
''Kamu tau kenapa saya memanggilmu kesini ini, Ghadira?''
''Maksud saya Mentari?''
Mentari duduk berhadapan dengan tuan Erick dan juga mami mertua di ruang keluarga. Ia duduk dengan wajah menunduk dan meletakkan kedua tangan diatas pangkuan.
''Tidak Pi..'' jawab Mentari dengan gelengan pelan, ia mengangkat wajahnya sebentar lalu kembali menunduk.
Mentari sangat gugup berhadapan dengan ayah dan ibu mertuanya, di atas pangkuan, jari-jarinya terus saling menggenggam. Kali ini ia sangat membutuhkan sosok Edgar untuk berada disampingnya, namun, Edgar masih berada di kantor. Mentari hanya bisa pasrah diinterogasi oleh mertua.
''Saya merasa pernikahan kalian itu terjadi sangat mendadak, jujur saya sangat penasaran bagaimana kamu bisa menikah dengan Edgar? karena sangat tidak mungkin memutuskan menikah tanpa waktu yang panjang, tanpa komunikasi terlebih dulu dengan orangtuanya, ya tentu saja kami shock waktu mendengar kabar Edgar sudah menikah .'' selidik tuan Erick.
''E... itu..'' jawaban Mentari terasa berat.
''Maaf, sepertinya saya belum bisa menjawab, Tuan, eh Pi..''
Mentari menepuk-nepuk pelan bibirnya sendiri karena masih sering salah memanggil mertuanya. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk berada di situasi ini, sejak dulu jika berhadapan dengan pemilik Raymond group itu selalu gemetaran diseluruh tubuhnya. Dan sekarang berada dalam rumah yang sama dan status yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tuan Erick sedikit menyunggingkan senyumnya melihat menantunya yang sangat gugup berhadapan dengannya. Meskipun ia terlihat galak, tetapi tidak ada niat dihatinya untuk membenci menantunya.
''Apa kalian melakukan skandal?'' timpal mami dengan tatapan curiga.
''Tidak.'' jawab Mentari cepat.
__ADS_1
''Sungguh.. kami tidak macam-macam.'' imbuhnya.
''Apa Edgar membantu sesuatu padamu dan dia memanfaatkan itu untuk membuat pernikahan kontrak?'' tanyanya lagi.
''Maaf, Mami.. Papi..'' Mentari memberanikan diri menatap mertuanya secara bergantian.
''Bolehkah jika jawabannya saya serahkan ke suami saya?'' tutur Mentari hati-hati.
Tuan Erick dan mami terlihat saling melempar pandangan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Mentari.
''Apa kalian pacaran?'' selidik mami dengan sedikit menyondongkan tubuhnya ke arah Mentari.
''Ada apa ini?!'' seru Edgar.
Edgar berjalan menuju dimana kedua orangtuanya dan juga Mentari sedang duduk. Kemudian ia menatap secara bergantian.
''Duduklah, nak.. kebetulan kamu sudah pulang, kami ingin mengobrol.'' ujar tuan Erick.
Edgar duduk disamping Mentari, ia bisa melihat Mentari sedang menyembunyikan rasa gugupnya.
''Apa Mami dan Papi sedang memarahi istriku? kenapa dia terlihat gugup dan takut?'' selidik Edgar.
Tuan Erick tersenyum.
__ADS_1
''Tidak, Papi dan Mami hanya penasaran bagaimana awal mula kalian menikah, itu saja..'' balas tuan Erick.
''Tapi, Mentari tidak mau menjawab, dan menyerahkan jawabannya ke kamu..'' timpal mami.
Edgar menatap istrinya dengan saling memberi kode lewat tatapan mata. Artinya hanya mereka dan Tuhan yang tau.
''Aku rasa itu tidak perlu dibahas lagi Pi, Mi.. yang penting aku sudah mendapatkan istri, dan aku tidak main-main dengan apa yang sudah menjadi keputusanku.''
''Mentari adalah jodohku..'' ucap Edgar dengan penekanan lalu menatap Mentari.
Perasaan menjadi campur aduk, Mentari bisa merasakan getaran dihatinya mendengar ungkapan manis dari bibir Edgar. Lalu tatapan mata yang teduh dan senyum manis dari laki-laki yang biasanya terlihat dingin itu.
Namun, buru-buru Mentari mencoba mengendalikan perasaan dan juga pikirannya agar tidak terbuai kata-kata manis. Itu hanyalah ucapan manis untuk sebuah tipuan.
Tuan Erick dan juga mami terlihat menarik nafasnya dalam-dalam karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan.
Keduanya sangat bahagia dengan pernikahan Edgar. Namun, perjalanan yang secepat ini sangat tidak disangka-sangka oleh mami, apalagi tuan Erick. Mereka menyimpan rasa penasaran bagaimana awal mula terjadi.
''Hmm baiklah kalau kalian kompak tidak mau kasih jawaban ke kita. Yang pasti, kalian harus ingat..'' ujar mami, lalu menodongkan jari telunjuknya.
''Yang pasti apa Mi?'' tanya Mentari.
''Berikan kami cucu secepatnya.'' jawab mami dengan senyumnya yang sumringah.
__ADS_1
''He-he-he.''