
Malam itu Dyora diungsikan ketempat yang lebih aman bersama dengan Elmer yang mengantarkannya, sedangkan Ezio lelaki berambut pirang itu sudah berlalu pergi setelah penyerangan berakhir dengan kekacauan.
Elmer mengantarkan Dyora melalui jalan lain karena tak ingin Dyora melihat kekacauan yang terjadi untung saja tempat pengamanan Dyora yang dibawa oleh seorang lelaki sebuah tempat yang kedap suara jadi gadis berambut coklat susu itu tak mendengar apapun.
Setelah memastikan sang adik aman Elmer segera meninggalkan nya dengan perasaan lega, dengan segera Elmer pergi karena akan melakukan sesuatu bersama dengan seseorang.
Sedangkan disisi lain terlihat seorang wanita berambut hitam bergelombang baru saja keluar dari sebuah istal salah atau tempat berlatih kuda mendunia yang berada di kawasan Park king.
wanita itu mengeryit saat melihat seorang lelaki yang baru saja melepaskan beberapa senjata dari tas hitamnya.
" Kau disini? " tanya wanita itu lagi.
" Ya mansion diserang itu sebab nya aku ingin bertukar beberapa senjata mumpuni untuk menjadi perisai! " ucap lelaki itu lagi yang sibuk menata beberapa senjata miliknya di rerumputan hijau yang terawat rapi.
" Mansion diserang! Dyora? " pekik nya lagi.
" Dia berada di Gold mansion bersama dengan nenek dan kakek. Hanya itu tempat teraman untuk hidup nya " ucap lelaki itu yang tak lain adalah Ezio. " apa kau baru saja berlatih? " tanya Ezio lagi.
" Ya tentu saja. " ucap wanita itu yang tak lain Serena Bruno putri dari Malvin dan madeline. Ezio hanya mengangguk saja. " Lalu dimana Elmer ? " tanya Serena lagi.
" Entahlah yang aku dengar setelah mengantar Dyora anak itu pergi lagi. Huhh benar-benar menyebalkan " ucap Ezio lagi dan Serena hanya terkekeh kecil.
" Aku tak bisa membayangkan bagaimana marahnya dia saat mengetahui jika Dyora pergi dari paman Gabriel " ujar Serena lagi " Mukanya sudah sangat memerah dan bisa aku pastikan saat Dyora kembali pasti dia sedang menahan amarah nya. " ujar Serena lagi dan Ezio ikut tertawa mendengarnya. Sudah bukan rahasia umum lagi jika Elmer dikenal dengan sebutan si pemarah. Putra kedua Athena itu memang benar-benar jelmaan dewa pemarah yang luar biasa.
Setiap perkataan nya yang akan dibantah maka Elmer akan menunjukkan taringnya namun lebih dari itu Elmer memiliki kemampuan mumpuni diusia mudanya.
" Itu adalah hal yang wajar. Mengingat Dyora tidak sama seperti kita serena. Gadis itu terlalu suci dan bersih untuk mengetahui betapa kejam nya dunia yang berkeliling disekitarnya. Sedangkan kita sedari kecil sudah dilatih tapi tidak dengan Dyora. Jangan kan menegang pisau atau belati memegang pistol pun dirinya tidak pernah. " jelas Ezio lagi dan Serena mengangguk membenarkan.
" Bukan hanya Elmer saja aku pun terkadang merasa cemas jika mengetahui Dyora berpergian sendiri. Huhh gadis itu benar-benar nakal " imbuh Serena lagi dan Ezio semakin terkekeh dibuatnya.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain Elmer sedang melakukan panggilan Vidio dari kedua orangtuanya. Wajah Elmer begitu sangat serius saat mendengarkan perkataan ibu dan ayah nya.
Elmer menjadi pendengar yang baik kala ibu dan ayah nya seperti sedang memarahinya. Elmer tidak marah melainkan dirinya yang marah karena telah merasa gagal untuk menjaga apa yang sudah kedua orang tua nya percayakan.
" Sepertinya esok lusa mommy akan pulang. Jika Daddy tidak mau mommy akan pulang terlebih dahulu. ohh rasanya kepala ku ingin meledak. " Ucap seorang wanita yang terlihat sangat dewasa.
" Baiklah aku menunggu mom " ucap Elmer lagi dengan senyum tipis diwajahnya.
" Dimana Zi? Apakah kau tau? " tanya wanita itu lagi dan Elmer diam saja dengan menggelengkan kepalanya perlahan tanda dirinya tidak tau. " Baiklah jaga dirimu baik-baik dan tetap beritahu mommy keadaan disana Elmer. Wilayah kita tentu saja tidak boleh dimasuki para ngengat tak berguna! " tegas wanita itu lagi.
" Aku mengerti Mom! " ucap Elmer lagi lalu panggilan yang terhubung mati dengan kesepakatan. Elmer memejamkan kedua matanya perlahan dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
**********
Seorang lelaki bermanik Hazel serta berambut pirang kini sedang menatap para manusia yang duduk di hadapannya dengan angkuh. Aura yang dikeluarkan lelaki itu tak main-main dan cukup menekan nyali yang ada disana.
Lelaki itu menyesap minumannya dengan sangat tenang menatap mereka yang hanya melihatnya dengan tatapan berbeda-beda. Menjijikan! tentu saja iya. Karena kini Ezio sedang berhadapan dengan para perusuh yang ketahuan di dalam kelompoknya.
" Karena kau memang tidak pantas! Usia mu masih terlalu muda dan belum mampu untuk mengendalikan orang-orang yang bekerja sama dengan mu!" ucap seorang lelaki berpakaian formal berwarna hitam. Ezio melirik dan mencerna perkataan mereka dengan baik.
" Ya kau memang diragukan Disini. Aku tak mengerti mengapa tuan Harvey mempercayakan dirimu untuk menjadi pemimpin pengganti disini " timpal lelaki berpakaian semi formal berwarna abu.
" Jawaban nya mudah karena aku lebih berpotensi dari kalian semua! itu artinya kemampuan ku di diatas kalian " ucap Ezio pelan. " Tentu saja dan jangan lupakan aku ini siapa tuan-tuan " seringai Ezio muncul tat kala melihat raut wajah ketidaksukaan dari para rekan ayahnya. Inilah yang Ezio tidak suka mereka semua adalah penjilat yang harus segera disapu bersih. Namun Ezio tidak bisa melakukan hal itu dengan sembarangan.
" Jangan bangga dengan identitas mu anak muda! Terlebih kau siapa jika tidak berkompeten maka jawaban nya tidak! " ucap seorang lelaki lain dengan senyum penuh artinya.
" Hahaha " tawa Ezio pecah kali ini. Tidak kompeten? katanya nya. Lalu siapa yang dianggap paling kompeten menurut mereka. Rasanya Ezio ingin sekali melubangi kepala para lelaki memuakkan dihadapannya ini. " Lalu siapa yang kalian anggap Kompeten tuan ? " ucap Ezio lagi yang masih diserahi tawa kecil nya.
" Tentu saja Lozak! " tegas seseorang lagi hingga Ezio menyipitkan matanya sesaat. Lozak? Oh sepupu tiri tersayang nya itu. Ezio seketika menggeleng kepala nya pelan. mereka bilang Lozak.
__ADS_1
" Siapa kau berani mengemukakan pendapat dihadapan ku! " dingin Ezio kini tak terlihat lagi wajah ramah miliknya. Manik Hazel itu seakan menggelap dengan api kemarahan yang tercetak jelas disana. Ezio menatap tajam tanpa berkedip kearah orang itu hingga membuat lawan nya sedikit menciut karena terkejut dengan reaksi Ezio yang tak disangka-sangka nya.
Ezio menatap kearah Lozak yang sedari tadi hanya diam tak ikut berbicara manik Hazel Ezio tentu saja sedikit mengintimidasinya.
" Sungguh lelucon yang buruk. Sejak kapan orang lain mampu menggantikan kursi milik ayah ku! Aku dan dirinya tentu saja berbeda jangan lupakan itu. " ucap Ezio lagi dengan tanah hingga Lozak mengepalkan kedua tangannya erat.
" Kau sombong sekali Ezio! "
DORRR
AGHHH
semua orang terkejut dengan apa yang Ezio lakukan menembaki seorang lelaki paruh baya dibagian lengannya bahkan melakukannya di tempat yang menurut mereka paling suci.
Lelaki itu mengerang dengan darah segar yang keluar begitu saja. Maniknya tajam serta bibirnya mengumpat Ezio. Keempat orang yang berada disana tak berani beranjak dari kursinya maupun menolong lelaki paruh baya itu.
" Kau iblis Ezio! Keturunan yang agung tidak memiliki darah yang kejam seperti mu menembak tetua di tempat yang paling suci! Kau tak lihat gundukan tanah itu! Mereka leluhur mu Ezio! '' pekik lelaki itu dengan suara tertahan dan meringis secara bersamaan. Ezio menyeringai dan melirik beberapa gundukan tanah yang sudah dibentuk dengan begitu indah dan serupa.
" Maka dengan itu ingatlah namaku! Ezio Pillipo. Akan ku ukir sejarah yang tak pernah leluhurku lakukan termasuk ayahku Harvey! Membantah itu sama saja menyerahkan nyawa. Aku tak takut dengan apapun asal kalian tau. Seorang Ezio Pillipo tidak akan pernah takut untuk melawan para lintah seperti kalian. '' ucap Ezio langsung hingga suaranya menggelegar begitu saja.
" Ezio!! " Teriak lantang seseorang dan berdiri dengan tangan kanan keatas tandas dirinya marah dengan sikap Ezio yang benar-benar keterlaluan. " Kau benar-benar iblis! '' pekik nya lagi.
" Yes I'm why ? Lihatlah Lozak orang seperti dirimu hanya akan menjadi alat boneka mereka. Karena apa? darah leluhurku tidak mengalir dalam dirimu! Ingat baik-baik itu '' ucap Ezio beranjak dan berlalu pergi diikuti oleh kedua pengawal yang lebih mirip seperti algojo bertubuh kekar berkepala plontos.
Ezio melenggang pergi begitu saja dengan senyum tipis diwajahnya cukup menyenangkan melihat wajah-wajah angkuh itu berubah menjadi topeng yang sangat mengerikan.
" Tentu saja dia iblis setengah darahnya mengalir darah penjahat! Seharusnya Ezio tidak pernah lahir. Ini akan menjadi Boomerang untuk kita. '' ucap lelaki berpakaian formal berwarna abu.
'' Apa maksud mu ? " ucap Lozak mengerutkan dahinya bingung.
__ADS_1
" Dia cicit pendiri King! sebuah kelompok besar yang menguasai dunia mafia hampir di seluruh negara. Valera Harson? Ya dia cucu wanita penjahat itu. '' ucap nya lagi dengan marah dan tentu saja Lozak terkejut karena baru mengetahui sebuah fakta yang mengejutkan.