
Indonesia, Kediaman Madeline.
sudah tiga hari Diandra tinggal di rumah milik Madeline, kini wajahnya tampak lebih segar dari sebelumnya Madeline juga menjadi teman saat Diandra ingin bercerita, tapi satu yang membuat Madeline bingung! bagaimana bisa mereka bertemu di saat keadaan yang membuat Madeline heran sekaligus merinding.
" Madeline. " seru Diandra menatap Madeline yang baru saja bangun tidur. " kemarilah nak, mari kita sarapan bersama. Setelah ini kita akan berbicara " ucap Diandra dan Madeline mengangguk saja.
Diandra tersenyum dan kini dua wanita berbeda usia itu menakan sarapan nya dengan tenang. Setelah itu Diandra mengajak Madeline untuk berbicara.
inilah yang ditunggu Madeline tiga hari berturut-turut, ia menunggu Diandra untuk menceritakan kejadian sesungguhnya.
" Madeline pertama-tama aku ingin berterimakasih padamu karena telah menyelamatkan aku. Jika saja aku tak bertemu dengan mu mungkin aku sudah tertangkap lagi oleh lelaki bajingan itu " ucap Diandra dan Madeline tampak diam mendengarkan cerita itu dengan seksama. " bisakah aku meminjam ponsel mu. Aku ingin menghubungi suamiku ". pinta Diandra dan Madeline mengangguk.
" silahkan nyonya. " ucap Madeline dengan menyodorkan ponsel kedua miliknya. karena itu adalah ponsel yang bisa menghubungi orang di luar negara ini.
Diandra bergetar saat mengetik nomer milik suaminya, jantungnya berdegup kencang saat sambungan telepon itu mulai tersambung, Madeline tampak menunggunya dengan sabar.
" Hallo ? " ucap seseorang diseberang sana, Diandra tampak senang bukan main.
" Asyur " kata itu hal yang diucapkan oleh Diandra.
" Diandra ? itukah kau. Benarkah itu kau Diandra " ucap Asyur dengan nada tak percaya.
'' Ini aku Asyur. Maaf telah membuat mu khawatir. Segeralah jemput aku dikediaman Madeline. Nanti ia akan memberitahukan padamu dimana lokasinya. '' ucap Diandra dengan lembut.
" Madeline ?? tapi bagaimana bisa Diandra. Ahh sudahlah. Aku akan menunggu, dan tunggu aku. Aku sangat merindukan mu " ucap Asyur dengan perasaan yang senang tapi membuat Diandra seketika tertegun dan terenyuh.
Akhirnya Diandra mengakhiri panggilan tersebut dan memberikan ponsel itu pada Madeline kembali, Madeline pun segera mengirim lokasi rumahnya pada nomor milik Asyur Dutton.
" Aku sudah mengirimnya nyonya " ucap Madeline dan Diandra mengangguk seraya tersenyum lembut. Pada saat Diandra akan berbicara kembali pintu rumah milik Madeline di ketuk seseorang membuat sang pemilik mengerutkan dahinya seketika.
siapa yang bertamu ?. Batin Madeline.
" Nyonya... Apakah lelaki kemarin berbahaya ? " ucap Madeline tampak ragu-ragu dan Diandra hanya mengangguk tanpa ragu " ohh apakah lelaki itu menemukan kediaman ku ? " pekik Madeline dan Diandra seketika tersentak sekaligus panik
DOK DOK DOK
BRAKKKKKK
" Diandra !! '' pekik suara seorang lelaki yang berteriak dengan lantang. Diandra dan Madeline yang berada di lantai atas tentu saja panik bukan main.
Madeline kelimpungan untuk menyembunyikan ibu dari pria yang ia cintai, Diandra berfikir dengan keras apa yang harus ia lakukan.
" nyonya. Keluarlah lewat sini '' pekik Madeline saat menuju sebuah pintu exit di sebelah kamar yang mereka tempati, Diandra mengangguk dan dengan cepat bergerak tapi sayang. Chaiden berserta empat anak buah nya sudah menemukan mereka.
'' Berani sekali kau melarikan diri Diandra !! '' teriak marah Chaiden hingga otot-otot lehernya menonjol dengan mata memerah.
'' bajingan menjauh dariku. '' teriak Diandra lagi dengan mata melotot lebar, Chaiden terkekeh tapi sebuah seringai tipis membuat Diandra memundurkan langkahnya sesaat.
Madeline takut serta bingung dan juga gugup dengan tatapan para pria asing di rumahnya sungguh menakutkan, tatapan tajam itu mengingatkan dirinya akan tatapan Malvin yang selalu seperti itu.
__ADS_1
PRANGGG
" DIANDRA !! '' teriak Chaiden lantang saat Diandra melempar sebuah pas bunga dan mengenai kepala Chaiden hingga berdarah.
" Madeline ayo '' pekik Diandra seraya menarik tangan Madeline untuk kabur dari sana. Kedua wanita berbeda usia itu dengan segera melarikan diri dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, para anak buah Chaiden mengejarnya dengan cepat.
Madeline dan Diandra melempar barang-barang yang dapat di raihnya lalu mereka lemparkan kearah belakang untuk menjadi senjatanya, suara kebisingan sontak memenuhi rumah Madeline.
BUGHHHHHH
AGHHH
Madeline terkena tendangan dari salah satu anak buah Chaiden, hingga ia meringis dan kesakitan tentu saja Diandra panik bukan main.
" Bajingan kalian !! '' pekik Diandra lagi.
" nyonya pergilah cepat. Jangan hiraukan aku '' titah Madeline lagi tapi Diandra menggeleng tegas tak lama Chaiden muncul dengan wajah yang penuh amarah.
Nafasnya terlihat memburu ia melihat Diandra dan juga Madeline dengan tatapan tajam mematikan, tidak !! ini tak bisa dibiarkan.
AGHHH
Diandra berteriak kala sebuah tangan menjambak kasar rambutnya, Madeline terperangah ditempatnya.
" lepaskan aku Chaiden !! '' ucap Diandra dengan menatap nyalang kearah Chaiden.
" tidak akan !! '' bentak Chaiden.
BUGHHHHHH
AGHHH
BUGHHHHHH
AGHHH
Madeline melakukan hal yang sama, ia memukul wajah orang yang memegang tangannya dengan kuat. Seketika mereka berdua lari dari tempat itu dan tentu saja anak buah Chaiden kembali mengejarnya.
'' Tangkap mereka! '' teriak Chaiden kali ini akan benar-benar marah.
Chaiden berlari dengan kemarahan di hatinya, kaki ini ia tak akan sungkan untuk menyakiti Diandra karena terus memberontak.
'' berhenti atau peluru milikku bersarang di tubuh mu '' ancam Chaiden dengan lantang,
Diandra tak perduli ia dan Madeline terus berlari hingga mendekat kearah mobil milik Madeline. Peringatan Chaiden tak dihiraukan nya sama sekali.
DORR !
Diandra terpaku kala mendengar suara itu, seseorang mendekap erat tubuhnya. Madeline wanita itu menyelamatkan nyawanya dari incaran Chaiden.
__ADS_1
'' Madeline '' lirih Diandra saat tubuh Madeline terkulai dan roboh tapi matanya masih menatap kearah Diandra.
'' pergilah nyonya '' ucap Madeline lirih dengan mata yang terpejam menahan rasa sakit di punggungnya, Diandra menangis kala mengusap punggung Madeline yang basah karena cairan berwarna merah itu.
DODODODOR !!
Chaiden tersenyum miring menatap Madeline yang menjadi tameng untuk wanitanya, Diandra menahan segala amarah dalam hatinya, ia bangkit dan berjalan cepat kearah Chaiden.
PLAKKK
'' kau benar-benar biadab Chaiden! kau melibatkan Madeline yang tak tau apa-apa. Kau benar-benar brengsek! Seharusnya kau mati saja '' maki Diandra dengan wajah marah menatap Chaiden nafasnya terdengar memburu.
" Mommy " ucap tiba-tiba seorang lelaki yang sangat dikenal oleh Diandra maupun Madeline, Chaiden membelakkan matanya lebar saat melihat kedatangan Malvin yang tiba-tiba.
Chaiden menarik Diandra kedalam dekapannya, dengan menodongkan moncong senjata miliknya tepat di kepala Diandra. Malvin seketika menggeram marah.
'' lepaskan ibuku brengsek '' geram Malvin tapi Chaiden terkekeh dan terkesan mengejek menatap remeh kearah Malvin.
'' menjauh dariku berikan aku jalan dan tarik anak buah mu '' ucap Chaiden dengan datar tapi Malvin diam saja tapi maniknya menatap Chaiden dan empat anak buahnya dengan tajam.
Diandra menggeleng lemah menatap putranya agar tak mengikuti perintah Chaiden yang menurutnya hanya sebuah tipu muslihat, tapi Malvin justru menyadarinya jika ini adalah trik Chaiden untuk membawa ibunya pergi dari tempat ini.
sedangkan Madeline yang melihat kedatangan Malvin tiba-tiba seketika termenung dan tak menghiraukan rasa sakit yang kini mulai menjalar di area punggungnya, bahkan wajahnya sudah mulai memucat.
" minggir !! " pekik Chaiden yang marah karena Malvin tak mau menuruti perintahnya.
'' Kau benar-benar menguji kesabaran ku tuan Chaiden. Kau selalu mencari gara-gara dengan ku tapi kali ini kau tak akan lolos dari jeratan ku '' ucap Malvin yang tenang dengan nada yang begitu sangat datar.
" Aku tak main-main dengan ucapan ku. Minggir atau kau akan melihat ibumu aku sakiti tepat di depan mata mu '' Chaiden membalas ucapan Malvin tak kalah tegas dan terkesan tak main-main.
AGHHH
" bajingan !! " Raung Malvin saat melihat rambut Diandra ditarik paksa hingga Diandra berteriak kesakitan dengan mata terpejam.
'' lihat. Aku tak main-main bukan '' smirk Chaiden dan hal itu membuat Malvin segera menyingkir dan memberikan jalan untuk Chaiden berjalan tanpa halangan.
anak buah Chaiden dengan serempak menodongkan senjatanya kearah Malvin dan para anak buahnya. Madeline sudah tak bisa menahan lagi rasa sakitnya tapi lagi-lagi ia justru dipaksa agar kesadaran nya tetap terjaga karena Chaiden menarik pelatuk nya dengan cepat kearah Malvin.
DORR
" Madeline " ucap Malvin terkejut saat gerakan Madeline yang tiba-tiba berlari kearah dirinya hanya untuk menghalangi peluru yang hendak melukai tubuhnya.
Malvin terkejut dengan cepat meraih tubuh Madeline yang limbung, Malvin seketika panik saat melihat wajah Madeline yang pucat bahkan peluru itu masuk dan melukai perutnya.
" Madeline tetap lah sadar. '' perintah Malvin yang membopong Madeline dalam pangkuannya. Maniknya berkilat penuh amarah menatap Chaiden yang memasuki mobil bersama ibu dan anak buah nya.
senyum Malvin terbit saat melihat kedatangan beberapa buah mobil ke kediaman Madeline, Asyur ! ya itu pasti Asyur Dutton dan juga rombongannya.
" Malvin '' ucap Madeline dengan lirih dan pelaksanaan manik nya menatap sayu wajah Malvin serta tangannya mencoba untuk meraih dan menggapai wajah Malvin hingga ia tak mampu lagi untuk menjaga kesadarannya.
__ADS_1
" No! Madeline '' teriak Malvin saat manik Madeline tertutup dengan sempurna.