Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 234 : Ya Sudah Nikah Yuk


__ADS_3

Acara peresmian sudah selesai, hari ini waktunya untuk kembali ke kota. Namun, keberangkatan masih siang hari nanti. Sedangkan saat ini masih waktu subuh. Langit pun masih tampak gelap, hanya gemerlap bintang di langit serempak menunjukkan sinarnya karena cuaca masih cerah.


Mami, Mentari, dan Erin membantu bu Mun yang sedang sibuk di dapur. Hari kemarin dan hari ini, wanita itu pasti sangat sibuk karena akan kedatangan bosnya yang baru pertama kalinya bertemu itu.


Sembari menyiapkan untuk sarapan pagi ini, mereka saling mengobrol agar pekerjaan terasa lebih ringan.


''Sayang, ayo jalan pagi.'' ajak Edgar lalu mengambil air mineral dari dispenser, kemudian meneguknya hingga tersisa gelas, karena Edgar tidak suka makan gelas.


''Emm,''


Mentari langsung menoleh ke arah mami karena tidak enak jika harus meninggalkan aktivitas pagi yang belum selesai itu.


''Biar Mami aja yang bantuin bu Mun, sama Erin juga temani Kakak-kakak kamu.'' ujar mami menatap Mentari dan Erin bergantian.


''Maaf Mi.'' ucap Mentari lirih.


''It's okay, sayang, pergilah.'' balas mami.


Mentari pun langsung beranjak dari dapur, diikuti oleh Erin yang juga diminta mami untuk menemani kakak-kakaknya.


Erin celingukan mencari sosok Jimmy yang belum ia jumpai pagi ini. Padahal mereka berada di dalam rumah yang sama.


''Mungkin kak Jimmy masih tidur.'' bathin Erin.


Embun pagi masih membasahi dedaunan yang hijau. Hawa dingin masih menembus sampai tulang. Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul setengah enam lebih.


''Dari mana, Jim?'' tanya Edgar.


Erin yang tadi berjalan sembari menunduk pun langsung mengangkat wajahnya karena mendengar sebuah nama yang ia cari. Seketika itu bibirnya langsung menyimpulkan senyumnya.


''Jalan-jalan lihat sekitar, Tuan.'' jawab Jimmy.


''Aku nggak di ajak.'' bathin Erin.

__ADS_1


''Oh, gabung lagi aja sama kita.'' ajak Edgar.


Erin langsung menatap ekspresi wajah kakaknya itu.


''Nggak salah nih?'' bathin Erin ketika melihat raut wajah kakaknya yang tampak ikhlas untuk mengajak Jimmy saat ada dirinya.


Edgar langsung menggandeng tangan Mentari untuk berjalan santai lebih dulu meninggalkan Jimmy dan Erin yang masih diam mematung dengan tatapan herannya.


''Ayo ... tunggu apa lagi?'' ujar Jimmy lirih pada kekasihnya itu.


''Eh!''


Erin menatap tangannya yang tiba-tiba di gandeng juga oleh Jimmy. Jangan tanyakan apa kabar jantungnya saat ini. Mereka terus berjalan santai, mengikuti langkah pasangan suami istri yang sudah beberapa langkah di depannya.


''Gimana?''


''Lebih nyaman 'kan kalau hubungan dijalani dengan kepastian restu dari orang-orang terdekat kita?'' tanya Jimmy.


"Iyaaa, iyaaaaa." jawab Erin.


"Jangan marah, Kakak hanya ingin kita tidak berjalan terus menerus di dalam persembunyian itu." balas Jimmy.


Erin mengangguk sembari tersenyum.


Dari dalam kamar, pria paruh baya itu menatap dari balik jendela yang menghadap ke arah depan. Bibirnya tersenyum tipis melihat anak-anaknya di luar sana.


''Papi bersyukur melihatmu menjadi pria yang benar-benar mencintai istrimu saja, Edgar.'' gumamnya.


Papi tersenyum tipis lagi. Tatapan matanya beralih pada Jimmy yang menggandeng tangan Erin.


''Dan Papi bersyukur karena kamu bertemu dengan seseorang yang mencintaimu dengan keberaniannya.'' gumamnya.


Sebuah tarikan nafas panjang keluar dari mulut tuan Erick. Menatap anak-anaknya yang sedang jalan-jalan pagi menikmati suasana daerah tersebut membuatnya tersenyum.

__ADS_1


''Di sisa hidup Papi ini, Papi hanya ingin memastikan kalian bahagia. Papi tidak ingin kalian menjadi korban atas kesalahan yang pernah Papi lakukan.''


Di balik sikap kakaknya, Erin tetap bertanya-tanya kenapa kakaknya itu bisa dengan mudah bersikap manis.


Biasanya juga tetap akan tidak nyaman melihat Erin dan Jimmy, meskipun ada Mentari disampingnya. Tapi, kali ini ia dan Jimmy dibiarkan jalan bersebelahan. Bahkan sejak tadi Edgar tidak menoleh-noleh ke belakang.


Merasa tidak nyaman, genggaman tangan Jimmy di jemarinya tak lama kemudian Erin lepas.


''Maaf Kak, nggak enak dilihat sama orang-orang.'' bisik Erin.


Jimmy tersenyum.


''Kalau mereka?'' balas Jimmy dengan menunjuk Edgar dan Mentari menggunakan ekor matanya.


Erin pun mengikuti arah tatapan mata Jimmy.


''Kalau mereka 'kan sudah nikah, jadi nggak apa-apa.'' jawab Erin masih dengan suara yang berbisik.


''Ya sudah nikah yuk.'' canda Jimmy.


Pug!


Sebuah timpukan dari Erin spontan mendarat di lengan Jimmy. Membuat pria itu langsung nyengir sembari mengusap-usap lengannya sendiri.


''Kata papi 'kan tahun depan.'' jawab Erin.


''Kalau Kakak maunya sekarang, gimana dong?'' canda Jimmy lagi.


"Aku belum siap." jawab Erin lalu menutup lurus ke depan.


"Kakak tunggu siapnya." bisik Jimmy.


Erin mengangguk dengan raut wajahnya yang malu-malu. Mereka yang sudah cukup berkeringat pun memutuskan untuk kembali lagi ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2