Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 123 : Dia Melibatkan Banyak Pihak


__ADS_3

Jimmy dan Dini sudah kompak untuk segera menyelesaikan permasalah ini. Ide dari Jimmy lah yang meminta Dini untuk memancing Mentari agar pergi secara diam-diam, karena Jimmy menghindari seseorang yang mencurigakan di dalam rumah itu. Meski begitu, dari jauh Jimmy menyiapkan beberapa pengawal yang menggunakan mobil lain untuk mengawal perjalanan dua wanita itu agar tetap aman.


Pada hari ini, Afryan selaku suami dari Dini tidak bisa ikut karena sedang memiliki kegiatan lain yang tidak bisa ia tunda. Sehingga mempercayakan kepada istrinya saja untuk gabung bersama Jimmy dalam misi penyelesaian masalah yang melibatkan petinggi Raymond group.


Selain pada Mychelle, Jimmy juga menaruh curiga kepada pekerja dirumah Edgar. Kedua mata Jimmy saat mendatangi kediaman rumah Edgar tertuju pada salah satu asisten rumah tangga perempuan disana. Salah satu dari yang ikut bersama Mentari ke supermarket.


••


Di ruangan meeting itu, Jimmy yang lebih banyak bekerja memberikan penjelasan.


''Sebentar.'' potong Edgar.


Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk, ia meminta Jimmy untuk menghentikan perkataannya terlebih dahulu.


Jimmy pun langsung diam dan menanti perintah dari bosnya.


''Apa ini?!'' seru Edgar lalu menatap tajam pada Mentari setelah membuka pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.


Semuanya langsung mengikuti tatapan mata Edgar.


''Kenapa?'' tanya Mentari tidak mengerti karena mendapat tatapan dari suaminya.


Edgar mengangkat ponselnya dan memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan sebuah foto.


Mentari langsung terbelalak, begitu juga dengan Dini yang melihat foto itu.


''Pasti aku dijebak!'' seru Mentari geram.


''Yakin dijebak atau sekarang merasa terjebak karena ketahuan?''


''Mas! aku juga nggak tau ada dia disana. Itu kejadian setelah aku lihat kamu dipeluk sama mantan kamu! Itu sangat cepat, aku langsung menepisnya dan setelah itu aku langsung pergi!''


Edgar langsung terdiam, ia sadar hanya terbawa rasa cemburu. Mentari bisa dipercaya tidak mungkin melakukan tindakan yang menyakitinya.


''Sayangnya tidak ada bukti.'' keluh Mentari.

__ADS_1


''Tenang Nona, saya memiliki bukti.'' timpal Jimmy.


Semua langsung beralih menatap Jimmy dengan serius.


''Maksudnya?'' tanya Mentari.


Jimmy memperlihatkan video hasil rekamannya kepada Edgar.


''Saya berniat untuk mampir ke rumah sakit itu. Tapi, justru di suguhi dengan pemandangan yang seperti ada di video ini.'' terang Jimmy.


Edgar semakin geram membayangkan sepupunya sendiri. Benar-benar cara yang kotor.


''Maafkan aku.'' ucap Edgar lirih pada Mentari.


''Hmm..'' jawab Mentari singkat.


Jimmy memijat pelipisnya yang terasa pusing menghadapi permasalahan bosnya itu.


''Tuan Edgar, Nona Mentari.. kalian harus bekerjasama untuk menghadapi kerjasama mereka. Ingat! tujuan mereka mau memisahkan kalian berdua. Jadi, permasalahan yang terjadi ini dan membuat kalian terpancing cemburu itu karena akal-akalan mereka saja.''


Akhirnya Jimmy pun menjelaskan secara detail di ruangan itu. Lalu video hasil kamera pengintai yang ada di gedung lantai tiga cafe milik Dini di putar. Jimmy dan Dini bergantian menjelaskan tentang rekaman cctv itu.


Edgar mengepalkan tangannya yang geram dengan ulah mantan istrinya dan juga sepupunya sendiri.


''Kita harus segera membuat laporan balik!''


''Tentu saja Tuan.'' jawab Jimmy.


''Dan rumah sakit beserta dokter dan tim yang menangani Mychelle terlibat persekongkolan itu! pantas saja dokter itu sangat meyakini disana bisa menanganinya. Dan menolak usulanku untuk dibawa ke rumah sakit besar!''


''Dia benar-benar sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang dan siap kapanpun mengeksekusinya!'' sambung Edgar.


''Ya, ya.. dia melibatkan banyak pihak, Tuan.''


''Terimakasih banyak, Nona Dini.'' ucap Edgar.

__ADS_1


''E.. iya sama-sama, Tuan.''


''Kakak nggak tau harus berterimakasih dengan cara apa sama kamu Din.'' ucap Mentari kepada Dini.


Dini tersenyum, ia pun tak tau harus menjawab apa.


''Aku senang melihat Kakak bahagia. Dan Kakak harus bahagia yang sebenarnya.''


Kedua wanita itu langsung berpelukan.


''Selanjutnya masalah ini saya serahkan kepada anda, Pak Ikhsan, dan juga Jimmy. Saya percaya kepada Jimmy untuk mewakili saya dan mengurus berkas-berkasnya.''


''Baik Tuan.''


''Sebaiknya kamu antar nona Dini sampai ke rumahnya, Jim. Aku khawatir karena dia sendiri.''


''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.


''Tidak perlu repot-repot, Tuan. Saya tidak papa pulang sendiri.'' jawab Dini.


''Kami sangat berhutang budi, jadi biarkan Jimmy yang mengantar.''


''Nggak papa, Din. Kakak juga nggak tenang kalau kamu pulang sendirian.''


''Baiklah kalau memang tidak merepotkan.'' ujar Dini.


Mentari tersenyum lega.


''Setelah permasalahan ini selesai, Kakak berjanji akan menemuimu.'' ujar Mentari setelah Dini pamit.


''Dengan senang hati Kak.'' balas Dini.


''Maaf, Kakak nggak bisa mengantar kamu pulang. Sepertinya Kakak harus mengistirahatkan pikiran dulu.''


''Nggak papa Kak, aku mengerti.'' jawab Dini.

__ADS_1


Kedua wanita itu berpelukan singkat sebelum berpisah, lalu Jimmy mengantarkan Dini langsung ke kediamannya. Sedangkan mobil Dini dibawa oleh pengawal.


__ADS_2