
Seorang dokter memberikan penjelasan dengan menatap layar monitor dan juga Mentari secara bergantian. Sesekali juga beralih menatap Edgar.
Edgar sangat bahagia melihat perkembangan janin sang istri.
''Untuk jenis kelaminnya sendiri masih belum terlihat secara pasti, Tuan, Nona.'' ujar dokter tersebut.
''Yang terpenting istri saya dan calon anak-anak kami sehat, Dok.'' jawab Edgar.
Dokter tersebut lalu tersenyum.
''Tidak perlu khawatir, Tuan. Asalkan Nona Mentari selalu menjaga diri dengan baik, orang-orang disekitarnya juga memperhatikannya, saya pastikan semuanya baik-baik saja, Tuan.''
''Saya sangat bersyukur karena berada di dalam keluarga yang sangat-sangat memperdulikan saya, Dok.'' balas Mentari.
Mentari menatap suaminya yang masih setia menggenggam erat tangannya itu. Edgar pun membalas tatapan mata sang istri dengan senyuman yang tidak lepas.
''Saya percaya itu, Nona.'' ujar dokter wanita itu.
Edgar dan Mentari melakukan kontrol terhadap kandungannya secara rutin. Mengingat beberapa tahun yang lalu membuat Edgar tidak ingin merasakan penyesalan lagi.
''Mas, aku bahagia banget, terima kasih ya.'' ucap Mentari.
Keduanya selesai kontrol ke dokter spesialis kandungan yang berada di rumah sakit ibu dan anak itu langsung kembali ke dalam mobil.
''Aku juga sangat bahagia, sayang. Terima kasih sudah bersedia menjadi ibu untuk anak-anak kita.'' ucap Edgar.
Setibanya di dalam mobil, Edgar tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya. Keduanya pun sama-sama tersenyum bahagia setelah melakukan kontrol terhadap kandungan Mentari yang mendapatkan informasi positif.
__ADS_1
Edgar menciium kening Mentari, lalu mengusap-usap lembut perut sang istri. Edgar mengajak berbicara layaknya seorang ayah kepada anaknya.
Mentari tersenyum melihat pemandangan itu. Rasa bahagia dan syukur yang tidak pernah ada habisnya ia rasakan.
''Mau kemana lagi, sayang?'' tanya Edgar.
''Mas, sebenarnya aku punya keinginan.'' ujar Mentari lirih.
Ada keraguan yang terucap dari bibir Mentari. Sudah beberapa Minggu yang lalu ia langsung ingin mengatakan hal itu pada suaminya, tetapi masih belum menemukan waktu yang tepat. Karena Mentari tidak yakin Edgar akan mewujudkan keinginannya itu. Apalagi tempat itu membuat suaminya mengeluh tentang akses jalannya yang tidak bisa di lewati oleh mobil.
''Apa, sayang? kenapa ragu-ragu gitu sih?'' tanya Edgar penasaran.
''Kamu tidak yakin suamimu yang tampan ini tidak akan mewujudkan keinginan kamu?'' sambungnya.
''Iya.'' jawab Mentari jujur.
''Memangnya apa keinginanmu itu? apakah sangat-sangat sulit untuk di gapai?'' tanya Edgar.
Mentari menatap kedua mata suaminya. Begitu juga dengan Edgar yang membalas tatapan mata dari Mentari.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam.
''Aku rindu suasana rumah ibu, Mas. Aku benar-benar rindu masak disana, tidur dengan kesederhanaan yang ada di rumah itu. Rindu juga berinteraksi dengan tetangga, meskipun ada saja oknum-oknum yang suka berbicara tanpa memikirkan perasaan dan mental orang lain, tapi, banyak juga yang baik, dan selama ini aku bisa betah tinggal disana karena fokus saja pada orang-orang yang baiknya.'' jelas Mentari.
Edgar menyimak keinginan Mentari. Sebuah rasa rindu yang sederhana tetapi selalu di tahan-tahan hanya karena perasaan khawatir. Mentari tau, tidak mungkin ia pergi tanpa izin dari suaminya. Sudah cukup cerita kala itu, saat masih awal-awal pernikahannya yang tanpa rencana, apalagi cinta.
''Maaf Mas ... kalau kamu tidak bisa juga nggak papa kok. Aku juga berjanji nggak akan nekat pergi kesana sendiri. Aku tidak mau menambah dosa besar karena membangkang dari aturan suaminya.''
__ADS_1
Mentari mencoba untuk tetap tersenyum. Sebelum mendapatkan jawaban dari Edgar, ia sudah lebih dulu mempersiapkan perasaannya untuk kata-kata penolakan.
Lain halnya dengan Edgar, ia justru terkekeh kecil.
Tiba-tiba Edgar menarik bahu Mentari dan membawa ke dalam pelukannya.
''Maafkan aku ya, sayang. Karena sikapku itu membuat rasa khawatir tertanam di dalam perasaan kamu.''
''Kita akan kesana.'' ujar Edgar.
Mentari langsung mendongak menatap mata suaminya untuk melihat apakah ada kebohongan disana.
''Kamu yakin, Mas?'' tanya Mentari.
''Apa kamu meragukanku, sayang?'' balas Edgar.
''Bu-bukan begitu.''
Edgar mendaratkan ciumannya lagi.
''Kita tunggu akhir pekan ini ya, saat itu Jimmy sudah kembali. Dan kita bisa menginap disana. Aku tidak mau kesana di hari bekerja, aku tidak mau meninggalkan kamu sendirian di rumah.''
Kalimat itu membuat Mentari langsung kembali sumringah. Hal yang terlihat sederhana, tapi, sangat disambut bahagia.
''Kamu serius kan, Mas?'' tanya Mentari meyakinkan.
''Tentu, sayang.'' jawab Edgar.
__ADS_1
Mentari langsung mengeratkan pelukannya dan langsung membayangkan sudah berada di rumah tersebut.