
''Mas.. jangan bikin aku khawatir.''
Isak tangis yang sedari tadi ia tahan sudah mengalir di pipinya. Mentari tidak mau kehilangan lagi. Jika boleh meminta, ia meminta kepada Tuhan untuk memanggilnya terlebih dulu supaya tidak lagi merasakan pedihnya kehilangan.
''Jangan khawatir, aku sudah kembali..''
Mentari langsung terkejut mendengar suara itu, ia takut suara itu hanyalah halusinasinya yang menunggu kepulangan Edgar. Mentari menyeka airmatanya lalu mencari sumber suara yang baru saja ia dengar.
''Mas.. ini beneran kamu?''
Mentari langsung berdiri menghadap Edgar yang berada di belakang kursi sembari menyeka airmatanya lagi.
Edgar menyimpulkan senyumnya lalu memutar untuk menghampiri Mentari.
''Iya ini aku, suamimu yang tampan dan seksi, kan?'' goda Edgar membuat Mentari sedikit tersenyum.
Edgar mengusap lembut wajah Mentari untuk menghilangkan airmata itu. Ia tidak ingin wanita yang sekarang sudah ia cintai menangis karenanya.
''Maaf sudah membuatmu khawatir, semalam aku lupa tidak ngecas hp dan setelah makan siang baterai habis, Jimmy juga tidak bawa charger.''
Edgar memeluk Mentari dengan erat, ia juga sangat khawatir dan merindukan istrinya.
''Aku takut kamu kenapa-kenapa Mas..'' ucap Mentari lirih di dalam pelukan Edgar.
''Sekarang sudah lega kan?'' tanya Edgar.
Mentari mengangguk.
Edgar mengurai pelukannya dan keduanya saling menatap intens.
''Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.'' ucap Edgar.
''Tentu saja aku khawatir, Mas. Kamu suamiku.'' jawab Mentari cepat dengan bibir yang mengerucut.
''Apa? coba ulang lagi?'' pinta Edgar langsung mendekatkan telinganya di bibir Mentari.
''Apanya yang di ulang Mas??''
''Udah buruan bilang apa tadi? kamu apa?'' paksa Edgar.
''Kamu suamiku.'' ucap Mentari.
''Lagi..'' pinta Edgar.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam.
''Kamu su-a-mi-ku..'' kata Mentari dengan mengeja.
''Kamu istriku..'' balas Edgar lalu kembali memeluk Mentari.
__ADS_1
''Kamu bau keringat, Mas..'' bisik Mentari.
Spontan Edgar melepaskan pelukannya dan memeriksa kedua ketiak dengan menciumi satu persatu.
''Nggak bau..'' ujar Edgar dengan mimik wajah yang serius.
Mentari langsung terkekeh pelan.
''Oooooooow pinter ya sekarang jailin suaminya..''
''Aaaaa kabuuuurrrrr..''
Mentari berlarian meninggalkan Edgar, tentu saja Edgar mengejar dan terjadilah kejar-kejaran antara suami istri ini.
''Mau lari kemana?'' Edgar berhasil mendekap erat tubuh Mentari.
''Ampuun Mas, lepasin..'' pinta Mentari.
''Nggak mau.. nih cium keringatku yang wangi..'' goda Edgar.
''Nggak mau, keteknya bau..''
Edgar semakin semangat menggoda sang istri yang berada di bawahnya.
''Mas, kamu kok cepat sampai rumah? katanya larut malam?'' Mentari mencoba mengalihkan perbincangan.
''Kalau aku pulangnya lebih larut malam, kamu mau tidur diluar? untung aja bisa pulang cepet.''
''Khawatir banget ya?'' Edgar menarik bahu Mentari agar duduk dan menyudahi candaannya.
Mentari langsung mengerucutkan bibirnya dan menunduk.
''Pake ditanya.'' gumamnya.
Meskipun suara itu sangat pelan, tetapi Edgar mendengar gumaman Mentari dengan jelas.
''Sekarang jangan khawatir lagi, aku ada disini.'' Edgar kembali memeluk Mentari dan mendaratkan kecupan manis di kening sang istri.
Mentari membalas pelukan suaminya, ia sudah lega karena kekhawatirannya terjawab dengan hal yang baik, suaminya sudah kembali ke rumah dalam keadaan sehat.
Mentari mendongak seraya mengucapkan sebuah kalimat.
''Jangan tinggalkan aku, Tuan Edgar Raymond.''
''Tidak sayang, istriku, Nona Ghadira Mentari..'' balas Edgar.
Keduanya kembali berpelukan.
''Aku mau mandi, jangan tidur dulu ya..'' ucap Edgar.
__ADS_1
Mentari mengangguk. ''Iya Mas.'' jawabnya.
Edgar segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Mentari langsung menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Setelah meletakkan pakaian ganti untuk Edgar, Mentari keluar kamar menuju mini pantry yang ada di sudut lantai dua untuk membuatkan suaminya minuman hangat.
Tidak lama kemudian, Mentari kembali ke kamar dengan membawa segelas minuman hangat.
''Darimana sayang?'' tanya Edgar yang masih menyisir rambutnya. Ia hanya mendengar suara pintu tanpa menoleh.
''Ini bikin minum.'' jawab Mentari.
Edgar meletakkan sisir yang selesai ia pakai, lalu mendekati Mentari.
''Terimakasih sayang..'' ucapnya lalu memberikan kecupan manis.
Mentari meletakkan gelas tersebut ke meja yang menghadap ke televisi. Dan Edgar langsung duduk disana menyeruput minuman itu.
''Kamu capek ya Mas? mau tak pijitin?'' tanya Mentari.
''Memangnya bisa?'' goda Edgar.
''Coba dulu..''
''Oke..''
Edgar langsung turun, ia duduk di lantai dan menepuk pundaknya agar Mentari memberikan pijatannya disana.
Mentari mulai memberikan pijatan itu, Edgar tampak menikmati.
''Ternyata tangan kamu kuat juga, enak sekali..''
Mentari hanya menyimpulkan senyumnya.
Belum lima menit, Mentari sudah mulai terserang rasa kantuk. Kelegaannya saat Edgar sudah dirumah menjadikan obat, karena sedari tadi pikiran dan hatinya hanya diselimuti oleh hal-hal kurang baik.
''Sudah enakan..'' Edgar menyudahi terlebih dulu.
''Hah? udah?'' tanya Mentari yang setengah sadar.
Edgar tersenyum melihat Mentari yang seperti sedang mengigau.
''Sini tiduran disini..'' Edgar menepuk pahanya agar Mentari merebahkan kepalanya disana.
Edgar baru menyeruput minumannya sekali, ia menyalakan televisi sambil menghabiskan minumannya.
Mentari terlihat meringkuk, deru nafasnya terdengar teratur menandakan ia sudah tidur. Edgar menunggu beberapa saat agar Mentari tertidur pulas dulu baru akan dipindahkan.
Edgar segera menghabiskan minumannya dan mematikan televisi. Ia langsung membopong tubuh Mentari untuk dipindahkan ke atas ranjang.
__ADS_1
Edgar mengusap lembut wajah Mentari yang sudah tidur.
''Terimakasih sudah memberikan sinar untuk disetiap hariku, sayang.. aku mencintaimu''