
Saat Rita menunjukkan jari telunjuknya ke arah pintu, ternyata bertepatan dengan Jimmy yang juga baru saja datang.
''Ah, iya, silahkan masuk, Jim.'' ujar Mentari.
Jimmy mengangguk sebagai jawabannya.
''Silahkan duduk.'' ujar Mentari.
Jimmy langsung mendudukkan dirinya di sofa legend milik Mentari itu di ujung.
''Oo, eh! e ..,''
Mentari langsung mengusap wajah Rita dengan telapak tangan kanannya. Setelah itu, Rita tersadar lalu cengengesan.
Ehehehe
Spontan Rita langsung berdiri untuk menyapa. Ia membungkukkan badannya untuk memberi salam.
''Selamat pagi, Tuan Jimmy.''
Jimmy hanya mengangguk kecil dengan tersenyum tipis.
''Sebentar ya.'' ujar Mentari.
Mentari beranjak dari sofa, ia hendak memanggil suaminya yang berada di dalam kamar karena sedang memberikan waktu untuk Rita dan Mentari. Namun, saat baru satu langkah, Edgar sudah berada disana.
''Baru mau aku panggil, Mas.'' ujar Mentari.
''Tadi Jimmy sudah menghubungiku, sayang.'' jawab Edgar.
''Oohhh..'' balas Mentari.
''Ya sudah kalau begitu ... ayo Rit, kita ke dalam saja. Bawa tas kamu.'' ujar Mentari sembari menarik lengan Rita.
''Ohh, iya, sebentar.''
Rita meraih tasnya dan mengikuti langkah Mentari dengan cepat.
''Kamu belum sarapan 'kan?'' tebak Mentari.
''Kok tau?'' balas Rita sembari cengengesan.
''Ah, kelihatan dari raut wajahmu.'' jawab Mentari di ikuti gelak tawanya.
__ADS_1
Mentari membantu bu Titi menyiapkan makanan untuk Rita. Karena setelah sarapan Edgar dan Mentari, meja langsung di bereskan.
Rita sangat lahap menikmati sarapan di rumah Mentari. Ia masih tetap dengan kebiasaannya, mengunyah sembari mengoceh.
''Pelan-pelan, Rit.'' ujar Mentari mengingatkan.
Rita mengangguk dan melanjutkan makannya dengan lahap.
Mentari hanya bisa menatap Rita dengan sedikit berbeda. Gadis itu memiliki beberapa poin perubahan yang menurutnya tidak biasa.
Jimmy datang membawa motor besar milik Edgar, karena ia tidak memiliki kendaraan roda dua itu. Ia juga datang bersama beberapa pengawal Raymond yang akan di tugaskan untuk mengamankan acara nanti malam.
Tidak di pungkiri rasa khawatir itu ada ketika membuat acara seperti ini. Apalagi tidak adanya undangan khusus. Acara ini di laksanakan untuk umum lingkungan rumah lama Mentari. Siapapun yang akan datang, sangat diperbolehkan asalkan siap menjaga keamanan dan ketertiban.
''Catering aman 'kan, Jim?'' tanya Edgar.
''Aman, Tuan. Nanti jam 5 sore akan di antar.'' jawab Jimmy.
''Bagus.''
Beberapa orang yang tinggal di sekitar rumah Mentari pun sudah ada yang datang. Selain hendak membantu, mereka juga ingin bertemu dengan pemilik rumah tersebut.
Masyarakat di lingkungan rumah Mentari memang masih cukup bagus bersosialisasinya. Mereka kerap melakukan gotong royong, baik saat membenahi gang-gang kecil disana ataupun saat ada rumah salah satu warga yang hendak di renovasi. Namun, karena Mentari hidup sendirian dan juga seorang wanita, ia tidak pernah mengikuti kegiatan itu. Yang ia lakukan dengan membantu untuk konsumsinya dengan memberikan sejumlah uang.
Edgar dan pria itu saling menangkap pandangan. Pria itu langsung membungkukkan kepalanya beberapa detik.
''Maafkan tuduhan saya waktu itu, Tuan.'' ucap pria itu.
Edgar melirik ke arah pria yang sudah mendekatinya itu.
''Waktu itu saya sudah menuduh anda dan juga Dira yang tidak baik. Saya mohon maaf.'' ucap pria itu lagi.
''Lupakan saja.'' jawab Edgar singkat. Ia tak ingin berurusan dengan cerita itu lagi kepada orang lain.
--
Sore hari ini, tenda seperti orang yang menggelar hajatan sudah siap. Rita dan bu Titi menyusun menu catering yang ada di bawah tenda tersebut. Beberapa tetangga Mentari juga ada yang membantu.
Edgar tidak mengizinkan sang istri untuk ikut membantu di depan, karena alasannya tidak ingin Mentari kelelahan, apalagi hari ini kurang istirahat.
Malam hari, acara syukuran itu pun akhirnya di mulai. Tempat yang di sediakan ternyata tidak cukup, karena halaman rumah Mentari yang sedang. Untung saja jumlah catering yang di pesan sudah pasti dilebihkan dari perkiraan yang datang.
Mentari memperhatikan Edgar yang seperti kurang nyaman dengan keriuhan seperti ini. Apalagi suara ibu-ibu yang saling berbisik-bisik, ntah sedang membicarakan tentang kebaikan atau bukan.
__ADS_1
Mentari mengusap lembut lengan Edgar, supaya suaminya itu bisa lebih mengendalikan diri dan fokus mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh seorang ustadz.
Edgar menoleh ke arah Mentari karena merasa ada yang menyentuh lengannya. Kedua saling tersenyum tipis lalu kembali menghadap ke depan.
Sementara itu, Rita yang duduk bersama dengan bu Titi pun menatap pada objek yang membuatnya tidak teralihkan. Namun, cepat-cepat ia mengalihkan ke hal lak.
''Baiklah, acara penutup akan ada yang di sampaikan oleh tuan Edgar. Silahkan, Tuan.''
Edgar beranjak dari tempat duduknya, ia mengedarkan tatapannya ke para pengunjung acara syukuran ini.
''Tampan sekali ya suami, kak Dira.''
''Iya, benar.''
''Sssttt, jangan bisik-bisik, lihat saja.''
Beberapa gadis yang merupakan tetangga Mentari menatap iri pada wanita yang tengah duduk dengan memberikan tatapan penuh cinta dan bangga pada pria yang berdiri gagah di depan.
''Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh''
''Selamat malam semuanya.''
Semua menjawab ucapan tersebut dengan suara yang serempak.
''Pertama-tama, perkenalkan saya suami dari Ghadira Mentari. Nama saya Edgar Raymond.'' ujar Edgar.
Jimmy sembari menarik nafasnya. ''Semua sudah tau, Tuan.'' bathinnya.
''Pasti kalian semua terkejut dengan pernikahan kami waktu itu. Dan saat itu juga, istri saya langsung meninggalkan rumah ini. Saya tidak menyalahkan hal itu akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan dan dugaan-dugaan.''
''Malam ini, saya menjawab kemungkinan itu. Saya menikahi wanita yang sangat saya cintai, begitu pun istri saya yang juga sangat mencintai saya.''
Mentari langsung terbelalak mendengar kalimat yang sangat percaya diri itu. Ia langsung menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat ekspresi orang-orang. Ada yang menahan tawa, ada juga yang justru terbawa perasaan. Justru Mentari sendiri malah malu, ia hanya bisa nyengir.
''Awas kamu, Massss!!'' bathin Mentari menatap tajam suaminya.
Edgar menyadari tatapan tajam Mentari dengan tersenyum.
''Tatapan itu yang membuat saya selalu mencintainya.'' ucap Edgar.
Mentari semakin membulatkan matanya.
''Oh, nona Mentari ... begitulah suami anda yang sudah terkena virus bucin.'' bathin Jimmy.
__ADS_1