Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 287 : Bapak Masih Mengingat Saya?


__ADS_3

''Jadi, ini alasannya?''


Edgar kembali memasukkan isi map itu ke dalam map lagi. Pikirannya masih terasa campur aduk. Ia akan mengisi perutnya terlebih dulu supaya bisa lebih jernih dalam berpikir.


Tiga puluh menit berlalu, Jimmy pun kembali ke ruangan Edgar setelah mendapatkan perintah dari bosnya itu. Ia mengetuk pintu dan langsung menuju kursi setelah dipersilahkan oleh pemilik ruangan.


''Silahkan kamu jelaskan semuanya padaku tentang pertemuanmu dengan dia, Jim.'' suruh Edgar.


Jimmy mengangguk.


''Sebetulnya saya sudah bertemu dengan orang itu bukan baru hari ini, Tuan.'' ungkap Jimmy.


Edgar pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada Jimmy.


''Untuk itu, saya mohon maaf karena telah merahasiakan hal ini dari anda.'' ucap Jimmy.


''Tapi, ada alasan yang membuat saya menunda untuk menyampaikan informasi ini.'' sambung Jimmy cepat sebelum Edgar memaki-makinya, karena ia melihat mulut Edgar sudah terbuka dan sudah dipastikan hendak melakukan protes.


''Pertama, hari itu bertepatan dengan kedatangan keluarga anda ke Indonesia. Saya tidak ingin membuat kehebohan dulu sebelum mendapatkan informasi yang benar-benar jelas. Terutama anda yang pastinya akan langsung berpikir keras mengenai hal ini. Saya khawatir anda tidak bisa menyembunyikan hal itu dari keluarga anda. Bukankah Anda tidak lupa jika nona Mentari akan peka terhadap sikap anda?''


''Ya, walaupun pada akhirnya nona Mentari akan dikasih tau juga, tapi, saya rasa anda tidak akan memberitahukannya secepat itu, bukan?''


''Saya tau, kedatangan keluarga anda untuk berbahagia karena hendak melakukan sesi foto bersama. Apalagi pertemuan dengan keluarga Ardi yang saya rasa itu momen penting bagi keluarga kalian setelah permasalahan yang terjadi.''


''Untuk itu, saya membuat janji pada anda dengan yakin, bahwa hari ini saya akan membawakan informasi yang anda minta.''


''Dimana posisi dia sekarang?'' potong Edgar setelah penyampaian panjang lebar dari Jimmy.


''Di rumah sakit, Tuan. Saya memaksanya untuk dirawat karena dia dalam kondisi lemah di rumahnya yang sangat sederhana. Awalnya dia menolak, tapi, akhirnya nurut juga.'' jawab Jimmy.


Edgar menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, ia memijit pelipisnya lagi.


''Ayo jalan sekarang!''

__ADS_1


Edgar sudah beranjak dari kursi kebesarannya. Jimmy pun langsung sigap ikut beranjak.


''Siap, Tuan.'' jawab Jimmy.


Dua pria itu keluar dari ruangan Edgar, mereka segera turun ke bawah.


Tidak sampai satu jam, Edgar dan Jimmy tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang rawat inap yang sudah Jimmy ketahui. Para pekerja di rumah sakit tersebut yang berpapasan dengan Edgar dan Jimmy pun tampak membungkukkan badannya.


Dari jarak beberapa meter, Edgar melihat dua pengawal yang ia kenali tengah berdiri tegap di depan ruangan itu.


''Saya memintanya untuk berjaga disini, Tuan. Saya khawatir dia akan kabur jika tanpa penjagaan.'' ujar Jimmy sebelum mendapatkan pertanyaan dari Edgar.


''Hmm, sudah paham.'' jawab Edgar.


Jimmy mengangguk sambil menarik nafasnya.


''Selamat siang, Tuan Edgar.''


''Selamat siang, Tuan Jimmy.''


''Ya, siang ... bagaimana? apakah aman?'' tanya Jimmy.


''Seperti yang anda khawatirkan, Tuan, dia hampir saja kabur beberapa menit setelah anda keluar. Tapi, sekarang sudah aman.'' jawab salah satu dari pengawal itu.


''Baiklah, terima kasih.'' ucap Jimmy.


Pengawal itu pun mengangguk.


Pengawal itu langsung bergeser, sedangkan Jimmy maju lebih dulu untuk membuka pintu ruangan tersebut. Terlihat seorang pria disana langsung duduk, ia membungkukkan kepalanya.


Tak lama kemudian, Edgar menyusul masuk ke ruangan itu. Pria yang tadinya masih bisa tersenyum tipis saat melihat kedatangan Jimmy pun langsung terbelalak melihat kedatangan Edgar. Ia langsung terduduk dan hendak turun dari ranjangnya.


''Tidak perlu turun, Pak.'' cegah Jimmy dan Edgar secara bersamaan.

__ADS_1


Edgar dan Jimmy langsung saling menatap saat mereka mengatakan kalimat yang sama.


''Ehm.''


Edgar berdehem pelan, lalu maju.


''Selamat siang, Pak ... kita berjumpa lagi.'' sapa Edgar dengan sopan. Tak lupa ia juga menampilkan senyum tipis dengan tangan yang ia ulurkan pada pria itu.


Pria itu langsung menatap tangan Edgar dan kembali mengangkat wajahnya dengan bingung.


''E, iya, selamat siang, Tuan Edgar.'' balas pria itu dengan suara yang gugup.


Edgar tersenyum lagi, ia lalu duduk di kursi yang baru saja didekatkan oleh Jimmy.


''Bapak masih mengingat saya?'' tanya Edgar dengan raut wajahnya yang datar.


Pria itu pun langsung menunduk dalam.


''Tentu saja, Tuan.'' jawab pria itu menatap Edgar sesaat, lalu kembali menunduk.


Edgar tersenyum tipis di sudut bibirnya. Sementara Jimmy masih setia berdiri di belakang Edgar dan tidak akan mengeluarkan kata-kata apapun sebelum Edgar selesai berbicara.


''Saya sudah mendengar semuanya dari Jimmy. Apa karena hal itu, anda menghindari saya waktu itu?'' tanya Edgar menyelidik mengingat ketika pertemuan tak sengajanya saat berada di sebuah taman bersama Erin waktu itu.


Bibir pria itu terlihat bergetar, ia seperti kesulitan untuk berbicara.


''Aa, e, ituu, sa-saya ...,''


Edgar memajukan tangan kanannya agar pria itu tidak perlu memaksakan diri untuk menjawab.


Ruangan itu menjadi hening beberapa detik karena belum ada yang berbicara lagi.


''Tolong jaga putri saya, Tuan.'' pinta pria itu yang akhirnya bersuara meskipun pelan dan sedikit bergetar.

__ADS_1


Edgar sedikit mengangguk, kemudian ia menarik nafasnya dalam-dalam.


''Apakah hanya dengan foto dan tulisan-tulisan itu, sudah cukup untuk kami jadikan bukti bahwa anda benar-benar ayah kandung dari istri saya?'' tanya Edgar menyelidik lagi.


__ADS_2