Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 210 : Ternyata Aku Masih Hidup


__ADS_3

Saat Rita dibawa ke ruangan operasi, ia hanya diam dengan menatap lurus, bahkan tidak berkedip. Dua rasa tentang kesembuhan dan juga pasrah jika operasinya tidak berjalan dengan mulus.


''Aku harus kuat.'' bathinnya. Ia lalu menoleh sekilas, melirik ke petugas yang mendorong ranjangnya.


Sekilas kedua mata Rita menangkap tulisan "Ruang Operasi". Petugas membawanya masuk ke dalam ruangan itu. Ia memejamkan matanya kuat sembari mengatur pernafasannya agar tidak semakin gugup saat melihat perlengkapan untuk operasi.


''Saya takut.'' gumam Rita.


Dokter pun langsung mengusahakan untuk ketenangan Rita agar operasi segera dilakukan. Dokter meminta Rita untuk membayangkan hal-hal positif yang akan digapainya ketika sudah sehat.


Rita memejamkan matanya dan terus menuruti saran dari dokter. Segala hal bermunculan untuk menguatkannya.


''Dok, bolehkah saya meminta kertas dan pena?''


Salah satu asisten dokter mengambilkan yang Rita minta. Rita menerimanya dengan tersenyum tipis. Ia menuliskan sesuatu disana.


...''Aku sangat takut, tapi, aku tetap akan melakukannya. Aku ingin sehat dan menggapai harapan terbesarku. Terima kasih banyak untuk semua kepedulian terhadap kesehatanku. Jangan berhenti mendo'akanku.''...


...RITA...


''Boleh saya minta tolong lagi.'' ujar Rita.


''Silahkan.'' jawab dokter.


''Tolong berikan ini pada siapapun diantara mereka yang menunggu di depan ruangan.'' pinta Rita


Asisten dokter itu langsung menerima kertas dari Rita, lalu membawanya ke luar.


''Permisi, anggota keluarga Rita!'' seru asisten dokter itu.


Kebetulan yang sudah berada disana masih Vika saja. Gadis itu langsung beranjak dari tempat duduknya.


''Iya, saya.''


''Ini ada titipan darinya.''


Vika langsung menerima kertas itu.


''Terima kasih.'' ucap Vika.


Asisten dokter itu mengangguk lalu kembali masuk ke dalam dan menutup pintu ruangan.


Edgar, Mentari, dan Jimmy menyusul Vika yang sudah lebih dulu menunggu proses operasi Rita.


Mentari langsung duduk di sebelah Vika. Gadis itu tampak sungkan. Namun, Mentari terus berusaha untuk mengajaknya mengobrol hingga Vika menyadari bahwa tidak ada yang berubah dari sosok Mentari.


''Ada titipan dari Rita. Tadi petugasnya yang antar.'' ujar Vika.


Ketiganya langsung menoleh.


''Apa?'' tanya mereka bersamaan.


Vika menunjukkan kertas yang sudah ia baca terlebih dahulu.


Mentari menerima lebih dulu karena ia yang duduk lebih dekat dengan Vika.


''Gadis baik, gadis kuat, kamu pasti bisa, Rita!!'' gumam Mentari dengan suara yang menekan namun, terdengar bergetar.


Mentari memberikan kertas itu pada Edgar yang dibaca bersama dengan Jimmy. Keduanya kompak menarik nafasnya dalam-dalam.


Mereka semuanya langsung terdiam, sesekali menatap pintu ruangan itu.

__ADS_1


Setelah lima belas menit, Mentari membuka obrolan kembali bdengan Vika, meskipun dulunya mereka tidak begitu akrab, karena Mentari lebih sering kemana-mana dengan Rita saja. Vika tetap mengenal Dira merupakan teman yang baik, karena ia juga tau bahwa Mentari seseorang yang tidak banyak berbicara.


''Gimana kabar teman-teman di kantor, Kak?'' tanya Mentari.


''Kabar baik semuanya, Dir. Maaf, maksudnya Mentari hehe'' jawab Vika.


Mentari tertawa kecil karena masih ada yang kepeleset dalam menyebutkan nama panggilannya sekarang.


''Tenang, Kak Vika bukan orang pertama yang salah menyebut nama panggilanku kok.'' ujar Mentari.


''Iya nih, apa aku harus memanggilmu, Bu? Nona? Nyonya muda?'' balas Vika.


''Ah, tidak perlu, Kak. Panggil saja Mentari, biar tetap nyaman ke sesama teman.'' tolak Mentari dengan alasannya. Karena dirinya pun akan merasa canggung.


''Ohh, gitu ... iya deh, iya.''


Sementara Mentari dan Vika sedang mengobrol, Edgar dan Jimmy duduk di bangku tunggu yang tidak jauh. Sesekali Edgar melirik ke arah sang istri karena merasa di cueki. Ia duduk bersebelahan dengan Jimmy seperti aneh. Semua itu berawal ketika Jimmy mengungkapkan dirinya hendak menjadi pasangan Erin.


Ketika melihat Jimmy, dipikiran Edgar langsung muncul sang adik yang bersanding dengan pria yang saat ini ada di sebelahnya itu. Masih belum siap jika harus dipaksa untuk memikirkan hal itu.


Edgar menangkap sang istri yang sedang berbincang hangat dengan Vika, sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman karena sang istri bisa bercengkrama dengan temannya yang sudah lama tidak bertemu. Obrolan itu juga untuk menutupi rasa cemas mereka menunggu proses operasi Rita.


''Sebenarnya aku bingung kenapa tidak ada keluarga Rita.'' ujar Vika lirih.


''Sama, Kak. Tapi, dengan kondisinya yang seperti itu, aku rasa bukan waktu yang tepat untuk menanyakan sekarang.'' balas Mentari.


Vika mengangguk.


''Iya, kamu benar, Mentari.'' jawab Vika.


Keduanya langsung menghela nafas panjang. Masih menunggu hasil operasi Rita.


''Sayang, kamu capek ya?'' tegur Edgar.


''Sini.''


''Nggak papa kok, Mas.'' jawab Mentari sedikit berbohong. Karena ia tidak enak jika meninggalkan Vika sendirian di kursi yang sekarang mereka tempati.


Edgar langsung duduk di kursi kosong sebelah Mentari. Melihat itu, Vika langsung bergeser karena merasa canggung.


''Maaass.'' bisik Mentari.


''Aku tau punggungmu pasti sudah nggak enak.''


''Nggak papa kok, belum lama juga.'' jawab Mentari.


''Janji ya nanti setelah memastikan operasi Rita selesai, kita langsung pulang.'' ujar Edgar.


Mentari tidak menjawab. Rasanya ingin menemani Rita disini. Tapi, ia juga tidak mau egois.


''Jimmy sudah memerintahkan seseorang untuk menjaga Rita. Mereka dua orang yang gantian.'' jelas Edgar.


''Tapi, kamu janji kasih penjelasan tentang Rita ke aku.'' pinta Mentari sembari menatap mata Edgar.


Edgar tidak bisa langsung memberikan jawaban. Ia beralih menatap Jimmy yang tidak menatapnya.


''Iya.'' jawab Edgar.


Mentari langsung tersenyum.


Penantian itu akhirnya terjawab dengan sebuah senyuman dan helaan nafas lega. Operasi Rita selesai dan berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Mentari dan Vika langsung saling berpelukan dengan air mata yang terus mengalir atas rasa syukur ini.


''Sebentar lagi akan dipindahkan.'' ujar petugas medis itu.


Tak lama kemudian, Rita dibawa keluar dari ruangan operasi. Mentari menyambutnya di depan pintu dan langsung memeluk Rita.


''Ternyata aku masih hidup.'' gumam Rita.


''Kami terus mendo'akan kamu agar hidupmu lebih panjang dan lebih sehat lagi.'' ujar Mentari lirih.


''Terima kasih, Kak Vika ... Bu Bos, Tuan Edgar, dan juga Tuan Jimmy.'' ucap Rita dengan suara yang masih lemas.


Mereka menyingkir, petugas membawa Rita yang masih dalam pengaruh obat bius itu ke ruangan rawat.


Keempatnya mengikuti dari belakang dengan berjalan cepat, kecuali Edgar dan Mentari yang berjalan pelan.


''Boleh saya minta tolong kamu tetap berada disini.'' ujar Edgar pada Vika.


''Tentu saja, Tuan. Saya akan menemani Rita.'' jawab gadis itu.


''Sebenarnya aku juga ingin tetap disini, Kak. Tapi, itu tidak mungkin dengan keadaanku yang sedang hamil. Bau obat-obatan itu bikin kepalaku pusing.'' timpal Mentari.


"Aku minta nomor Kakak." sambungnya.


''Iya, kamu harus menjaga kesehatanmu. Jangan khawatir soal Rita.'' balas Vika sembari memberikan nomor ponselnya.


''Terima kasih, Kak.'' ucap Mentari yang mendapatkan anggukan dari Vika.


Mereka langsung masuk ke dalam ruangan untuk menemui Rita. Gadis itu tampak tersenyum melihat kedatangan mereka.


Dokter yang menangani operasi Rita menyusul ke ruangan itu. Ia memberikan penjelasan mengenai efek yang biasanya dialami oleh pasien pasca operasi. Tidak semuanya sama terjadi pada pasien, ada yang sangat kuat. Dokter tersebut pernah mendapati pasien yang setelah operasi berbicara seperti orang ngigau, berbicara dengan tidak kejelasan, namun, kedua matanya terbuka.


''Semoga nona Rita termasuk pasien yang kuat.'' ucap dokter tersebut.


''Aamiin.'' jawab mereka bersamaan.


''Saya permisi.'' ucap dokter tersebut.


Mentari mendekati ranjang dimana Rita berbaring.


''Rita, aku senang semuanya berjalan lancar. Kami yakin kamu orang yang kuat. Kamu bisa melewati semua rasa takutmu.'' ucap Mentari lirih dengan suaranya yang bergetar.


Rita hanya tersenyum tipis seperti orang bingung.


''Maafkan aku nggak bisa lama-lama disini, besok aku datang lagi buat jenguk kamu.''


''Iya.'' jawab Rita singkat. Tetapi airmatanya menetes hingga jatuh di bantal.


Mentari sangat sedih melihatnya. Ia langsung mundur.


''Terima kasih, Kak Vika. Aku pamit pulang dulu ya.'' ucap Mentari.


''Hati-hati dijalan. Kamu jangan banyak pikiran, jaga kesehatan kamu.'' balas Vika.


Mentari mengangguk. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


''Tolong diterima ya, Kak. Kakak menjaga orang sakit juga harus menjaga kesehatan. Jangan telat makan.'' Mentari menyerahkan beberapa lembar uang merah.


''Tidak usah, Mentari. Tidak perlu repot-repot, aku sudah ada.'' tolak Vika.


Mentari tetap memaksa dan akhirnya Vika pun menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2