Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 152 : Benar Dugaanku


__ADS_3

Hujan lebat mengguyur kota ini. Langit masih berwarna hitam pekat di pagi hari yang seharusnya matahari sudah terbit.


Edgar dan Mentari yang sudah bangun subuh memilih untuk kembali melanjutkan bermalas-malasan di tempat tidur.


Sebenarnya bukan kemauan Mentari, tetapi sang suami yang mengeluh kedinginan dan ingin berpelukan lagi.


''Maass, bangun.''


''Hmmm''


Bukannya melepaskan pelukannya, Edgar justru semakin mengeratkan pelukannya itu.


''Mas, kamu nggak ke kantor?''


''Weekend''


Edgar menjawab pertanyaan Mentari dengan kondisi masih menutup mata.


''Oh iya hehe.''


Mentari menertawai dirinya sendiri yang lupa hari.


''Mass..''


Mentari masih belum menyerah, ia tidak enak jika mertuanya sudah bangun, sedangkan dirinya masih di dalam kamar.


''Hmmm''


''Apa, sayang?''


Edgar mulai membuka mata secara perlahan. Semalam ia harus begadang karena lembur. Hal itu dilakukan agar akhir pekannya tidak digunakan untuk bekerja terus.

__ADS_1


Keduanya saling menatap, Edgar tersenyum setelah melakukan morning kiss-nya.


''Masih hujan, sayang. Kamu nggak kedinginan?'' tanya Edgar lalu merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya.


''Iya dingin, Mas. Tapi, masa iya mau tiduran terus.'' balas Mentari.


''Kamu nggak lupa kan kalau istrimu lagi hamil?''


Mendengar kata hamil, Edgar langsung membuka matanya dengan lebar, seakan terkejut dengan sesuatu.


''OHH MY GOD ...,'' Edgar mengusap wajahnya.


''Maaf sayang. Anak-anak Papa, maafkan Papa ya.''


Edgar langsung menciiumi Mentari dan mengusap lembut perut istrinya untuk meminta maaf.


Sepertinya nyawa Edgar sudah kembali kumpul. Ia langsung beranjak dari tempat tidur untuk segera ke kamar mandi.


Sejak awal bangun, Mentari sudah tidak bisa tidur lagi, sedangkan Edgar benar-benar melanjutkan tidurnya.


Di lantai bawah, mami, papi, serta Erin juga belum terlihat. Hanya para pekerja yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


''Mami tadi sudah kesini kah, Mbak?'' tanya Mentari pada salah satu pekerja disana.


''Belum ada yang keluar, Non. Mungkin karena masih hujan hehe.'' jawabnya.


Mentari mengangguk lega karena akan malu jika bangun paginya keduluan mertua. Setelah keperluannya di dapur selesai, Mentari kembali menghampiri sang suami dengan membawakan segelas kopi.


''Terimakasih istriku.'' ucap Edgar lalu memberikan ciiuman di bibir Mentari.


''Sama-sama, suamiku.''

__ADS_1


Edgar menyeruput kopi itu dengan nikmat. Lalu kembali membaca koran edisi terbaru setiap paginya.


Drrtt drrtt


Di tengah-tengah keseriusannya dalam membaca, terdengar suara ponsel Edgar yang berdering. Mentari spontan melihat ponsel milik sang suami yang berada di atas meja.


''Jimmy, Mas.'' ucap Mentari memberitahu.


''Jimmy?''


Edgar menutup korannya dan segera menjawab panggilan telepon masuk dari Jimmy.


''Foto itu???'' bathin Mentari teringat beberapa waktu yang lalu.


''Benar dugaanku.'' imbuhnya masih dalam hati.


Jodoh, memang tidak ada yang bisa menebak. Terkadang kita sudah pergi jauh, memiliki circle pertemanan yang banyak, tetapi ternyata jodohnya tetap tidak jauh-jauh dari kehidupan kita. Begitupun sebaliknya, ada yang tidak pernah kemana-mana, ternyata mendapatkan jodohnya orang jauh.


Mentari menaikkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia membayangkan ekspresi adik iparnya ketika ternyata ada yang menyadari apa yang masih dirahasiakannya.


''Sayang.''


''Hah? iya? kenapa Mas?'' tanya Mentari gelagapan.


''Kamu kenapa? senyum-senyum sendiri? mikirin apa, hayoo?''


''Ohh, hehehehe''


Mentari masih berpikir untuk mencari alasan yang tepat. Untuk itu ia menutupinya dengan tertawa kaku.


''Ini loh Mas, aku membayangkan anak-anak kita kalau sudah lahir. Pasti rame banget ya.'' ujar Mentari berbohong.

__ADS_1


''Maafkan aku telah berbohong.,'' bathin Mentari merasa bersalah. Namun, tidak ada pilihan lain daripada sang adik kesayangan bisa mendapatkan amarah dari kakaknya.


__ADS_2