmy juga berdiri.


''Apa?!''


''Istriku tau hubungan kalian?!'' tanya Edgar.


Jimmy mengangguk.


''Maafkan saya, nona.'' bathin Jimmy.


''Jadi, Erin merahasiakan hubungan ini dari orangtuanya dan kakak kandungnya, tapi, hanya memberitahu ke istriku? begitu?''


''Tidak, nona Mentari mengetahui hal ini tanpa sengaja. Jadi, mau tidak mau, Erin menceritakan sejujurnya. Namun, dengan permintaannya untuk merahasiakan dari kalian.'' jawab Jimmy.


Edgar menatap Jimmy dengan tajam. Lalu pergi meninggalkan ruangannya tanpa meninggalkan kalimat apapun.


Jimmy seorang diri di ruangan itu. Ia menoleh ke kanan dan kiri lalu mengikuti langkah bosnya untuk keluar. Namun, tujuannya ke ruangannya sendiri.


"Sayang, maafkan Kakak ya ... Kakak tidak bisa menuruti permintaan kamu untuk merahasiakan hubungan kita lebih lama." gumam Jimmy.


Jimmy mengirimkan pesan pada kekasihnya itu. Ia tau sekarang Erin juga masih di tempatnya bekerja sehingga tidak langsung mendapatkan balasan.


Setelah pesan yang berisi permintaan maaf itu terkirim, Jimmy langsung menarik nafasnya dalam-dalam, meletakkan ponselnya di atas meja.


"Semoga semuanya baik-baik saja dan kami mendapatkan restu." gumam Jimmy penuh harap.


Jimmy terdiam, memikirkan banyak hal.


"Bagaimana dengan nona Mentari?"


"Apakah tuan Edgar akan memarahinya?"


"Ohh my God ... semoga tuan Edgar bisa mengerti."


"Nona, maafkan saya."


Jika dipikir-pikir, sangat sulit rasanya bagi Edgar untuk marah terhadap Mentari. Jimmy sedikit tenang setelah memikirkan hal itu, semoga memang benar sesuai dengan pikirannya. Karena kalau sampai Edgar memarahi Mentari, ia lah satu-satunya orang yang pantas disalahkan.


Jimmy terdiam dengan tatapan dan pikiran yang semrawut.


"Lagipula, selama ini anda tidak peka terhadap kedekatan kita karena anda terlalu bucin sama nona Mentari, Tuan." gerutu Jimmy.

__ADS_1


"Dan anda selalu menganggap Erin masih anak kecil yang belum waktunya untuk berteman dengan laki-laki. Apalagi menentukan pasangan, ya ... responnya seperti tadi, hmm."


__ADS_2