Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 223 : Jangan-jangan Kamu Cemburu Dengan Jimmy


__ADS_3

Jimmy sangat bahagia dan juga lega, tidak ada lagi hubungan yang di sembunyikan. Ia yakin Erin tidak akan memarahinya karena melakukan hal ini tanpa izin. Apalagi sekarang sudah dipastikan respon keluarga Raymond tidak ada yang menolak.


''Terima kasih Tuan, Nyonya.'' ucap Jimmy dengan senyum yang belum bisa hilang dari bibirnya.


Tuan Erick langsung terkekeh pelan, lalu berpindah tempat ke sebelah Jimmy. Pria paruh baya itu menepuk pundak Jimmy dengan akrab. Wajahnya pun menunjukkan rasa senang atas keberanian pria itu untuk meminta izin.


''Saya yang berterima kasih padamu, Jim. Tapi, kamu pasti paham kalau kami sangat menjaga anak-anak kami, apalagi Erin, gadis kecil kami.''


Lagi-lagi kata kecil itu diucapkan, Erin hampir melakukan protes, tetapi genggaman tangan Mentari langsung menyadarkannya.


''Emm, apa Edgar sudah tau tentang hubungan kalian?'' tanya tuan Erick.


Jimmy langsung mengangguk. ''Sudah, Tuan.'' jawabnya kemudian menatap Edgar dan tersenyum tipis.


Tuan Erick kembali tersenyum, lalu menatap ke arah putranya yang berada terhalang meja.


''Bagaimana, Edgar? kenapa tidak memberitahu Papi atau Mami?'' tanya tuan Erick.


''Terserah mereka, Pi.'' jawab Edgar.


''Yang pacaran kan mereka, Pi. Ya, biar mereka yang izin ke Papi sama Mami.''


''Tapi, kenapa wajah kamu terlihat tidak bahagia, Nak?'' timpal mami menelisik wajah Edgar yang tidak menunjukkan senyumnya sedari tadi.


Seketika semuanya menatap ke arah Edgar, dan ia pun langsung mengendalikan raut wajahnya seolah seperti tidak memikirkan hal apapun. Namun, semua sudah terlanjur menatapnya dengan tatapan selidik.


''Nggak kok, Mi, biasa saja. Aku juga sudah buat surat perjanjian untuk Jimmy.'' ungkap Edgar dengan nada datarnya.


''Perjanjian?!'' pekik mami tak percaya.


Baik tuan Erick maupun nyonya Neeta, keduanya sama-sama tidak mempermasalahkan kenapa Edgar sudah tau lebih dulu dibandingkan mereka. Karena mereka menyadari, persetujuan dari Edgar sudah dipastikan bakal lebih sulit, karena mereka tau, dibalik sikapnya yang kerap keras terhadap Erin, ia menyimpan rasa kasih sayang dan kekhawatiran yang sangat tinggi pada orang-orang terdekatnya, apalagi Erin saudara kandung satu-satunya yang ia miliki. Dan sekarang semua itu sudah terjawab tentang surat perjanjian yang Edgar layangkan pada Jimmy. Edgar benar-benar menunjukkan siapa dirinya, sekalipun itu orang yang sudah dekat dengannya.


Edgar dengan wajah datarnya hanya mengangguk lalu menaikkan kedua alisnya untuk memberikan jawaban.


''Saya tidak masalah dengan itu, Tuan ... Nyonya.'' ujar Jimmy menengahi sebelum terjadinya pro dan kontra antara ibu dan anak itu.


Tuan Erick dan mami langsung beralih menatap Jimmy lagi.


''Saya yakin kamu sudah paham penyebab semua ini. Terima kasih sudah mengerti, Jim.'' ucap tuan Erick.


Jimmy mengangguk paham.


''Kami memang selalu menganggap Erin itu masih anak kecil. Tapi, pada kenyataannya Erin akan terus tumbuh, siap tidak siap, memang sudah waktunya kami harus siap untuk melepaskan Erin bersama seseorang yang menjadi pilihannya.'' tutur mami.


"Tentu saja dengan laki-laki yang tidak sembarangan.'' timpal tuan Erick.

__ADS_1


Erin terenyuh menatap mami dan papinya.


Tuan Erick menepuk pundak Jimmy lagi seolah ingin menyampaikan sesuatu.


''Jim ... saya tidak ingin tau sejak kapan kalian menjalani hubungan ini. Saya percaya kamu tidak akan pernah menyakiti hati putri saya. Saya juga percaya kamu ingin meneruskan penjagaan yang sudah kami terapkan selama ini.'' ujar tuan Erick pada Jimmy dengan tatapan mata yang lekat nan menaruh harapan besar.


Tuan Erick menarik nafasnya dalam-dalam.


''Erin sudah wisuda dan memang sudah memiliki rencana akan melanjutkan pendidikannya lagi. Tapi, jika kalian memang benar-benar saling mencintai, dan tujuan kamu benar-benar untuk menikahi putri saya, saya harap, tidak perlu kalian berlama-lama dalam menjalani masa pacaran. Untuk apa?''


''Betul, saya tidak ingin melihat anak-anak saya menjalani hubungan yang buang-buang waktu. Apalagi kalian sudah saling kenal sejak lama. Dengan pernyataan itu, saya berharap pernikahan itu bisa lebih cepat lebih baik.'' timpal mami.


Erin pun langsung merubah raut wajahnya, yang tadinya terenyuh berubah menjadi terkejut. Hal yang sama juga terjadi pada Jimmy. Apalagi Edgar, ia kebingungan sendiri mendengar respon dari kedua orangtuanya yang secepat itu membahas tentang pernikahan untuk adiknya. Kedua matanya pun langsung membulat sempurna, lebih bulat dari mata Jimmy dan Erin. Tapi, genggaman tangan Mentari masih menahannya untuk tidak langsung menyerobot memberikan responnya.


Tanpa sebuah kalimat yang diucapkan, Edgar seolah tau bahwa sang istri membisikkan kalimat ''biarkan Jimmy yang menanggapi terlebih dulu''.


''Ma-maksudnya?'' tanya Jimmy menjadi gugup.


Walaupun tentu saja di dalam hatinya merasakan kebahagiaan karena ini respon yang terlalu tinggi untuk ia terima. Tetapi untuk secepat itu, membuat Jimmy merasa gugup yang bercampur aduk.


''Menikahlah kalian, saya akan lebih tenang jika kalian menjalani hubungan dengan sebenarnya. Dengan kalian menikah, kemanapun kalian pergi berdua, sudah tidak ada lagi rasa kekhawatiran dalam diri saya sebagai seorang ayah, tentu saja maminya merasakan hal yang sama.''


''Kami sudah sering berdiskusi tentang anak-anak kami soal pernikahan, Jim. Edgar sudah menemukan jodohnya, sementara Erin saat itu belum menunjukkan tanda-tanda dia memiliki kekasih. Dan malam ini, kamu yang pertama kali datang membawa pernyataan itu, yang juga sangat mengejutkan bagi kami.''


''Saya harap, memang kamulah yang pertama dan terakhir untuk meminang anak kami.'' sambung mami.


Mentari dan kedua mertuanya itu terkikik pelan karena mendengar Jimmy yang masih menyematkan kata nona untuk Erin.


''Apakah nona Erin menjadi panggilan kesayangan kamu pada putri kami?'' canda tuan Erick.


''Ehehe.''


Jimmy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


Mentari langsung menutup mulutnya karena hampir tidak bisa menahan tawanya. Sedangkan Erin hanya nyengir canggung. Dan Edgar masih dengan ekspresinya yang melihat tidak ada kelucuan.


''Bagaimana Erin?'' tanya papi.


''E... aku,'' suara Erin terasa tercekat di tenggorokan, ia menoleh ke arah Edgar.


Mentari menyikut lengan suaminya yang tidak menatap ke arah Erin itu.


''Hmm, iya ada apa?'' tanya Edgar.


''Edgar, adikmu juga memiliki masa depannya sendiri. Mami mohon keseriusan kamu untuk menanggapi hal ini.'' ujar mami.

__ADS_1


''Papi tau kalian semua terkejut, Erin juga pasti belum memiliki kesiapan mental yang baik untuk menjalani sebuah rumah tangga. Untuk itu, karena Erin pun kesehariannya tidak disini, Papi menargetkan pernikahan mereka tahun depan. Setidaknya ada waktu yang cukup untuk Erin belajar lebih dewasa lagi.''


''Tahun depan?!'' pekik Edgar yang langsung duduk tegak. Ia mengedarkan tatapannya ke arah kedua orangtuanya, Erin, dan juga Jimmy.


''Apa kamu keberatan, Jim?'' mami beralih bertanya pada Jimmy.


''Tentu tidak, Nyonya. Kapanpun saya siap, seperti yang sudah saya sampaikan tadi, bahwa tujuan saya untuk menikah.'' jawab Jimmy.


''Erin?'' mami beralih menatap Erin untuk meminta jawaban.


''E.. aku akan mempersiapkan diri untuk setahun yang akan datang.'' jawab Erin dengan rasa takutnya.


Edgar menghembuskan nafasnya kasar.


''Mereka yang akan menjalani, Nak. Ini hidup mereka, adik kamu dan Jimmy. Ayolah ...'' bujuk mami.


''Satu tahun yang akan datang itu juga terlalu cepat, Mi! tidak bisakah sepuluh tahun lagi?'' balas Edgar membuat semuanya melotot.


''Mass!'' bisik Mentari dengan suara yang ia tekankan.


Tuan Erick tampak menggelengkan kepalanya pelan lalu memijat pelipisnya yang terasa pusing itu.


''Apa jangan-jangan kamu cemburu dengan Jimmy yang akan membagi waktunya untuk Erin?'' tebak mami. Tatapan matanya pun sangat tajam.


''Papi jadi curiga.'' sambung tuan Erick ikut menatap putranya itu.


Edgar langsung menatap ke arah Jimmy.


''Hiiihh amit-amit!!!'' pekik Edgar.


''Saya juga tidak akan pernah bisa menerima cinta anda, Tuan. Maafkan saya, Tuan.'' ujar Jimmy semakin membuat Edgar naik darah.


Semua hampir melepaskan tawanya, kecuali Edgar. Edgar langsung tidak mau menatap Jimmy.


''Begini ... Edgar, Mentari, Erin, dan Jimmy. Khususnya untuk kamu, Jim ... intinya saya menerima apa yang sudah kamu ungkapkan.'' ujar tuan Erick.


Jimmy mengangguk. ''Terima kasih, Tuan.''


''Dan untuk Edgar, papi mohon untuk Mentari yang mengendalikannya.''


''Baik, Pi.'' jawab Mentari.


''Aku baik-baik saja.'' sahut Edgar.


Demi menjaga kenyamanan pada perdiskusian malam hari ini, Mentari langsung membujuk sang suami agar mau ia ajak ke atas. Setelah melakukan rangkaian merayu, akhirnya Edgar pun nurut.

__ADS_1


Dua jam kemudian, Jimmy sudah kembali ke apartemennya. Ia bernafas sangat lega karena sudah menyampaikan isi hatinya pada seseorang yang penting untuk masa depannya.


Senyum itu terus terukir di sudut bibirnya. Ia tidak terlalu memusingkan respon dari Edgar, karena ia sudah paham di balik respon itu, tak lebih dari kasih sayangnya kepada sang adik.


__ADS_2