
Dua hari setelah pernikahan Malvin.
Lirihan kecil yang terdengar begitu menyayat keluar dari mulut seorang wanita yang usianya tak muda lagi. Rasa letih dan amarah terlihat jelas di wajah manisnya. Ya Lavanya istri dari Diego kini berada di sebuah ruangan pengap yang hanya terdapat sebuah lubang kecil seperti ventilasi.
Kilasan ingatan yang terjadi beberapa bulan terakhir ini seakan membuat jiwanya terguncang. tangisan nya turun begitu saja saat melihat dengan jelas jika suaminya tewas didepan matanya.
" Hiks...hiks... Kenapa kau meninggalkan ku Diego. Aku takut, '' isak Lavanya menangis begitu lirih hingga tanpa sadar menggigit erat bibirnya hingga berdarah. Rasa perih tak ia rasakan namun rasa sesak yang menghantam dadanya kini begitu sulit ia lupakan ditambah putranya yang dipukuli dan hajar habis-habisan oleh sekelompok yang dirinya pun tak tau.
Namun tangisan nya terhenti saat sayup-sayup mendengar suara keributan yang terdengar jelas ditelinganya. Dadanya begitu berdebar karena ia takut jika putranya disiksa kembali.
" Gevariel " lirih Lavanya sedikit beringsut mundur dan memojokkan dirinya disudut ruangan yang begitu pengap.
Disisi lain Malvin dan para anak buahnya sudah melakukan pengepungan terhadap sebuah hunian yang lebih mirip dengan sebuah gedung penjara yang terbengkalai. Namun Malvin yang melihat penjagaan yang begitu ketat membuat hati nya sedikit terusik.
" Tuan, Mereka semua bersenjata " ucap seorang lelaki bernama Kevin yang merupakan tangan kanan nya itu. Malvin mengangguk dan terus memperhatikan keadaan dari sudut tempat nya bersembunyi.
" Tetap bagi kelompok Kevin. Kita tak tau apa yang terjadi nanti namun aku tegaskan kita semua harus pulang dengan selamat. Aku tak ingin istriku cemas menunggu kepulangan ku! " ucap Malvin terdengar dingin dan di anggukki oleh Kevin sebagai tanda patuh pada tuan nya itu. " Now!! " ucap Malvin sebagai tanda mereka untuk bersiap menyerang.
SHOTTT
JLEBBB
Malvin dan para anak buahnya memilih menggunakan senjata kedap suara dimana tak akan terjadinya keributan besar disini. Beberapa orang yang berjaga berhasil dilumpuhkan. Begitupun dengan Kevin dan yang lainnya.
" Apa ini ? mengapa terlihat seperti labirin " Gumam Malvin yang terlihat bingung karena rupanya ruangan bagian dalam begitu berliku dan berlorong.
SHOTTT
CRATTT
Tak hanya senjata kedap suara Malvin pun menggunakan cara klasik dimana dia akan menusuk leher targetnya hingga dinyatakan tewas.
" Penyusup!! " teriak seseorang saat melihat pergerakan Malvin yang sedang menyeret seorang mayat yang berceceran darah dilantai.
" ****!! " umpat Malvin dengan menggeram kesal karena rupanya seseorang justru melihat aksinya ini.
DORRR
__ADS_1
AGHHH
" Dasar menyusahkan ! " pekik Malvin saat berhasil melumpuhkan seorang pengganggu namun keadaan tidak terlihat tenang suara teriakan tadi berhasil mengundang perhatian yang lain dimana kini terlibat aksi serang satu sama lain.
Malvin dan para anak buahnya terpaksa melakukan cara serang balik daripada mereka terkena peluru dan membaut tubuh nya terluka. Rencana yang telah mereka susun seakan buyar begitu saja saat seseorang justru memergoki pergerakan Malvin.
Dewi Fortuna seakan sedang memihak Malvin dan anak buahnya. Situasi dapat mereka kendalikan walaupun banyak korban yang tewas berserakan disana. Malvin menyerang seraya mencari keberadaan Gevariel dan orang tuanya.
DODODOR
DODODODOR
Malvin terus menembak dengan cepat tanpa rasa puas dihatinya. Medan pertarungan saat ini tak ada apa-apa nya saat pertempuran besar king beberapa tahun yang lalu. Namun dengan begitu Malvin harus tetap hati-hati.
Malvin terus berjalan seraya mencari keberadaan Gevariel dan kedua orangtuanya. berkat bantuan anak buahnya kini Malvin dengan bebas melenggang mencari keberadaan Gevariel.
Dirinya terlihat fokus saat beberapa pintu ruangan yang dirinya pun tak ketahui tertangkap oleh maniknya, putra dari Macky itu hanya mengandalkan instingnya saja. Namun dengan begitu Malvin harus bergerak cepat.
Kretttt
" Siapa disana! " pekik seorang lelaki asing hingga Langkah Malvin terhenti seketika, dan " Penyusup!! " pekik nya lagi hingga membuat Malvin benar-benar merasa diposisi serba salah.
DODODOR !!
TRANGGG
DODODOR !!
AGHHH
Kedua lelaki dewasa itu saling hajar dan saking baku tembak Hingga peluru Malvin berhasil menembus salah satu lutut kaki kanan nya hingga lelaki itu mengerang tertahan.
BUGHHHH
" Katakan dimana kau menyekap mereka!! " amarah Malvin seketika tak terbendung saat ini. Lelaki yang kini berada di cengkeraman nya seakan tak bisa mengelak pukulan Malvin yang terasa menyakitkan. " Ahh!! sial!! " ucap Malvin saat lelaki uty justru tak sadarkan diri.
"Tuan sebaiknya kita bergerak cepat sepertinya aku merasa keadaan akan tak baik-baik saja ''. Suara Kevin orang kepercayaan nya itu berbicara dengan nada penuh peringatan.
__ADS_1
" Benarkah ? Tapi aku belum menemukan mereka. Ahhh sial, itu terlalu mendesak! " geram Malvin seakan waktu yang mengejar dirinya hingga bergerak pun Malvin merasa tercekat. " Baiklah... kerjakan protokol terakhir. Tempelkan benda-benda itu di setiap sudut ruangan aku akan mencari mereka. Jika dalam tiga puluh menit aku belum keluar jangan khawatir. Aku akan memberikan sinyal darurat. " tegas Malvin lagi lalu dia berlari dan melakukan tugasnya dengan baik. setiap ruangan yang ia kunjungi dan lewati namun keberadaan Gevariel dan orangtuanya seakan tak meninggalkan jejak, hingga..
KLEKKK
Malvin terkejut dan menyiagakan senjata miliknya maniknnya menatap lekat kearah depan, tiba-tiba sebuah dinding kokoh itu terbuka setelah dirinya tak sengaja menekan sesuatu dan menampilkan sebuah ruangan yang begitu gelap.
" Gevariel " lirih Malvin saat melihat siluet seseorang yang sangat ia kenal. Malvin menatap tak percaya sosok lelaki yang dengan kondisi kedua tangan terikat dengan terbentang lebar. " ohh ****!! " maki Malvin berlari cepat untuk menyelamatkan Gevariel yang dalam kondisi lemah. " Bertahanlah, aku akan menyelamatkan mu " ucap Malvin lalu membuka ikatan yang mengungkung tubuh Gevariel dengan sebuah belati yang sangat tajam.
" Tuan apakah sudah ? " ucap Kevin dengan panik " waktu dimulai lima menit dari sekarang. Mereka sudah selesai dan sedang menunggu tuan keluar " ucap Kevin lagi.
" Aku sudah menemukan Gevariel. Tapi tidak dengan kedua orangtuanya " ucap Malvin lagi dengan nafas tercekat seraya membantu tubuh lelaki muda itu untuk bangkit " Geva ayo. Kita akan keluar " ucap Malvin namun gerakan tubuh Gevariel seakan melemah dan tangannya melambai tak jelas hingga membuat Malvin bingung.
" selamatkan..ibuku " ucap Gevariel dengan susah payah dan Malvin mengangguk pasti " disana..ibuku disana " ucap Gevariel seraya menunjuk sebuah pintu berukuran sangat kecil hingga malvin mengerutkan dahinya seketika.
" Tuan " seru Kevin lagi dengan panik.
" Tangkap tubuh Gevariel aku akan melempar kan nya sekarang! " ucap Malvin membawa Gevariel berlari kearah jendela yang terbuka lebar, disana Malvin bisa melihat para anak buahnya yang sedang melambaikan tangan. " percaya padaku kau akan baik-baik saja " ucap Malvin penuh ketegasan tak tersirat keraguan di mata nya.
Tanpa harus membuang waktu Malvin mengeluarkan tubuh Gevariel dalam hitungan ketiga Gevariel sengaja dijatuhkan kebawah sana hanya untuk diselamatkan, melihat jika para anak buahnya bisa diandalkan dengan cepat Malvin menuju sebuah pintu yang ditunjuk sebelumnya, namun lagi-lagi yang ditemuinya adalah sebuah lorong.
Sayup-sayup Malvin bisa mendengar suara tangisan lirih seorang wanita. Penerangan yang sangat minim membuat Malvin harus lebih hati-hati.
" Bibi kau mendengarkan aku ? Aku Malvin!! Aku datang untuk menyelamatkan bibi. Ayo bibi keluar lah waktu kita tak banyak " ucap Malvin seraya berteriak hingga tangisan itu terhenti seketika. Malvin mengumpat dalam hati saat melihat waktu tersisa satu menit dari sekarang. " bibi ayolah. Bangunan ini akan meledak dalam hitungan detik. Bekerja sama lah. Aku tak bisa masuk lebih dalam karena tubuhku tak muat " ucap Malvin lagi hingga manik nya menangkap sosok wanita yang kondisi nya sangat menyedihkan. Malvin tertegun seketika.
" Kau kah itu ? " suara lirih seorang wanita terdengar lirih.
" Ya bibi ke marilah. Putra mu aman bersama dengan anak buah ku " ucap Malvin lagi, akhinya Lavanya sedikit berlari hingga mampu menggapai tangan malvin.
" Tuan sepuluh detik lagi " ucap Kevin merasa tercekat.
" Diamlah!! " geram Malvin lagi, akhinya Malvin berhasil membawa tubuh Lavanya keluar dari dalam sana yang sangat pengap. Malvin terburu-buru membawa tubuh penuh luka itu kearah jendela. " Percaya padaku bibi. Kita akan selamat. " ucap Malvin sedikit panik. Malvin telah siap dalam posisi untuk melompat dan pada saat dirinya melakukan terjun bebas saat itu pula ledakan besar terjadi hingga Lavanya syok bukan main.
DUARRRR
DUARRRR
DUARRRR
__ADS_1