Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 52 : Aku dan Kamu Jadi KITA


__ADS_3

Author Cimai mengucapkan minal Aidin wal Faidzin.. mohon maaf lahir dan bathin 🙏


...••••••••••••••••••••••••...


Edgar sangat geram dengan sikap adiknya yang sangat manja, apalagi sekarang sudah memiliki saudara perempuan, Erin kerap menculik Mentari untuk menemaninya di dalam kamar. Edgar menjadi tersisihkan.


Belum lama menjalin pendekatan dengan istri secara normal, eh datanglah si adik yang tidak peduli dengan omelan kakaknya untuk tidak mengganggu waktu berduanya.


''Waktu berduaku kalau dibandingkan dengan waktu berdua kalian kan pasti lama kalian, jangan pelit-pelit kenapa Kak jadi manusia?''


Kalimat yang menjadi andalan Erin saat berebut Mentari.


Acara persiapan untuk resepsi sudah hampir selesai, pakaian yang akan dikenakan pasangan pengantin sudah selesai, begitu juga dengan seragam keluarga.


''Kak, apa aku masih terlihat seperti anak kecil?'' tanya Erin pada Mentari.


''Tidak.'' jawab Mentari dengan memberikan senyuman.


''Mereka memperlakukanmu seperti anak kecil karena belum siap melihat kamu dewasa. Karena problem yang dialami orang dewasa tentunya semakin berat, dan mereka belum siap untuk itu. Mereka seperti itu karna sangat sayang sama kamu, jadi jangan menilai mereka tidak sayang sama Erin, mereka sayang banget.'' jelas Mentari panjang lebar lalu tersenyum.

__ADS_1


''Tapi, aku suka sedih tau Kak.. mami tuh over banget.'' keluh Erin.


''Erin, denger Kakak ya..'' Mentari meraih kedua bahu Erin agar menghadapnya.


''Erin nggak boleh ngeluh begitu, bukannya diperhatikan itu tanda disayang? dipedulikan?''


''Coba bayangkan kalau tidak ada lagi yang peduli lagi? tidak ada yang mengkhawatirkan kita lagi dimana, sama siapa, lagi ngapain.. terus kalau tiba-tiba mami berhenti posesif karna tau kalau Erin benci hal itu, gimana? itu justru jadi tanda tanya, jangan-jangan sudah tak peduli lagi..''


''Coba ambil sisi positifnya ya..''


''Lihat Kakak..'' Mentari menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan sendu.


''Sebelumnya Kakak ingin meminta maaf terlebih dahulu, bukan maksud kakak mau membanding-bandingkan, tetapi Kakak hanya ingin Erin mensyukuri semua ini. Erin tau kan kalau Kakak nggak punya siapa-siapa lagi, ayah ntah kemana, ibu kakak sudah meninggal dunia, Kakak nggak punya saudara lagi. Keluarga jauh yang ntah gimana kabarnya, Kakak sudah sangat lama di kota ini. Kakak juga rindu dengan kasih sayang ibu, omelannya seorang ibu, perhatiannya, dan banyak hal lain yang nggak bisa Kakak rasakan lagi di dunia ini.''


Mentari menuturkan isi hatinya dengan senyum getir. Namun, ia tetap berusaha untuk tidak terlihat terlalu menyedihkan.


Memang, kondisi hati dan mental orang berbeda-beda. Namun, ada baiknya seseorang yang sering mengeluh harus diberikan pengertian agar lebih memperbanyak rasa syukur, karena terus menerus merasa paling benar dan selalu menyalahkan orang lain tanpa menyisakan ruang di hatinya untuk instrospeksi diri adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.


''Kakaaak..''

__ADS_1


Erin merentangkan kedua tangannya lalu memeluk kakak iparnya itu dengan sangat erat.


''Aku jadi tau alasannya kenapa kak Edgar menikahi Kak Mentari..'' ujar Erin di sela-sela pelukannya.


Mentari memundurkan kepalanya.


''Apa coba alasannya?'' tanya Mentari.


''Karena Kakak wanita yang sangat kuat, bijaksana, dan tentunya cantik. Pantesan kak Edgar langsung gerak cepat tanpa nanti-nanti, takut di samber orang lain siihh haha..''


''Haha bisa aja..'' jawab Mentari ikut tertawa.


Dibalik pintu, Edgar yang menguping pembicaraan antara adik dan juga istrinya itu tengah tersenyum sendiri.


''Iya, sepertinya aku memang benar-benar tertarik padamu sejak pandangan pertama. Dan pilihanku bukan produk gagal, kamu wanita yang kuat.'' batin Edgar.


''Kamu memang milikku, dan aku milikmu, takdir menjadikan aku dan kamu jadi KITA.'' imbuhnya.


Setelah mendengar secara diam-diam percakapan adik dan istri, Edgar langsung kembali ke kamar. Ia terlihat sumringah melihat interaksi antara adik dan istri. Ia bersyukur kedua orangtuanya mendidik anak-anaknya untuk untuk menjaga adab. Jangan meremehkan siapapun, meskipun terkadang anak-anaknya masih suka khilaf jika berhadapaan dengan seseorang yang dirasa mengganggu.

__ADS_1


"Aku berusaha untuk menepati janjiku, untuk selalu ada, selalu memberikan perhatian seperti perhatian yang lama kamu rindukan.'' gumam Edgar.


__ADS_2