
Dini sangat senang mendapatkan kabar bahwa keluarga Raymond akan bertemu dengan keluarganya. Apalagi memilih tempat di restonya, ini akan menjadi sebuah sejarah yang sangat penting di perjalanan bisnisnya.
Informasi itu langsung ia teruskan kepada suaminya dan juga kepada kepala pekerjanya agar segera mengatur jadwal untuk besok malam.
Kesibukannya setelah menjadi seorang istri dan juga seorang ibu dengan anak yang masih kecil memang luar biasa. Namun, justru karena anaklah semangatnya semakin meningkat. Karena ada masa depan yang harus diperjuangkan agar anaknya hidup sangat layak.
°°
"Eitss pelan-pelan jalannya, sayaang..!''
''Bentar-bentar tunggu Mami kesitu.''
Wanita itu langsung berjalan cepat menuju tangga.
Langkah Mentari terhenti saat menuruni anak tangga bukan karena sesuatu yang membahayakan. Tetapi justru suara ibu mertuanya yang baru masuk ke dalam rumah setelah pertemuan dengan teman-temannya itu membuatnya terkejut.
Namun, karena yang di hadapinya adalah ibu mertua. Mentari hanya bisa nyengir tanpa berani melakukan protes.
''Ini sudah pelan-pelan kok Mi..'' ujar Mentari ketika mami sudah berada di dekatnya.
''Mami tidak mau kalian kenapa-kenapa.'' ujar mami seraya menuntun menantunya itu menuruni anak tangga.
''Terimakasih ya Mi karena selalu mengkhawatirkan kami.'' ucap Mentari.
''Ah tentu sayang.''
__ADS_1
''Mau kemana sih?'' tanya mami.
Keduanya berhenti setelah sampai di lantai dasar.
''Mau ke dapur Mi, tadi abis dari kamar Erin.'' jawab Mentari.
''Nggak papa kan Mi kalau saya ikut bantu-bantu di dapur? karena daripada di kamar terus juga tidak enak.''
Mami mengusap lembut rambut menantunya itu.
''Iya boleh. Hari ini Mami juga ingin memasak, tapi, Mami mau ganti baju dulu.''
''Nanti kita masak sama-sama.''
Mendapatkan izin dari ibu mertua membuat Mentari sangat senang.
Mami langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Mentari melanjutkan langkahnya ke dapur.
Tak lama kemudian, mami juga menyusul ke dapur di ikuti oleh putri bungsunya. Mentari pun terlihat akrab dengan para pekerja. Walaupun sejak kejadian itu membuatnya jauh lebih waspada lagi terhadap siapapun. Namun, ia tak mau menampakkan kewaspadaannya.
°°
Makan malam keluarga Raymond dengan formasi lengkap. Momen seperti ini menjadi jarang sekali terjadi karena terpisah oleh jarak yang jauh.
Menu makan malam ini di olah langsung oleh mami. Wanita itu merindukan dengan peralatan dapur, sehingga sejak pagi sudah meminta kepada para pekerja untuk tidak memasak karena dirinya sendiri yang akan membuat masakan untuk makan malam ini.
__ADS_1
''Masakan Mami memang top.'' puji Mentari setelah selesai makan.
''Benarkah?'' tanya mami.
Mentari mengangguk lalu mengacungkan dua jempolnya.
''Waahh senangnya.'' balas mami.
Semua pun langsung terkekeh melihat ekspresi wajah mami yang kesenangan setelah mendapatkan pujian dari anak menantu.
°°
''Kami sudah terlalu banyak menunda waktu, kalian harus lebih berhati-hati, tingkatkan kewaspadaan terhadap siapapun. Saat kami sudah kembali ke luar negeri, Papi tidak ingin mendengar kabar buruk seperti kemarin lagi.'' ujar papi.
''Iya Pi. Kami akan belajar banyak hal tentang kejadian kemarin.'' jawab Edgar.
''Untuk mantuku, jangan pernah memaksa untuk keluar rumah tanpa suamimu ya.''
Mentari mengangguk. ''Baik Pi.''
''Bukan apa-apa, karena kejahatan bisa saja terjadi jika ada kesempatan.''
Mentari kembali mengangguk.
"Baik Pi."
__ADS_1
''Kenapa rasanya berat untuk balik lagi?'' bathin Erin setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya.