
''Permisi.'' ucap seseorang itu dengan tangannya yang masih memegang pintu.
Edgar dan Jimmy langsung berdiri. Edgar langsung menerobos badan Jimmy untuk mendekati pintu, sehingga punggung Jimmy hampir saja terbentur sofa.
''Sayang, kok ada disini?'' tanya Edgar lirih dengan tatapan menyelidik.
Mentari menatap mata sang suami tanpa memberikan jawaban, lalu beralih menatap Rita yang langsung duduk saat terkejut dengan kedatangannya.
''Kenapa tidak ada yang kasih tau aku?'' tanyanya.
''Kenapa kamu menyembunyikan hal penting ini dari aku?''
Mentari menatap tajam pada Edgar dan Jimmy secara bergantian.
''Sa-sayang, maaf.'' ucap Edgar.
Mentari langsung mendekati ranjang dimana Rita berada. Ia langsung memeluk Rita dengan erat.
''Maaf, maafkan aku, Rit. Selama ini aku menjadi teman yang tidak peka terhadap sakitmu.'' ucap Mentari saat tengah memeluk Rita.
Rita langsung tidak bisa menahan isak tangisnya. Ia membalas pelukan itu dengan erat.
''Aku sengaja menyembunyikan dari semuanya, ternyata Tuhan tidak mengizinkan aku melangkah sendirian. Tuan Jimmy tau tanpa sengaja, dan tuan Edgar memberikan dukungan. Maafkan aku.'' ucapnya.
''Maaf, aku yang memohon pada mereka untuk tidak menyampaikan hal ini ke kamu. Karena aku tau, apa yang kamu rasakan selama ini tidaklah mudah, Dir. Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan yang sekarang kamu rasakan. Apalagi kamu sedang hamil, kami harus selalu sehat, untuk kamu sendiri dan juga kandunganmu.''
Mentari mengurai pelukannya dengan menatap kedua mata Rita.
''Aku baik-baik saja, Rita. Aku datang kesini untuk memberikan dukungan penuh untuk kesehatan kamu.'' ujar Mentari dengan semangat.
''Jangan khawatir, jangan pernah merasa sendiri. Kita semua harus sehat dan bahagia.''
''Terima kasih, Bu Bos.'' ucap Rita yang mendapatkan anggukan dari Mentari.
Sama halnya dengan Vika, Mentari juga bertanya-tanya dimana keberadaan keluarganya yang tidak ada sama sekali. Namun, itu bukan hal yang tepat untuk dibahas sekarang. Sekarang harus menjaga mental Rita agar tidak down menjelang waktu operasinya yang tidak lama lagi.
Mentari mengalihkan pandangannya pada gadis yang berdiri disisi ranjang.
''Apa kabar, Kak Vika?'' tanya Mentari langsung cipika cipiki.
''Oh, baik, kabarku baik.'' jawabnya gugup karena sedang berhadapan dengan teman yang sekarang sudah berubah menjadi istri pimpinan mereka.
''Syukurlah, Kak.''
''Selamat siang.'' ucap dokter yang baru saja masuk.
''Siang, Dok.'' jawab semua yang ada di ruangan itu serempak.
''Ternyata sudah kumpul, Nona Rita akan segera dibawa ke ruangan operasi.'' ujar dokter tersebut yang masuk membawa dua asisten.
''Semangat!''
''Kamu pasti bisa, OKE!''
Tangan Mentari dan Vika menggenggam tangan Rita dengan erat untuk memberikan semangat. Rita mengangguk yakin.
__ADS_1
''Terima kasih, Kak Vika ... Bu Bos. Aku akan sembuh untuk kalian semua.'' jawab Rita.
Kedua wanita itu langsung melepaskan genggaman tangannya. Petugas membawa Rita ke ruangan operasi. Vika langsung mengikuti petugas tersebut dari belakang dan akan menunggunya di depan ruangan.
Sementara itu, Edgar menahan sang istri karena sudah membuatnya terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba dan membuatnya bertanya-tanya. Ia tidak menceritakan apapun mengenai Rita pada sang istri.
Awalnya Jimmy menduga datangnya Mentari ke rumah sakit ini karena Edgar yang sudah membocorkannya. Tetapi saat melihat ekspresi keterkejutan di wajah Edgar ketika Mentari membuka pintu ruangan itu, membuat Jimmy juga penasaran.
''Siapa yang membawamu kesini, sayang?''
''Siapa yang membocorkan tentang hal ini ke kamu?'' tanya Edgar lirih. Tapi, Jimmy yang berdiri tidak jauh dari mereka masih bisa mendengar dengan jelas.
''Aku dengar dari kamu, Mas.'' jawab Mentari.
''Aku?!'' pekik Edgar tak percaya sembari menunjuk pada dirinya sendiri.
Jimmy pun juga langsung menoleh dan menatap bosnya itu.
''Sumpah, bukan aku, Jim!'' bantah Edgar yang sadar akan tatapan Jimmy.
Edgar langsung beralih menatap sang istri.
''Kapan aku membicarakan hal ini ke kamu, sayang?''
Edgar benar-benar tidak merasa seperti yang dikatakan oleh Mentari. Setelah mendengar dari Jimmy pun, Edgar yakin masih mengingat bahwa dirinya tidak membicarakan hal itu pada siapapun, termasuk Mentari.
''Hmmm.'' Mentari menghela nafas panjang.
''Sudah-sudah, kalian jangan berantem.'' cegah Mentari.
''Kemarin sore.'' sambung Mentari menjawab rasa penasaran Jimmy yang sedang menatap ke arah atas untuk mengingat-ingat.
''Ooooooooo.'' jawab Edgar dan Jimmy bersamaan dengan bibir membulat sempurna.
Flashback on
Kemarin sore Mentari tengah mandi, dan Edgar masih bersantai di balkon sembari menunggu sang istri yang sudah mengancam tidak mau di ganggu saat mandi. Saat Mentari sudah selesai membersihkan badannya, ia berniat menyusul sang suami di balkon. Namun, ketika langkah kakinya sudah mendekati pintu, ia mendengar percakapan yang tak biasa diluar sana, sepertinya Edgar tengah menelpon seseorang.
Mentari langsung mempertajam pendengarannya.
''Jadi, operasi Rita sudah pasti setelah istirahat makan siang?'' ujar Edgar dengan seseorang di ujung telepon.
''......''
''O, ya, besok pagi kita ke kantor dulu dan tunda jadwal meeting.''
''......''
''Istriku sedang mandi, tidak mungkin dengar.'' ujar Edgar lagi sebelum mengakhiri percakapan dalam telepon itu.
Mentari mengurungkan niatnya untuk segera keluar, ia menduga kalau yang sedang berbicara dengan Edgar melalui sambungan telepon adalah Jimmy.
''Rita?''
''Ada apa dengan Rita?'' gumam Mentari yang melangkah pelan-pelan.
__ADS_1
''Apa itu Rita Nggak Pake Sugiarto?''
Mentari menatap ke arah luar.
''Kalau iya, kenapa aku tidak dikasih tau tentang apapun?''
Saat itu, Mentari berusaha untuk biasa saja, seolah tak ada kecurigaan yang sedang bergemuruh di hatinya.
Saat malam hari, ketika Edgar sudah tidur dengan nyenyak. Mentari langsung mengambil kesempatan untuk mencari tau lewat ponsel sang suami. Mentari pun langsung menutup mulutnya yang melongo ketika melihat informasi tentang Rita yang dikirimkan Jimmy melalui email.
Hal yang tidak biasa ia lakukan adalah memeriksa ponsel pasangannya, Mentari tidak menyukai hal itu. Namun, kali ini ia sedang sangat terpaksa melakukannya.
Mentari langsung kembali menonaktifkan ponsel Edgar, ia kembali ke tempat tidur bersama sang suami.
"Kenapa kalian sembunyikan ini dari aku?" bathin Mentari sembari menatap wajah Edgar yang sudah terlelap.
Keesokan harinya
Karena sudah mengetahui jadwal dan juga tempat dimana Rita dirawat, Mentari langsung meminta pada supir keluarga untuk mengantarkannya ke rumah sakit tersebut.
Dan akhirnya ia tiba di rumah sakit. Pengawal yang berjaga pun juga terkejut melihat kedatangan Mentari. Pengawal langsung mendekati Mentari yang hendak bertanya pada petugas rumah sakit.
"Maaf, Nona."
Mentari langsung menoleh.
"Dimana mereka?" tanya Mentari pada pengawal.
"Bukankah seharusnya anda tidak tau, Nona?" balas pengawal itu.
"Saya tanya dimana mereka?!" tanya Mentari lebih keras lagi.
"Apa kalian berpikir saya akan membuat kekacauan?!" lirih Mentari namun, dengan suara yang ia tekankan.
"Tapi..."
Melihat tatapan tajam dari ibu hamil yang tidak biasanya itu, pengawal pun akhirnya membocorkan informasi tentang Rita.
Flashback off
"Kalian bisa diem-diem, aku juga bisa." ujar Mentari.
"Maafkan saya, Nona." ucap Jimmy.
"Jangan marah ya, sayang. Maafkan aku." ucap Edgar yang langsung memberikan kecupan manis di kening Mentari.
Melihat pemandangan itu membuat Jimmy langsung menatap langit-langit supaya matanya tidak ternodai.
"Sabar Jiim." bathinnya.
"Ish, kamu nih, Mas. Nggak kasian sama adik ipar." protes Mentari.
Jimmy langsung nyengir lebar. Sementara Edgar melotot.
"Ssttt, jangan bahas itu." protes Edgar.
__ADS_1
Mentari langsung terkekeh dan mengacungkan jempol pada Jimmy.