Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 182 : Sebagai Tanda Permintaan Maaf


__ADS_3

Jimmy sudah mendarat di tanah air dengan lancar pada saat siang hari waktu Indonesia. Meskipun waktu transit sempat mengalami delay karena cuaca sempat hujan deras di negara tersebut. Beruntung saja, hal itu tidak berlangsung lama, dan penerbangan kembali dilanjutkan dengan lancar.


''Langsung ke kantor, Tuan?'' tanya pak Rahman.


''Iya, Pak.'' jawab Jimmy.


Mobil yang membawa Jimmy langsung menuju kantor. Bukan suatu hal yang baru bagi Jimmy, baginya tidak ada rasa lelah.


Setibanya di kantor, Jimmy langsung menuju ruangan bosnya yang sudah ia beri kabar terlebih dahulu.


''Permisi, Tuan.'' ucap Jimmy.


''Masuk, Jim.'' balas Edgar.


Edgar langsung berdiri dari kursi kebesarannya.


''Maaf, Tuan. Penerbangan sempat tertunda karena ada sedikit kendala waktu transit di negara X.'' ucap Jimmy.


''Iya, tidak apa-apa, kamu juga sudah memberikan informasi itu.''


''Ohh, iya.''


Jimmy sedikit nyengir karena memberi tau informasi yang sebelumnya sudah ia sampaikan lewat pesan.


''Kenapa kamu tidak istirahat dulu, Jim?'' tanya Edgar.


''Saya sudah banyak istirahat kemarin dan juga saat di dalam pesawat, Tuan.'' jawab Jimmy.


''Ada titipan dari nona Erin untuk anda dan juga nona Mentari, Tuan. Masih di dalam mobil pak Rahman.''


''Baiklah, nanti saja. Terima kasih banyak ya, Jim.'' Edgar menepuk bahu Jimmy.


Jimmy mengangguk.


''Silahkan kembali ke ruanganmu, nanti ada meeting jam tiga sore, tidak apa-apa kalau kamu mau istirahat dulu.''


Jimmy mengangguk lagi. ''Baik Tuan, nanti saya akan pergi bersama anda.''


Jimmy meninggalkan ruangan Edgar dan kembali ke ruangannya yang sudah tiga hari ini ia tinggalkan. Jimmy langsung duduk di kursinya lalu merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena sejak kemarin belum berolahraga.


Membayangkan pertemuan kemarin membuat Jimmy senyum-senyum sendiri. Ia sampai lupa belum memberikan kabar kepada Erin.


Jimmy langsung mengetik pesan untuk ia kirimkan pada sang kekasih yang di jauh sana. Setelah selesai, ia meletakkan ponsel tersebut di atas meja.


Pekerjaan yang sempat tertunda membuat Jimmy langsung menghidupkan laptopnya. Apalagi Edgar sudah memberikan informasi tentang meeting sore ini. Masih ada waktu yang cukup untuk beristirahat.


-


''Terima kasih, Pak.''


''Terima kasih.''


''Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar.''


''Aamiin ... saya harap juga begitu.''


Kedua pria berjas itu saling berjabat tangan setelah selesai meeting. Pria tersebut terlebih dahulu meninggalkan Edgar dan Jimmy.


''Syukurlah beliau menerima kerja sama dengan kita, Tuan.'' ujar Jimmy.


''Iya, Jim. Semua berkat kerja keras kita semuanya sehingga beliau memberikan kepercayaan itu pada kita. Kamu tau sendiri kan? sudah berapa banyak pengusaha yang menggunakan banyak cara untuk menarik perhatian beliau.''


Jimmy mengangguk.


''Benar, Tuan.''


Keduanya pun langsung berpisah, tidak lagi ke kantor. Karena Edgar meminta Jimmy untuk langsung pulang ke apartemennya di antar oleh supir kantor. Waktunya pun juga sudah lewat dari jam pulang kantor. Sedangkan Edgar membawa mobilnya sendiri. Oleh-oleh yang sudah dititipkan juga sudah dipindahkan ke dalam mobil Edgar.


''Jimmy terlihat cerah sekali.'' gumam Edgar sembari fokus menyetir.

__ADS_1


Edgar langsung menggeleng cepat, karena baginya itu hanyalah perasaannya saja. Ia kembali fokus ke jalanan yang sudah semakin dekat dengan rumah.


Baru saja mobil Edgar masuk ke dalam garasi, sudah terlihat sang istri yang menyambut kedatangannya. Edgar pun tersenyum saat mematikan mesin mobilnya.


Seperti biasanya, Mentari langsung mencium punggung tangan suaminya dan Edgar membalas dengan menciium kening Mentari, lalu turun menciium perut sang istri untuk menyapa anak-anaknya yang masih berada di dalam perut.


''Sayang ... anak-anak Papa, hari ini kalian di ajak ngapain aja sama mama?''


''Mama makan pedas-pedas, nggak?''


''Emm, apalagi yaaa?''


Mentari tertawa kecil.


''Nggak, Papa ... Mama hari ini banyak rebahan di kamar, katanya kakinya pegal-pegal minta di pijit.'' jawab Mentari.


''Ohhh, gitu ya, Nak?''


''Hu'um, Papaa.''


Keduanya pun langsung tertawa bersama.


''Oh ya, ada titipan dari Erin katanya. Sebentar aku ambil ya.'' ucap Edgar.


''Ohhh, iya-iya. Erin tadi mengirim pesan itu, dia bilang belikan sesuatu dan dibawa Jimmy.''


''Mentang-mentang sudah punya kakak baru.'' sahut Edgar yang berjalan ke belakang mobil.


''Nggak boleh cemburu.'' ujar Mentari yang mengikuti langkah Edgar.


Edgar membuka bagasi mobil dan mengambil satu kotak berukuran sedang.


''Ada yang bisa saya bantu, Tuan?''


''Ohh, tidak, Pak, biar saya bawa sendiri.'' jawab Edgar.


''Baik, Tuan.'' balas pak Dar.


''Ada apa, Mas?'' tanya Mentari.


''Sayang, kamu tidak baik kalau keseringan naik turun tangga seperti ini, apalagi kalau nanti perut kamu semakin besar.''


''Terus gimana, Mas? kamar kita kan ada di atas.'' jawab Mentari dengan berbalik tanya.


''Kami disini dulu, biar aku taruh kotak ini ke kamar. Sebentar aku kesini lagi.''


Mentari pun mengangguk, ia tidak tau apa yang ada dipikiran sang suami. Meskipun ia sendiri sudah memikirkan hal ini karena setiap hari merasakan naik turun tangga.


Tak lama kemudian Edgar kembali turun, ia langsung memanggil pak Dar untuk diajak diskusi.


''Ada yang bisa saya bantu, Tuan?''


''Begini Pak, istri saya kan sedang hamil. Untuk menaiki tangga setiap hari rasanya kasihan, apalagi kalau perutnya semakin besar nanti.''


''Saya memiliki rencana untuk menambah lift disini, jadi perabot-perabot disini perlu untuk dipindahkan ke tempat lain saja.''


Rumah itu memang rumah mewah model lama, hanya saja banyak renovasi yang dilakukan agar lebih terkesan modern. Dan sekarang Edgar sudah menyadari untuk melakukan perubahan lagi di dalam rumah itu.


''Baik, Tuan. Akan segera kami kerjakan.'' jawab pak Dar.


''Terima kasih.'' ucap Edgar.


Pak Dar pun mengangguk, lalu meninggalkan Edgar dan Mentari.


''Maaf ya, sayang. Aku tidak berpikir ini lebih awal, kamu pasti sudah sangat kelelahan 'kan?''


''Tidak apa-apa kok, Mas. Yang penting pijitin aku kalau aku kelelahan.'' jawab Mentari lalu tersenyum.


Mentari juga tidak menutup-nutupi, ia memang merasakan hal itu. Rumah yang luas dan tinggi membuat langkahnya pun semakin banyak pula. Sangat jauh berbeda dari rumahnya sendiri.

__ADS_1


''Bersabar dulu untuk menunggu sampai urusan lift selesai ya.''


Mentari mengangguk.


''Eh, Mas!''


''Sssttt, sebagai tanda permintaan maaf.''


Edgar menggendong Mentari tanpa izin dan membawanya naik melewati anak tangga. Para pekerja yang melihat pun juga tidak Edgar pedulikan.


''Malu dilihatin mereka, Mas.'' bisik Mentari.


''Biarkan saja.'' jawab Edgar lalu menciium bibir Mentari.


''Mas, ih!''


Edgar langsung tertawa, hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar.


''Sudah Mas, turunkan aku.'' pinta Mentari.


''Bayarannya dulu.''


Edgar sudah siap dengan memonyongkan bibirnya dan didekatkan pada Mentari. Tak perlu berpikir lama, Mentari langsung menciium bibir Edgar berkali-kali.


''Terima kasih, istriku. Ternyata kamu sangat bernafsu sekali.''


Mentari langsung membelalakkan matanya.


''Mana ada aku yang nafsu? enak aja!'' sungut Mentari.


Edgar langsung terkekeh sembari membuka pintu kamar.


Menjaili sang istri masih saja menjadi hobi Edgar. Karena hal itu selalu membuatnya tertawa, apalagi melihat wajah Mentari yang merona karena malu-malu.


Edgar langsung membuka pakaiannya yang ia kenakan saat ke kantor tadi. Mendapat tatapan dari sang istri membuat Edgar langsung memasukkan pakaian kotornya ke dalam keranjang.


''Sudah, jangan melotot terus. Suami kamu tidak lupa lagi kok, sayang.'' rayu Edgar yang sudah kembali dengan hanya mengenakan celana pendek.


''Kirain bakal naruh di kasur lagi, hmmm.'' jawab Mentari.


''Nggak, sayang ... kecuali kalau lupa, namanya juga manusia biasa.'' balas Edgar lalu memeluk sang istri.


''Nanti malam aku pijitin.'' bisik Edgar.


''Mau mijit yang benar, atau ada plus-plusnya?''


Buahahaha


Edgar langsung melepaskan tawanya. Ternyata sang istri sudah semakin paham dengan apa yang ia katakan.


''Tuh, kan?''


''Tapi, kamu suka 'kan?'' balas Edgar.


''Aku mau siapkan baju ganti, buruan mandi, Mas.'' Mentari berusaha melepaskan pelukan suaminya.


Edgar langsung mengurai pelukannya dan membiarkan sang istri untuk mempersiapkan baju ganti untuknya.


''Masih saja suka malu-malu.'' gumam Edgar menatap punggung Mentari yang berjalan memunggunginya.


Edgar tersenyum memandangi tubuh yang membuatnya candu itu.


''Terima kasih, istriku.'' ucap Edgar ketika Mentari sudah kembali dengan membawakan pakaian ganti.


''Sama-sama, suamiku.'' balas Mentari.


Edgar langsung bergegas menuju kamar mandi, sedangkan pakaian gantinya Mentari letakkan di sisi ranjang.


''Mas, setiap kali kamu menggodaku, sekali pun itu kamu lakukan setiap hari. Sampai detik ini aku masih deg-degan. Aku hanya berusaha untuk membiasakan diri di setiap hari yang kita jalani. Terima kasih sudah mencintaiku, meskipun aku bukan yang pertama bagimu. Begitu juga sebaliknya, aku sangat mencintaimu, Mas.'' gumam Mentari sembari menatap pintu kamar mandi.

__ADS_1


Mentari keluar dari kamar, dan membuatkan minuman untuk sang suami di mini pantry yang ada di lantai dua.


Setelah selesai, ia langsung membawa ke balkon kamar sembari menunggu matahari yang sebentar lagi akan terbenam.


__ADS_2