Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 120 : Kamu Harus Menikahi Mychelle!


__ADS_3

Mentari mendengar kata demi kata yang terucap dari orang-orang yang ada di dalam ruangan itu (Mentari mendengar percakapan pada part sebelumnya).


Dadanya terasa sangat sesak, meskipun ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah drama yang dibuat. Namun, dari hal inilah, Mentari semakin menyadari bahwa hidup bersama seseorang yang sudah memiliki nama besar itu sangat tidak mudah.


''Kak Dira pasti kuat.'' ujar Dini lirih menguatkan.


Mentari mengangguk lalu tersenyum tipis kepada Dini.


Di dalam ruangan itu masih tetap bersitegang antara ibunya Mychelle dan juga pengacara Edgar.


''Begini Bu, klien kami sudah menjelaskan bahwa kecelakaan itu tidak sengaja. Saat kejadian tiba-tiba putri anda yang berlari-lari lalu menabrak mobil klien kami. Dan, klien kami tetap bertanggung jawab atas hal itu. Biaya rumah sakit ini akan beliau tanggung sampai benar-benar putri anda sehat.'' tegas pak Ikhsan.


''Anda pikir putri saya kurang kerjaan lari-larian di jalanan?!'' protes wanita itu.


''Coba anda tanyakan kenapa putri anda berlarian di jalanan itu?''


''Maaf Pak Ikhsan, saya potong pembicaraan anda.'' ujar Edgar.


''Baik Tuan, silahkan jika ada yang ingin anda katakan.'' balas pak Ikhsan.


Edgar mengangguk. Lalu menatap mantan mertuanya dan juga Mychelle secara bergantian.


''Apakah ada persyaratan lain selain melanjutkan hal ini ke jalur hukum?''


"Bisakah kita menempuh jalan damai?"


Wanita itu diam beberapa saat.


''Dari pasangan yang menikah, mereka menginginkan memiliki keturunan. Sedangkan gara-gara kamu, Mychelle harus mengalami kesulitan itu!''


''Semua laki-laki pasti tidak ada yang mau menikahinya jika nantinya laki-laki yang ingin menikahi Mychelle tau kalau calon istrinya tidak bisa memiliki keturunan! semua itu gara-gara kamu!''


Wanita itu berbicara dengan menggebu-gebu dan emosional.


''Mama.. aku pasti sembuh kok, aku pasti bisa memberikan Mama cucu.'' ujar Mychelle.


Jimmy tampak muak melihat hal itu. Edgar pun juga menahan diri untuk tidak terpancing emosi karena wanita dihadapannya itu berbelit-belit, yang dipikirkannya adalah segera mencari bukti untuk ia tunjukkan pada Mentari.

__ADS_1


''Lalu, apa yang anda minta dari saya?'' tegas Edgar.


Wanita itu dan putrinya saling menatap. Mychelle terlihat menggeleng.


''Kamu harus menikahi Mychelle! kamu harus bertanggungjawab atas kejadian itu! Mychelle berhak bahagia dengan memiliki pasangan. Gara-gara kamu, dia pasti sulit diterima oleh pria lain. Dengan atau tanpa anak, kamu yang harus berada di sampingnya!''


''APA?!'' seru Edgar tidak terima dengan ide gila itu.


''Kalau kamu menolak, artinya kamu siap masuk penjara!''


Pintu ruangan yang tadinya terbuka sedikit, kini terdengar ada yang membukanya. Semua yang ada di dalam ruangan itu langsung menoleh.


''Permisi..''


Edgar terbelalak dengan mulutnya yang sedikit menganga setelah melihat kedatangan Mentari..


''Sa-yang..''


Edgar mendekati Mentari yang masih berada di tengah pintu.


''Sayang, kok kamu ada disini?'' tanya Edgar sembari meraih bahu Mentari. Namun, Mentari menepisnya.


''Permisi semuanya, maaf kedatangan saya mengganggu keseriusan diantara kalian.'' ujar Mentari.


Mychelle menatapnya sinis, begitu juga dengan mamanya.


''Selamat pagi Nyonya, Kak Mychelle..'' sapa Mentari seperti seorang yang sudah saling mengenal.


Semuanya langsung ikut terdiam dan penasaran apa yang akan dilakukan oleh Mentari kepada dua wanita itu. Edgar sangat khawatir dengan kedatangan istrinya.


''Saya turut prihatin dan meminta maaf atas kejadian kemarin, yang melibatkan suami saya.''


Mychelle terlihat tidak suka dengan Mentari yang sok akrab padanya. Ia pun melengos ke kiri.


Edgar mendekati Mentari.


''Kamu dengar semuanya?'' tanya Edgar.

__ADS_1


''Ya, aku sudah mendengar semuanya, Mas. Hmm.. aku tidak mau kamu di penjara, jadi, kalau menikahinya adalah solusi terbaik, ya silahkan.'' ujar Mentari santai.


''Hah?'' Edgar sangat terkejut dengan respon Mentari. Begitu juga dengan yang lainnya, namun tak berani berkata apa-apa.


''Silahkan kamu menikahinya tanpa menceraikan aku, dan tetap jadikan aku yang utama.''


''Kamu jangan aneh-aneh, sayang! aku nggak mau menikahinya. Kamu ini bicara apa sih?'' protes Edgar.


Mendengar Mentari memberikan lampu hijau, Mychelle menyunggingkan senyumnya.


''Aku ingin berbicara empat mata dengan Kakak Mychelle.'' ujar Mentari.


''Sayang, please..'' Edgar semakin khawatir dengan Mentari yang menurutnya aneh.


''Boleh kan, Dokter?'' Mentari mengabaikan Edgar. Ia beralih menatap seorang dokter yang sedari tadi berdiri di dalam ruangan itu.


''Silahkan Nona.''


Mama Mychelle langsung pergi terlebih dahulu. Jimmy juga sedikit menyeret Edgar agar segera keluar. Edgar sangat ragu, ia takut Mentari kenapa-kenapa.


Dini pun diam mematung di depan ruangan itu. Ia mencuri pandang ke suami Mentari. Ia sangat takut berada di situasi yang mencekam ini.


''Bukankah anda temannya Mentari yang memiliki cafe itu?''


''I-iya Tuan.'' jawab Dini gugup.


''Bagaimana kalian bisa datang bersama?'' selidik Edgar.


''Saya tidak sengaja bertemu, Tuan. Kak Dira, eh kak Mentari jalan sendiri.''


''O..'' balas Edgar.


Di dalam ruangan, Mentari langsung menarik kursi untuk ia duduki di samping Mychelle.


''Salam kenal Kak Mychelle.." ucap Mentari.


"Kenapa kamu melihat saya seperti itu?" balas Mychelle.

__ADS_1


Mentari menatap Mychelle penuh selidik, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu ujung bibirnya menyunggingkan senyuman.


__ADS_2