
Setelah selesai makan siang dan istirahat, mereka berkumpul di ruang tengah. Obrolan di buka oleh tuan Erick yang membahas mengenai cabang perusahaan yang sudah rampung dan siap beroperasi.
"Nanti kita semuanya akan datang pas acara.'' ujar papi.
''Kandungan kamu baik-baik saja 'kan, sayang?'' tanya mami pada menantunya itu.
''Iya Mi.'' jawab Mentari.
''Nanti kita datang kesana pakai private jet biar tidak menghabiskan waktu yang lama.'' ujar tuan Erick.
Semua menjawab dengan anggukan kepala tanda menyetujui.
Satu jam obrolan mereka, antara kakak beradik itu masih belum ada yang membuka pembicaraan. Mereka masih tetap saja saling lirik-lirikan seperti tengah bermusuhan. Mentari yang sudah mengetahui pun hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
''Ya sudah Mami sama papi mau istirahat dulu ya, kalian juga istirahat.'' ujar mami.
''Iya Mi.'' jawab Mentari yang mendapatkan usapan lembut di bahunya dari mami.
Sekarang hanya tinggal mereka bertiga, antara Edgar, Mentari, dan Erin. Erin yang sudah kelimpungan menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu.
''Emmm, aku ke kamar dulu, bye Kakak-kakak.'' ucap Erin yang sudah salah tingkah itu langsung berlari menuju kamarnya.
Sejak pertemuannya dengan sang kakak, Erin maupun Edgar sama-sama belum berbicara. Hanya interaksi antar bathin. Erin dengan rasa ketakutannya, sementara Edgar dengan rasa yang sudah mengancam, meskipun hanya melalui sorot matanya.
Mentari menatap adik iparnya yang tengah berlari itu, lalu beralih menatap sang suami yang berada di sebelahnya.
''Kamu nggak ke kantor lagi, Mas?'' tanya Mentari pelan.
''Kamu ngusir aku?'' balas Edgar.
''Iya, KERJA KERJA KERJA!'' jawab Mentari cepat dengan suara pelan tetapi setiap kata ia tekankan.
Edgar terkekeh kecil. ''Sudah ada meeting tadi pagi, sayang. Sekarang ada Jimmy yang masih di kantor.'' jelas Edgar.
''Kok Jimmy nggak di ajak kesini, Mas?'' goda Mentari yang sengaja membuat Edgar langsung merubah raut wajahnya.
Mentari terkekeh kecil melihat perubahan ekspresi di wajah sang suami. Ia mencubit gemas hidung mancung Edgar.
''Jangan emosi, kan sudah kasih lampu hijau.'' ujar Mentari mengingatkan.
Edgar membuang nafas panjang ke udara, lalu terdiam beberapa detik.
__ADS_1
''Ke kamar yuk, mari kita bekerjasama.'' ajak Edgar lalu mengedipkan satu matanya.
Demi kedamaian hati sang suami, Mentari langsung mengiyakan ajakan tersebut. Keduanya langsung menuju kamar, tempat ternyaman bagi mereka.
Erin menutup dan mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang tiba-tiba masuk dan membuatnya terkejut. Ia benar-benar was-was dengan kakaknya sendiri. Sejak tadi sudah mondar-mandir di depan ranjang tidurnya dengan mengigit bibirnya sendiri.
''Ternyata begini rasanya menjalani hubungan dengan pengawalan ketat dari orang terdekat.'' gumam Erin.
Setelah lelah mondar-mandir, Erin menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia menatap ke langit-langit kamar, seolah-olah ada rangkaian kata yang sedang ia baca. Bibirnya terus bergerak seperti sedang membaca tulisan. Padahal ia sedang merangkai kata-kata yang akan ia katakan pada kakaknya itu.
''Hey Kakakku yang tampan, gimana kabarnya?''
Hahaha
''Kakaakkk!''
''Kakak, terima kasih kado wisudanya. Thank you so much my brother.''
''Arrgghh!!'' Erin mengacak-acak rambutnya sendiri dan kembali berpikir untuk memilih mana yang akan ia katakan langsung dari beberapa kalimat yang sudah ia uji coba itu.
Kini bayangannya beralih pada sang kekasih, ia pun menjadi berubah tersenyum lebar. Namun, jantungnya langsung berdegup kencang. Seakan-akan Jimmy akan mendatanginya sekarang.
Erin beranjak dari sofa, ia hendak ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Saat tiba di depan cermin, ia menghentikan langkahnya, ada suatu bayangan yang membuatnya terhenti. Ia pun langsung menoleh ke arah cermin.
''Hiihh! bisa-bisa kak Jimmy kabur kalau lihat aku seperti ini!''
Erin pun bergidik ngeri menatap dirinya sendiri dan langsung mempercepat langkahnya untuk ke kamar mandi.
Sementara itu, di kamar Edgar dan Mentari, mereka tidak jadi melakukan apa-apa selain hanya menonton televisi sembari menikmati jus mangga.
Awalnya Edgar sudah siap untuk meminta jatah lagi, tetapi tiba-tiba Jimmy menghubunginya untuk membahas tentang pekerjaan. Alhasil niatnya pun gagal karena ia harus menghidupkan laptopnya lagi untuk membuka file-file pekerjaannya. Mentari yang melihat ekspresi wajah kesal sang suami pun hanya bisa menahan tawanya. Namun, meskipun kesal, Edgar tetap melakukan pekerjaan dengan baik.
''Aku suka sama drama itu, Mas. Bagus 'kan?'' ujar Mentari dengan matanya yang masih tetap menatap layar televisi.
''He'em.'' jawab Edgar yang tidak begitu suka dengan drama-drama. Tapi, demi sang istri, ia harus rela menemani nonton.
Drama yang mereka tonton pun akhirnya selesai. Edgar mengambil alih remote yang ada di pangkuan Mentari.
''Kok dimatikan sih, Mas?!'' protes Mentari dengan bibirnya yang mengerucut karena masih ingin menonton.
''Bosan.'' jawab Edgar santai.
__ADS_1
Mentari mendengus kesal. Tiba-tiba Edgar memeluknya sangat erat.
''Aku sangat mencintaimu, sayang.'' ucap Edgar yang tak pernah merasa bosan untuk mengucapkan pada sang istri.
Mentari pun tersenyum.
''Aku juga sangat mencintaimu, suamiku.'' balas Mentari.
Wajah keduanya sama-sama bergerak maju, lalu pemanasan mesin pun dilakukan terlebih dahulu, dan tak lama kemudian terjadilah adegan cocok tanam yang sempat tertunda karena tiba-tiba cuaca tidak mendukungnya.
-
Malam hari, keluarga Raymond tengah menikmati hidangan makan malam bersama seperti biasanya tanpa bersuara, kecuali hanya suara sendok dan garpu. Mereka menyantap makanan dengan sangat lahap. Erin yang duduk di samping Mentari pun masih terasa ketar ketir.
Selesai menikmati makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Masih sama saja antara Edgar dan Erin yang belum terlibat percakapan.
''Oh, ya, kenapa Jimmy belum datang kesini?'' tanya mami.
''Apa dia belum tau kalau kami datang hari ini?'' sambungnya.
Erin hampir saja tersedak mendengarkan mami menyebut nama kesayangannya itu. Untung saja masih bisa ia tahan.
''Sudah tau kok, Mi. Besok dia kesini, karena hari ini masih banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan, apalagi tadi aku pulang lebih awal.'' jelas Edgar lalu melirik sekilas ke arah adiknya itu.
''Dih! anak kecil senyum-senyum sendiri!'' bathin Edgar yang kesal sendiri.
Lagi-lagi Mentari menangkap adegan lirikan itu, ia langsung berdehem sehingga membuat kakak beradik itu mendongak.
''Nanti jadi photoshoot wisuda disini?'' tanya Mentari mengalihkan pembahasan tentang Jimmy.
''Jadi dong, Kak.'' jawab Erin.
''Kalian juga bikin baju yang sama, 'kan?'' tanya mami.
Mentari mengangguk.
''Iya Mi, masih tersimpan rapi di lemari.'' jawab Mentari.
Membahas wisuda langsung membawa ingatan Edgar tentang Jimmy yang diminta Mentari untuk mewakili keduanya datang memberikan kejutan pada Erin.
''Btw, terima kasih ya Kak Edgar dan Kak Mentari untuk kado wisudaku, aku sangat suka.'' ucap Erin memberanikan diri. Ia pun langsung memeluk kakak iparnya itu tanpa ragu.
__ADS_1
Mentari tersenyum. ''Sama-sama, adikku yang cantik.'' balas Mentari.