Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 40 : "Honeymoon Vibes"


__ADS_3

''Papi sudah tau, biar nanti kasih tau ke mami, karena kalau bilang mau kemana, mami akan heboh duluan.'' tutur Edgar.


Mentari mengerti, ia tak melakukan protes lagi dan memilih menikmati perjalanan yang ntah kemana tujuannya.


°°


''Villa?'' tanya Mentari saat mereka sudah berada di suatu tempat.


Edgar mengangguk.


''Semua sudah diurus sama Jimmy, kita tinggal masuk.'' jawab Edgar sebelum menerima kekhawatiran Mentari.


''Bukannya ini juga milik keluarga Raymond?'' tanya Mentari.


''Kau juga bagian keluarganya kan?'' balas Edgar berbalik tanya.


''A, i-iya Tuan..'' jawab Mentari.


''Selamat malam Tuan Edgar..'' sambut seorang pria penjaga villa.


''Malam Pak..'' jawab Edgar ramah.


''Perkenalkan ini istri saya.'' imbuh Edgar memperkenalkan Mentari.


Penjaga villa tersebut menyambut ramah, Mentari langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Setelah itu, penjaga villa mengantarkan sepasang suami istri ini ke kamar yang akan mereka tempati untuk menginap.


Villa mewah milik keluarga Raymond ini memang terkenal sangat bagus, hal itu disesuaikan dengan harga yang mereka terapkan, istilahnya ada harga ada rupa.


Tentu saja Mentari sangat mengetahui tempat ini, banyak orang yang menjadikan villa ini sebagai tujuan liburan mereka bersama keluarga maupun pasangan yang ingin berbulan madu, karena sangat ''honeymoon vibes" kalau kata anak jaman sekarang.

__ADS_1


Penjaga villa tersebut membukakan pintu dan mempersilahkan Edgar dan Mentari masuk ke dalam. Untung saja Mentari bisa mengendalikan dirinya agar tidak begitu terlihat jika dirinya sangat senang bisa berada ditempat ini.


''Ohya Tuan, untuk makan malam, apakah akan datang langsung ke resto atau diantarkan kesini saja?'' tanya penjaga villa tersebut.


''Sebaiknya antar kesini saja, Pak. Karena kami akan istirahat dulu malam ini..'' jawab Edgar.


''Baik Tuan, saya permisi..''


Edgar mengangguk mempersilahkan penjaga villa itu untuk pergi.


Setelah penjaga villa itu tidak terlihat, Edgar melihat Mentari berdiri dibalik dinding kaca memandangi pemandangan indah di malam hari.


''Kamu suka?'' tanya Edgar.


''Terimakasih Tuan..'' ucap Mentari setelah mengangguk.


Edgar menyunggingkan senyumnya lalu membuka pintu kamar dan langsung keluar ke teras villa. Ia duduk di kursi teras dan menyandarkan punggungnya disana.


Saat Mentari akan menyusul Edgar ke teras, dari pintu ada suara ketukan. Mentari berbalik dan membukakan pintu terlebih dahulu.


''Oh, baik Pak..''


Edgar mendengar suara percakapan dari dalam langsung menghampiri.


''Kami akan makan malam di teras Pak. Boleh langsung susun disana saja.'' pinta Edgar.


''Baik Tuan.''


Penjaga villa dan rekannya yang mengantarkan makanan menyusun menu makan malam diatas meja bundar tersebut dengan sangat lihai.


''Silahkan Tuan, Nona.. selamat menikmati.'' ucapnya.

__ADS_1


''Terimakasih Pak.'' ucap Edgar dan Mentari bersamaan.


Edgar dan Mentari langsung duduk di kursi yang saling berhadapan tersebut. Menu makanan yang tersaji terlihat sangat menggiurkan, hingga membuat cacing-cacing di dalam perut Mentari sepertinya sudah meronta-ronta.


''Ayo makan, sepertinya kau sudah sangat lapar.'' tebak Edgar.


''Hehe, iya Tuan.'' jawab Mentari jujur.


Tanpa berbicara lagi, mereka menikmati makan malam yang telat itu.


Tiga puluh menit mereka menyelesaikan makan malamnya, perut Mentari juga sudah terasa damai tanpa bunyi-bunyian.


''Sepertinya akan hujan.'' tebak Edgar.


''Iya Tuan, sudah gerimis kecil.'' balas Mentari dengan melihat air-air yang menitik pada kolam renang.


Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Meja dan peralatan untuk makan tadi juga sudah dibersihkan oleh petugas.


Suasana di villa memang sangat dingin, ditambah lagi dengan cuaca yang turun hujan.


''Tuan..'' panggil Mentari.


''Hemm?''


''Saya baru ingat kalau kita tidak membawa baju ganti?''


''Kau buka saja lemari itu, aku sudah pesan untuk disiapkan semuanya, termasuk baju tidur, gantilah..'' jawab Edgar tanpa menoleh, ia sedang berhadapan dengan layar laptopnya, ntah apa yang sedang ia kerjakan.


''Hah lemari?'' Mentari langsung menoleh ke arah lemari yang berada disisi ranjang.


Mentari beranjak dari sofa dan melangkah mendekati lemari. Ia membuka lemari tiga pintu tersebut, kemudian melihat satu persatu untuk memastikan apa yang dikatakan oleh suaminya.

__ADS_1


''Mana baju tidurnya?''


''Apa-apaan ini? saringan tahu?'' gumamnya.


__ADS_2