
Di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba lampu padam, sebagian orang panik dan bertanya-tanya.
''Lho, kenapa ini kok mati lampu?'' tanya Edgar.
Tidak lama kemudian, lampu-lampu kembali menyala dengan satu persatu sampai ke yang paling terang. Dan....
Layar besar di panggung band yang ada di dalam resto itu bertuliskan ''Happy Birthday'' dan tertulis nama Edgar.
Semua yang tidak tau apapun soal ini langsung bertepuk tangan setelah merasakan panik.
Edgar langsung berdiri dengan menangkupkan kedua telapak tangannya ke berbagai arah untuk memberikan ucapan terimakasih.
Dan Edgar pun baru menyadari, sejak tadi bagian panggung band itu tertutup tirai, dan sekarang tirai itu sudah dibuka, menampilkan dekorasi monochrome yang menjadi warna favorit Edgar. Tidak lupa kue berukuran besar dengan tema kantor juga sudah tersaji disana.
Tiba-tiba seseorang yang bertugas sebagai pembawa acara muncul dengan heboh.
''Sepertinya Tuan Edgar sungguh terkejut, bukan?''
''Sama Tuan, sepertinya saya juga terkejut haha''
Sepertinya pembawaan pembawa acara itu sedikit gemulai, meskipun begitu, ia sudah menikah dan memiliki dua orang anak.
''Untuk pemilik hari spesial, kepada yang terhormat, Tuan Edgar Raymond, silahkan bergabung bersama saya disini..'' panggilnya dengan antusias.
Semua bertepuk tangan.
Edgar langsung berdiri dan memberikan tangannya untuk mengajak sang istri maju ke panggung itu.
Edgar dan Mentari berjalan ke depan, semua tertuju pada mereka.
Pembawa acara itu menyerahkan satu buah mic tanpa kabel untuk Edgar, supaya apa yang dibicarakan bisa di dengar oleh semuanya.
''Thank you, thank you.'' ucap Edgar pada pembawa acara itu.
''Suatu kehormatan bagi saya, Tuan.'' jawabnya.
''Silahkan, Tuan.''
Pembawa acara itu mempersilahkan Edgar untuk mengatakan sepatah kata, atau banyak juga boleh.
''Selamat malam semuanya.'' ucapnya.
''Sejujurnya saya tidak tau ini ide siapa, karena rencana yang saya tau hanya makan malam dan pertemuan untuk menjalin silaturahim. Tapi, tentunya saya sangat berterimakasih kepada istri saya, Mami, Papi, dan adik saya, Erin.''
Edgar menatap mesra Mentari. Lalu menatap ke keluarganya yang masih duduk.
''Sebelum lebih lanjut, boleh saya meminta kedua orangtua saya, dan juga adik saya yang tidak cantik untuk maju juga.''
Erin yang tadinya senyum lebar, langsung merengut mendengar kakaknya mengatakan adiknya tidak cantik.
''Dasar kakak nggak berakhlak.'' sungut Erin dalam hati, tapi, ia tetap berdiri dan melangkah ke depan bersama kedua orangtuanya.
Pembawa acara sudah berdiri di sisi kiri panggung, ada saja kalimat celetukannya yang membuat semua orang tertawa.
''Sweet family.'' ujar pembawa acara itu yang mendapatkan ucapan terimakasih.
''Untuk istriku tercinta, Mami, Papi, dan juga adikku satu-satunya.''
__ADS_1
Edgar menatap orang-orang tersayangnya itu secara bergantian.
''Thank you so much.''
''Saya pikir, sudah cukup tadi malam jam 12 dibangunkan kejutannya haha, ternyata masih ada lagi.''
''Karena begini, saya itu selalu lupa dengan tanggal kelahiran saya sendiri, jadi mereka selalu berhasil melakukan ini semua.''
Ketika Edgar sedang fokus dengan kalimatnya, tatapan Erin justru tengah tertuju pada seseorang yang sedang tersenyum ke arahnya.
''Saya bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan kepada saya dan keluarga saya. Terimakasih atas kehadirannya pada malam hari ini. Terkhusus untuk keluarga Afryan dan Dini pemilik resto A.N.S, salam kenal dari kami, semoga kita bisa terus menjalin silaturahim dengan baik kedepannya.''
''Dan kami, memohon maaf karena memesan secara mendadak kemarin pagi. Tapi, owner A.N.S sangat profesional, dan tentunya bekerjasama dengan baik bersama tim untuk menyiapkan semua ini, sehingga tidak ada yang mengecewakan.''
Afryan dan Dini langsung sedikit menganggukkan kepalanya dengan kedua telapak tangan menangkup.
''Disini, saya ingin mengucapkan banyak terimakasih sekali lagi untuk Afryan dan juga Dini, seperti yang pernah ayah saya sampai dalam konferensi pers beberapa waktu yang lalu, bukti kuat itu membuat saya dan keluarga bernafas lega. Membuat saya semakin tersadar, bahwa saya bukanlah siapa-siapa, karena nyatanya saya hanyalah manusia biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan orang lain.''
''Terakhir, saya mohon do'a untuk calon buah hati kami.'' Edgar menatap Mentari dengan senyumnya.
''Setelah menanti, melewati jalan yang tidak mulus, akhirnya kami di kasih kepercayaan itu. Semoga istri saya selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, tentunya hal itu akan berdampak positif bagi kandungan istri saya. Dan itu merupakan hadiah terbesar dan terindah di momen pertambahan usia saya. Saya mendapatkan istri yang luar biasa.''
''I love you so much.'' ucap Edgar lalu mendaratkan kecupan manis di kening Mentari.
''Saya meleyot sekali ya saudara-saudara haha.'' ujar pembawa acara itu yang di sambut gelak tawa dari semuanya.
''Dira, aku terharu melihat kamu dicintai seperti itu. Kamu benar-benar mendapatkan pangeranmu.'' ucap Rita dalam hati, pandangannya tidak lepas dari Edgar dan Mentari.
Karena waktu terus berjalan, Edgar menyudahi kalimatnya. Ia menyerahkan kembali mic tersebut kepada pembawa acara.
Momen kebersamaan keluarga tampak harmonis di belakang kue ulang tahun yang berukuran besar. Edgar sudah siap untuk memotongnya bersama dengan keluarga. Pembawa acara itu sudah antusias memberikan aba-aba.
--
Setelah mereka kembali turun ke bawah, Edgar berdiri lagi dan memberikan pengumuman.
''Sebelum kita berpisah malam ini, saya ingin menunjukkan persembahan spesial, tapi, bukan dari saya.'' ujar Edgar.
Mentari langsung menoleh penasaran, karena ia tidak merencanakan itu.
''Apa Mas?''
Bukannya menjawab, Edgar malah tersenyum.
''Seseorang yang selalu setia menemani kegiatan saya. Seseorang yang selalu siap menjadi garda terdepan ketika saya mendapatkan masalah. Selain piawai dalam pekerjaannya, dia juga memiliki suara yang cukup merdu, 11-30 lah sama Tulus.''
Seseorang langsung mendelik karena menyadari kalimat itu untuknya.
''Please welcome.. JIMMY''
''Ha?'' Mentari langsung menatap Edgar dan Jimmy bergantian.
''Ayo Jim, jangan sia-siakan kesempatan ini haha.'' ucap Edgar memaksa.
Jimmy menoleh ke sekitarnya, ia sendiri tidak tau akan dikerjai oleh bosnya.
''Janjian dulu kek, Boosss...'' gerutu Jimmy dalam hati.
__ADS_1
Mau tak mau, Jimmy berdiri dan maju ke depan karena semua sudah bertepuk tangan.
''Saya harus ngapain, Tuan?'' tanya Jimmy.
''Main kuda lumping, Jim.''
''Ya nyanyilah.'' jawab Edgar.
Suara Edgar yang terdengar jelas langsung di sambut gelak tawa. Di luar sana terkesan dingin, ternyata bisa mengeluarkan candaan juga.
''Kasih bonuslah nanti.'' bisik Edgar merayu.
''Sama anda Tuan, biar saya tidak grogi.'' pinta Jimmy.
''Dih, nanti dikira kita couple.'' tolak Edgar.
''OH YA.'' Edgar langsung menatap adiknya.
''Rin, kamu kan suka main gitar.''
''Aku Kak?'' tunjuk Erin pada dirinya sendiri.
Jimmy langsung tersenyum, keduanya terlibat saling pandang.
''Oke.'' jawab Erin.
Jimmy dan Erin sudah berdiri, semua bertepuk tangan dan siap untuk mendengarkan suara mereka.
Jimmy siap dengan keyboard yang sudah terpasang mic, Erin pun juga sudah siap dengan gitar dan mic juga.
''Nyanya apa?'' tanya Jimmy.
''Apa ya?''
Keduanya senyum-senyum, meskipun gugup, mereka tetap menuruti permintaan Edgar.
''Seperti ada sesuatu diantara mereka.'' bathin Mentari.
Beda halnya dengan Mentari. Karena Jimmy dan Erin sudah lama saling kenal, jadi, Edgar dan kedua orangtuanya tidak ada yang menatap aneh, mereka sudah menganggap Jimmy seperti keluarga, sehingga melihat Jimmy dan Erin seperti kakak beradik juga.
''Lagu ini sudah cukup lama dan yang menyanyikan lebih terkenal sebagai aktor dan aktris Indonesia. Spesial untuk kakak-kakakku.'' ucap Erin.
''INDAH CINTAKU DARI NICKY TIRTA DAN VANNESA ANGEL'' sambungnya.
Suara gitar dan piano yang dimainkan oleh Jimmy dan Erin menjadikan lagu itu memiliki aransemen yang berbeda.
...Cintaku Terasa sempurna karena hatimu...
...Selalu menerima kekuranganku...
...Sungguh indah cintaku (oh)...
...Sungguh indah cintaku...
...Indah cintaku...
Duet Erin dan Jimmy mendapatkan tepuk tangan ketika sudah selesai. Mereka mengakhiri lirik lagu itu dengan saling berpandangan.
__ADS_1
"Tatapan mereka sangat dalam, bukan seperti kakak adik."
"Apa pacarnya tuan Jimmy itu adiknya tuan Edgar?"