Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 164 : Rapat


__ADS_3

Rita menutupi rasa gugupnya dengan mengeluarkan banyak candaan. Berkali-kali ia menarik nafas panjang sebelum rapat evaluasi dilaksanakan. Waktu masih dua puluh menit lagi. Masih ada waktu untuk Rita mengontrol hati dan pikiran yang sedang berkelahi.


''Ayo Rita! tenang dong!'' bathinnya.


Untuk menutupi rasa gugupnya, Rita mengalihkan pikirannya ke pekerjaan.


''Mengagumi seorang diri itu sangat tidak enak.'' bathinnya lagi.


Semakin dipaksa untuk bekerja, malah semakin membuat pikirannya buyar.


Tidak terasa sudah tiga puluh menit sejak kedatangan manager tadi. Semua karyawan berkumpul di salah satu ruangan yang digunakan untuk rapat rutin.


Edgar memang selalu sengaja tidak pernah membuat jadwal rapatnya. Meskipun kegiatan itu rutin setiap bulan dilakukan, untuk waktu selalu mendadak.


''Sudah berkumpul semuanya ini?'' tanya Edgar.


''Sudah Tuan.'' jawab manager.


Edgar langsung berdiri, ia yang akan langsung memimpin rapatnya.


''Selamat siang semuanya.'' ucap Edgar.


''Siang.'' jawab semuanya serempak.


''Saya yakin kalian semua tidak akan bertanya-tanya kenapa saya datang kesini secara tiba-tiba. Dan saya harap tidak ada hal yang mengecewakan dari kinerja kalian.'' ujar Edgar tegas.


Tatapan mata yang tajam bagaikan gunung berapi yang aktif lalu mengeluarkan larvanya. Berbanding terbalik saat Edgar berada dihadapan sang istri, tatapan matanya sangat menyejukkan hati dan juga membuat Mentari selalu jatuh hati.


Rapat evaluasi sedang berlangsung di ruangan itu. Satu persatu tim mempresentasikan hasil kinerjanya di hadapan sang CEO.


Kini giliran Rita, gadis itu berdiri dengan laptop di hadapannya. Ia spontan menatap Jimmy, dan di waktu yang sama, pria itu juga tengah menghadapnya.


''Ehm!'' Edgar berdehem pelan.


Rita terlihat gugup dan langsung menghadap ke laptop, sedangkan Jimmy terlihat santai dengan wajah cool-nya.


''Apa tuan Edgar benar-benar mengira aku dekat dengan gadis ini?'' gumam Jimmy dalam hati.


''Tampan sekali ciptaan Tuhan ini.'' bathin Rita.


''Silahkan dimulai.'' suruh Edgar.

__ADS_1


Rita tidak merespon, ia menghadap ke laptop, tapi, dengan tatapan kosong.


''RITA!'' seru Vika.


''IYAA!!'' balas Rita berteriak.


''Maaf Tuan, maaf, huuffttt''


Rita menarik nafasnya dalam-dalam lalu kembali fokus.


''Silahkan.''


''Baik Tuan.''


Rita kembali menarik nafasnya.


Lalu ia menatap laptop dan layar besar di ruangan itu secara bergantian. Penjelasan demi penjelasan mengenai pekerjaan ia sampaikan dengan cukup baik sehingga semuanya bisa memahami apa yang disampaikannya.


''Terima kasih.'' ucap Rita setelah selesai dengan presentasinya.


Presentasi hari ini cukup lancar, tidak ada hal yang membuat Edgar curiga. Meskipun kelakuan para karyawan masih belum berubah saat ada bos datang langsung pura-pura sibuk.


Semua karyawan sudah kembali ke ruangan masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya.


Jimmy menatap Edgar, ingin bertanya tetapi pasti diurungkannya.


''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.


Edgar ke ruangan pimpinan, sementara Jimmy masih duduk di ruangan rapat.


Edgar membuka berkas-berkas yang tersusun dengan rapi, disana terdapat surat perjanjian hutang milik Mentari. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman karena mengingat awal pertemuan dengan sang istri.


''Saat acara penyambutan itu, istriku terus menunduk karena menghindari tatapanku.'' gumam Edgar. Ia teringat hal itu sampai tidak menyadari dari tadi senyum-senyum sendiri.


''Ah, aku jadi sangat merindukan istriku kalau begini.'' gumamnya.


Berkas-berkas itu ia kembalikan ke tempat semula. Setelah memastikan rapi kembali, Edgar menghubungi sang istri.


''Kok nggak di jawab.'' gumam Edgar menekan kembali tombol panggil.


Tak lama kemudian, wajah Mentari muncul di layar ponselnya.

__ADS_1


''Abis nangis ya?'' tanya Edgar langsung panik. Bahkan wajah senyumnya berubah menjadi cemas.


''Iya nangis, tapi, bukan karena sedih.'' jawab Mentari.


''Pasti makan sambal lagi?'' tebak Edgar.


''Hehehe''


''Sayang, jangan pedas-pedas bikin bumbunya.''


''Iya Mas, maaf.'' jawab Mentari merasa bersalah.


Hampir setiap hari Mentari membuat lutisan buah-buahan. Saat ada mertua dan adik iparnya, mereka yang menemani, sedangkan Edgar hanya menemani saat libur bekerja.


''Iya ... nanti mau dibelikan apa, sayang?'' tanya Edgar.


''Emmm ... nggak mau apa-apa, cuma mau peluk.'' jawab Mentari malu-malu di akhir kalimatnya.


''Mau apa, sayang?'' tanya Edgar dengan senyuman di wajahnya.


''Apa? bukan apa-apa.'' jawab Mentari.


''Mas, masih di kantor cabang?'' tanya Mentari mengalihkan pembahasan.


''Masih, sayang, baru selesai rapat.'' jawab Edgar.


''Ketemu Rita?''


''Pasti dong, sayang. Kan dia kerjanya disini.''


''Oh, iya hehe''


''Rita sehat kan, Mas?'' tanya Mentari.


''Sepertinya sih sehat.'' jawab Edgar santai.


Mentari terlihat langsung diam seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Edgar tidak mau menanyakan sekarang karena masih di lingkungan bekerja, bukan hal yang pantas untuk membahas tentang urusan pribadi, apalagi ini mengenai privasi orang lain.


''Sayang, nanti ketemu di rumah ya, aku akan pulang cepat.''


''Oh, iya Mas.'' jawab Mentari.

__ADS_1


''I love you." ucap Edgar.


"Love you too." balas Mentari.


__ADS_2