
Edgar sengaja pulang kantor lebih cepat hari ini, karena ia tidak ingin terlambat datang ke acara nanti malam.
''Jim, nanti kalau sudah selesai, kamu langsung pulang juga ya.. ingat, jangan sampai telat dan jangan sampai lupa jemput Rita.'' ujar Edgar.
''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.
Edgar dan juga papinya langsung meninggalkan kantor lebih dulu, sedangkan Jimmy masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda dan harus diselesaikan sekarang juga.
Setelah mendengar perintah dari atasannya, Jimmy juga langsung kembali ke ruangannya. Ia segera melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai.
''Hanya menjemput saja, tidak ada apa-apa, pasti mengerti.'' gumam Jimmy. Kekhawatiran itu terus saja singgah di kepalanya.
-
Sedangkan di kantor cabang, Rita sudah bersiap-siap untuk pulang.
''Guys, aku pulang dulu ya.'' ujar Rita berpamitan pada teman-temannya.
''Lah, buru-buru banget, Rit?'' tanya salah satu temannya disana.
''Iya, ada keperluan nanti malam, takut macet juga.'' jawab Rita.
''Ohh, ya sudah hati-hati di jalan.'' ucap teman Rita.
''Oke.'' balas Rita dengan mengangkat jempol.
Rita langsung kembali ke tempat tinggalnya setelah pulang dari bekerja. Ia duduk di sofa sembari meluruskan punggungnya yang terasa lelah.
''Ada pesan, dari siapa ya?'' gumam Rita.
''Bu bos.''
''APA?!''
__ADS_1
Rita langsung membelalakkan matanya setelah membaca isi pesan dari Mentari.
...''Rita, nanti Jimmy akan jemput kamu, jangan telat ya siap-siapnya (emoticon senyum dan tanda hati)''...
''Jantungku..''
Rita memegang dadanya yang terasa berdetak sangat kencang. Tidak ada informasi apapun dari kemarin, Mentari pun baru mengirimkan pesan itu sore ini.
''Kenapa aku deg-degan begini? apa aku menyukai tuan Jimmy?'' gumam Rita bertanya-tanya.
''Aaarrrghh Rita! please sadar, jangan ketinggian mimpinya! kamu hanya pengagum pria tampan, bukan mencintai! kamu itu sulit jatuh cinta, RITA!!''
''Ya, ya, ini bukan cinta!''
Rita terus menarik nafasnya dalam-dalam sampai berkali-kali agar lebih tenang dalam menghadapi dirinya sendiri.
''Tuan Jimmy juga sudah punya pacar.'' imbuhnya.
Rita teringat waktu itu, setelah dirinya dari membelikan nasi Padang untuk Mentari. Saat di dalam mobil bersama dengan Jimmy, tidak sengaja bola matanya melirik ponsel Jimmy yang menyala.
Rita terus merutuki dirinya sendiri. Ia terus berusaha membuang jauh-jauh pertanyaan di benaknya tentang apakah ia tertarik pada Jimmy. Karena saat berada di dekat pria itu, perasaannya menjadi berbeda, meskipun Jimmy selalu bersikap dingin padanya.
''Kalau pun itu perasaan cinta, siap-siap cintamu akan bertepuk sebelah tangan, Rit.'' Rita tersenyum getir.
''Ya ampun sampai lupa belum di balas pesan Bu bos.'' gumam Rita.
Rita segera mengetikkan pesan untuk membalas pesan dari Mentari.
...''Baik Bu Bos, terimakasih banyak''...
Setelah membalas pesan itu, Rita meletakkan ponselnya di atas meja. Waktu semakin maju, ia segera membersihkan badannya yang sudah lengket karena keringat.
-
__ADS_1
Di kediaman Raymond
Keluarga tersebut sedang bersiap-siap menuju resto milik Dini. Para pria sudah siap, sedangkan mami dan Erin belum juga keluar dari kamar.
''Mas, terlalu menor nggak? terkesan norak nggak sih, Mas?'' tanya Mentari yang masih menatap kaca riasnya.
Edgar yang masih duduk di sofa langsung mendekati sang istri.
''Nggak sayang. Kamu selalu cantik, ini sudah pas.'' jawab Edgar lalu menciium puncak kepala istrinya yang masih duduk itu.
Mentari langsung mendongak untuk meyakinkan.
''Beneran? nggak bohong? jangan sampai bikin kamu sendiri malu loh, Mas.''
Edgar terkekeh melihat ekspresi kekhawatiran Mentari.
''Nggak bohong, sayang. Yuk jalan.''
Mentari kembali menatap cermin lebar di depannya. Memang ia suka dengan make-up yang sedang-sedang saja seperti ini.
''Yuk.'' balas Mentari sembari beranjak dari kursi.
Edgar dan Mentari langsung turun ke bawah, Ternyata hanya papi yang sudah siap, sedangkan mami dan Erin belum muncul juga. Sudah dipastikan keduanya sama-sama masih sibuk dengan dandanannya.
''Kita satu mobil aja kan, Pi?'' tanya Edgar setelah berada di dekat papinya.
''Iya. Duuhh mana sih ini mami kamu, adekmu juga.'' gerutu papi.
''Iya sabar, ini sudah beres.'' sahut mami baru membuka pintu kamar.
Wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik itu tampak anggun dengan make-upnya yang terkesan soft. Tak lama kemudian Erin juga keluar, gadis itu sangat ayu dengan dandanan yang sesuai dengan umurnya, sehingga tidak terkesan memiliki wajah yang boros.
Erin sangat cuek dengan penampilannya, ia lebih terkesan santai. Jika selama ini identitasnya selalu di sembunyikan dari publik, orang-orang juga tidak akan menyangka kalau dirinya itu putri kandung dari Erick Raymond. Penampilannya selalu seperti orang biasa.
__ADS_1
''Ayo jalan.'' ujar mami.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil. Edgar yang memiliki tugas untuk mengemudikan mobil, sementara para wanita duduk di belakang.