
Mereka duduk di ruang atasan restoran tersebut yang berada di lantai dua.
''Kamu, apa kabar Din?'' tanya Mentari lebih dulu setelah mereka duduk.
''Baik Kak, Kak Dira apa kabar?'' tanya Dini balik. Ia belum mengetahui perubahan nama panggilan dari Mentari.
''Kalian saling kenal?'' tanya Edgar memotong percakapan keduanya.
Edgar menelisik wanita yang baru pertama kali ia lihat. Ia tak ingin Mentari berada di lingkungan yang tidak baik. Tetapi sepertinya, wanita itu orang baik-baik.
''Iya Mas, kita saling kenal. Dini dulu pernah training di kantor cabang, bareng sama aku. Tapi, dia nggak lanjut. Dan beberapa waktu setelah itu kita putus komunikasi ya Din..'' jelas Mentari beralih menatap Dini.
''Iya betul, Tuan.'' balas Dini.
''E.. untuk mengenai hal tadi. Sebetulnya itu masalah masalalu Kakak, Din. Beliau mantan mertua Kakak. Hubungan kami memang berakhir kurang baik.'' Mentari menghela nafasnya.
''Maaf ya pertemuan kita harus di warnai hal seperti ini. Merusak kenyaman pengunjung di restoran kamu.'' ujar Mentari.
''Belum baku hantam, masih aman Kak haha..'' jawab Dini.
''Jadi tante Lita itu mantan mertua Kak Dira?'' imbuhnya.
''Kamu kenal sama beliau, Din?
Dini menggeleng. ''Tidak kenal sih Kak, aku hanya tau dari cerita ayah mertua. Tante Lita kenalan ayah, dan sempat akan bekerjasama, ternyata malah menipu.''
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam. Sebod*h itukah ia dahulu sampai tidak merasakan apa-apa tentang keburukan yang ada di dalam diri wanita yang akan menjadi mertuanya kala itu.
''Ternyata memang memiliki tabiat yang buruk.'' gumam Jimmy yang sedari tadi menyimak.
Gumaman Jimmy bisa di dengar oleh lainnya. Sehingga membuat yang lain menatapnya.
''Silahkan dilanjutkan.'' ujar Jimmy setelah menyadari ia sedang di tatap.
''Ntahlah dulu kenapa Kakak bisa masuk ke dalam keluarga itu.'' ujar Mentari lirih. Seakan ingin merutuki semua yang sudah terjadi.
''Maaf Kak Dira, aku tidak bermaksud apa-apa.'' ucap Dini merasa bersalah.
Mentari mengusap lengan Dini.
''Tidak papa kok.''
__ADS_1
''Oh ya Din, kamu tadi bilang ayah mertua? kamu sudah menikah?'' tanya Mentari.
''Sebetulnya aku tidak lanjut itu karena menikah Kak hehe.''
Mentari mengangguk-angguk paham.
''Kakak ikut senang dengarnya, Din. Apaa, sama pria lebih muda itu?'' tebak Mentari sedikit berbisik.
''Kok Kakak tau?''
''Kakak masih ingat kamu menanyakan hal itu.'' jawab Mentari.
Dini langsung terkekeh, dan kembali mengingat ketika dirinya mempertanyakan bagaimana jika memiliki pasangan yang usianya lebih muda darinya.
''Haha ya-ya, aku ingat. Duh jadi malu.''
''Mohon maaf Tuan, Tuan..'' ucap Dini kepada Edgar dan Jimmy.
Kedua pria itu mengangguk. Meskipun mereka seperti obat nyamuk, tetapi tetap berusaha mengerti untuk memberikan waktu kepada dua wanita yang tengah melepas rindu.
''Kakak bangga sama kamu, ternyata restoran ini punya kamu. Sukses terus ya Din..'' tutur Mentari.
''Aamiin Kak, aamiin.. Semua merangkak Kak, dulu bikin cafe di rumah, kalau siang lantai bawah jadi bengkel, kalau malam lantai dua baru cafenya beroperasi hehe. Yaahhh, hasilnya ditabung-tabung dan jadilah ini. Rezeki setelah anak lahir.'' jawab Dini.
''Iya Kak, sudah hampir tiga tahun umurnya. Nama ANS juga singkatan dari nama anakku, Ashilla Nahla Sanjaya.'' jelas Dini.
''Pasti cantik, seperti ibunya.'' ujar Mentari.
Dini tersenyum.
''E.. maaf mau kepo sedikit. Jadi, Kakak sama tuan Edgar sudah menikah?'' tanya Dini pelan.
''Iya Din, Kakak sudah menikah.''
Dini tiba-tiba memeluk Mentari.
''Mungkin selama ini aku jarang mengikuti berita, jadi ketinggalan informasi. Tapi, aku senang sekali melihat Kakak bahagia.'' ujar Dini.
''Semoga kita benar-benar bahagia ya Din, bukan hanya sekedar terlihat saja.''
''Aamiin Kak.''
__ADS_1
''Do'akan Kakak supaya segera dikasih amanah ya.. seperti kamu.'' ucap Mentari dengan menatap Dini sendu.
Dini melihat tatapan mata Mentari yang sedih.
''Pasti aku do'akan untuk Kakak. Dulu, aku juga nggak langsung kok Kak. Semangat..''
''Terimakasih ya Din.''
Dini mengangguk.
''Sebaiknya kalian makan siang disini saja, hitung-hitung sebagai ucapan syukur atas pertemuan kita Kak..'' ucap Dini.
Mentari menatap mata Edgar dan Jimmy bergantian.
''Emm.. mohon maaf Din, bukan maksud kami menolak. Tapi, suami Kakak masih ada pekerjaan, mungkin lain kali kita bisa ketemuan lagi. Sekalian Kakak ingin bertemu sama anak kamu.''
''O gitu.. yaudah deh nggak papa Kak. Boleh aku minta nomornya, Kak?''
''Oh iya tentu boleh, Kakak hampir lupa. Sebentar ya..''
Mentari mengambil ponselnya lalu bertukar nomor telepon dengan Dini.
''Sekali lagi Kakak mohon maaf atas kejadian tadi.'' ucap Mentari.
''No problem, Kak Dira.''
''Terimakasih.. Kakak permisi dulu ya.'' ucap Mentari setelah memberikan kode kepada Edgar untuk segera undur diri.
Mentari, Edgar, dan Jimmy bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Dini. Mereka berpamitan, Mentari dan Dini kembali berpelukan sebelum berpisah lagi.
''Loh, dimana?'' Mentari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mobil yang mengantarkannya tadi.
''Sudah ku suruh pulang, sayang. Kamu ikut aku ke kantor.'' ujar Edgar.
''Main usir-usir aja.''
''Nggak papa, yang penting tetap di gaji.''
''Dih.. dasar bos Edgar!''
Hahaha
__ADS_1
Mereka saling melontarkan candaan saat menuju mobil. Sedangkan Jimmy kembali menjadi obat nyamuk. Menyaksikan pasangan yang sedang dimabuk asmara.
''Sabar mbloooo, eh tidak jomblo, tapi, masih rahasia pabrik.'' bathin Jimmy.