
Bangunan besar bernuansa Eropa klasik itu nampak jelas dari luar. Edgar dan Mentari turun dari mobil.
''Selamat datang istriku.'' ucap Edgar.
Mentari mengangguk.
''Terimakasih Mas..''
''Bagus banget ya Mas, kalian benar-benar orang kaya, hemm..'' Mentari menatap kagum bangunan di depannya.
Edgar menghadap Mentari seraya mengusap kedua lengan sang istri.
''KITA, bukan KALIAN.'' Edgar menekankan perkataannya.
''Iya Mas.''
Edgar langsung menggenggam tangan Mentari untuk segera masuk ke dalam.
Timbul pertanyaan di benak Mentari, kenapa tidak ada yang menyambut kedatangan keduanya. Seperti halnya saat Erin selalu bertanya kapan berangkat. Kenapa begitu sampai, tidak ada yang muncul kecuali para pekerja. Namun, ia tak mau berfikir negatif, mungkin saja mengiranya belum tiba, atau tuan Erick dan Erin masih belum selesai dengan kegiatannya masing-masing.
Seorang pekerja dirumah tersebut menyambut kedatangan keduanya di depan dan membukakan pintu.
Keadaan masih tampak lengang, Mentari semakin penasaran.
''Mas, kok sepi ya?'' tanya Mentari lirih.
''Mungkin papi sama Erin belum pulang, mami mungkin di kamar.''
''Kamar?''
Mentari semakin heran, tapi, Edgar kan juga datang bersamanya, pasti juga sedang asal menebak saja.
''Mas lihatin apa?''
__ADS_1
''Hah? enggak, nggak lihatin apa-apa.'' jawab Edgar sedikit gugup.
Mentari mengernyitkan keningnya. Mencoba mengikuti arah pandangan Edgar tadi, tetapi tidak mendapati apapun disana kecuali tangga, pajangan dinding dan lainnya.
''Langsung dibawa ke kamar saja..'' jawab Edgar pada pekerja yang membawa koper-kopernya.
Setelah mengangguk, pria dan wanita di belakangnya langsung menuju kamar yang akan di tempati oleh Edgar dan Mentari.
''Mungkin mami masih menyiapkan makanan, ayo ke belakang kita lihat.'' ajak Edgar membuyarkan lamunan Mentari.
''Ah, iya, Mas.. ayo.'' jawab Mentari.
Edgar terdengar berdehem beberapa kali dan sorotan matanya pun seperti tidak tenang. Saat mendapati sang istri tengah menatapnya heran, Edgar menunjukkan senyumnya.
''HAPPY BIRTHDAY!!! YEEEYYYYY''
Erin bersorak gembira, lalu meniupkan terompet yang isinya potongan kertas-kertas kecil ke arah Mentari dan Edgar.
Suara nyaring dari Erin memenuhi rumah tersebut, meskipun di hati Edgar ingin rasanya membungkam mulut adiknya yang memiliki suara sangat bagus itu, dan lebih bagus lagi kalau diam saja. Namun, demi kejutan untuk sang istri tercinta, Edgar pun harus tetap bersabar mendengar nyanyian dari sang adik satu-satunya itu.
Erin langsung berlari mendekati kakak iparnya yang sedang menutup mulutnya karena terkejut dengan kejutan yang diterimanya. Kedua mata Mentari langsung berkaca-kaca melihat ruangan itu yang sudah dihiasi dekorasi, kue tart berukuran sedang yang berada di atas meja.
''Selamat ulang tahun Kakak ipar..'' ucap Erin dengan penuh kasih sayang.
''Terimakasih Erin.'' Mentari membalas pelukan adik iparnya itu dengan sangat erat.
Lalu muncul papi dan mami mertuanya dengan bertepuk tangan.
''Selamat ulang tahun, menantuku..'' ucap mami yang diikuti oleh papi.
Erin langsung mengurai pelukannya. Mentari tak segan-segan langsung memeluk ibu mertuanya itu dan mengucapkan terimakasih.
''Terimakasih Mami, Papi..''
__ADS_1
''Iya sama-sama, Mentari..''
''Terimakasih juga dong sama yang punya ide.'' timpal papi.
''Ide?''
Mentari menoleh ke arah suaminya yang berdiri cool.
''Iya sayang, suamimu yang memberitahukan kepada kami disini bahwa di hari ini kamu berulang tahun.'' ujar mami senang.
Mentari menoleh melihat ibu mertuanya yang tengah berbicara padanya. Lalu kembali menatap sang suami.
''Betul kah Mas?''
Edgar hanya mengangguk kecil seraya melangkah maju lalu merengkuh pinggang Mentari sehingga membuat keduanya tanpa jarak.
''Uuhh so sweet...'' ucap Erin seraya menutup mulutnya.
''Selamat ulang tahun sayang..'' ucap Edgar lalu memberikan kecupan manis di kening Mentari.
''Mas.. malu dilihatin.'' bisik Mentari.
Mentari menengok ke mertuanya dengan tersenyum kikuk. Sementara kedua mertuanya justru menunjukkan dua jempol sehingga membuatnya semakin tersipu malu.
''Aku mencintaimu''
Edgar kembali mendaratkan kecupan di kening Mentari. Dan berakhir saling berpelukan.
Kedua mata Mentari sudah tidak mampu menahan genangan air matanya. Kini mengalir deras di pipi mulusnya itu. Air mata bahagia, tentu saja Mentari sangat bahagia diperlakukan dengan baik oleh keluarga barunya ini.
Secara tidak langsung, di dalam hatinya, Mentari kerap membandingkan hidupnya sekarang dan hidupnya di masalalu. Meskipun kisahnya di awali dengan cara yang tidak indah, namun, ia bisa merasakan kasih sayang di setiap perjalanannya. Semakin hari, semakin bertambah besar cinta yang ditunjukkan oleh Edgar untuknya. Hanya do'a dan harapan yang besar bagi Mentari untuk kebahagiaan ini supaya tidak berakhir seperti yang ada di masa lalu.
Mentari masih menangis di dalam pelukan suaminya. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Edgar agar tidak terlihat oleh mertua dan juga adik iparnya.
__ADS_1