
GREPPP
Xavier mencengkram erat leher jenjang larissa hingga membuat gadis cantik itu terkejut. Larissa mencoba untuk berontak namun saat melihat tatapan manik membunuh Xavier seketika Larissa berhenti berontak dan membiarkan Xavier mencengkram erat leher nya hingga Larissa merasa sakit dan kehabisan pasokan oksigen.
" Apa yang kau lakukan huh?? " teriak Xavier lagi " jangan kira aku tak tau apa yang kau lakukan di dalam laptop milikku! Tidak akan pernah terjadi!! kau milikku Larissa! '' tekan Xavier lagi hingga mereka saling bertatapan dan mengunci satu sama lain. Nafas Xavier memburu begitupun dengan Larissa.
'' Kenapa ? " hanya itu yang dapat Larissa katakan kepada Xavier. Hingga cengkraman itu sedikit mengendur dan Larissa dapat terbebas dari jeratan gila lelaki psikopat sepertinya.
" Kau hanya milikku! kau tidak diperbolehkan untuk pulang Larissa. Tempat mu hanya bersama dengan ku! '' teriak Xavier marah hingga menyulut kemarahan Larissa.
PLAKKK
" Kau gila! Aku bukan milik mu ingat itu Xavier Wang! Larissa bukan milik mu! '' teriak Larissa lagi marah dan langsung menendang Xavier hingga lelaki itu meringis dan tersungkur. Larissa berlari kearah luar hingga melewati anak tangga yang berada di lantai dua.
Xavier menjerit dan memanggil nama Larissa lantang hingga para pengawal dan penjaga yang berada di sana sontak terkejut. Larissa mendengus kala harus melewati beberapa orang di dalam neraka ini.
" Nona kembalilah. Jangan membuat tuan Xavier marah " ucap salah satu orang lelaki berkulit hitam yang menghadang langkah Larissa.
" minggir! " ucap Larissa dengan nada rendah nya.
" Nona tolong kerja samanya! '' ucap mereka lagi yang masih bertekad untuk menghalangi jalan Larissa.
BUGHHHH
BUGHHHH
tanpa basa-basi Larissa memukul kedua orang lelaki bertubuh tinggi itu hingga mereka sedikit linglung. Dapat Larissa dengar jika Xavier mulai mendekat hal itu membuat Larissa semakin beringas menyerang orang-orang yang menghalangi jalan nya.
Larissa begitu beringas kala terus menghajar para lelaki berkulit hitam yang merupakan anak buah Xavier. Larissa bahkan tak segan untuk melukai mereka dengan benda tajam yang merupakan pisau buah untuk senjata pertahanan nya.
'' oh apa yang terjadi ? '' panik bibi Rui saat melihat kekacauan di mansion milik Xavier dengan orang-orang yang terluka disana.
" Larissa! " teriak Xavier lantang yang datang dengan nafas tersengal nya. Bibi Rui bisa melihat jelas kemarahan dari dalam diri Xavier. " Larissa! kembali kau! '' teriak Xavier lagi namun langkah lelaki itu terhenti saat melihat bibi Rui yang diam mematung dengan raut wajah panik dan cemas.
" bibi aku tidak akan pernah melepaskan dia bibi! " ucap Xavier lagi " tutup gerbang nya! '' teriakan Xavier begitu menggema diruangan itu hingga terdengar oleh Larissa yang berada jauh didepan sana.
Larissa berlari bahkan melepaskan alas kakinya untuk kabur dari mansion Xavier bahkan dirinya menunggu orang-orang yang menjemput dirinya setelah Larissa berhasil mengirim kan tanda lokasi pada satelit king melalui laptop milik xavier.
DUAKKK
AGHHH
__ADS_1
Larissa meringis saat sebuah benda tumpul menghantam punggung nya. nafas Larissa menderu tak karuan.
" Nona maaf. hanya saja kau harus kembali pada tuan Xavier tolong kami ini nona. Jika tidak tuan akan mengamuk. '' imbuh seseorang dengan wajah memelas. Larissa tak perduli dan dalam pikiran nya dia harus pergi dari tempat ini.
" persetan! " pekik Larissa lantang.
DUAKKK
AGHHH
Larissa menendang kuat dada lelaki itu hingga tersungkur dan menyemburkan cairan berwarna merah dari mulutnya. Larissa menatap datar dan manik nya melihat Xavier yang berlari kencang kearah dirinya.
" Jika begitu ayo tangkap aku '' lantang Larissa berlari tak tentu arah demi menghindari Xavier yang menangkapnya. Bibi Rui yang melihatnya hanya bisa memijat pelipis nya pelan saat melihat aksi kejar-kejaran itu.
" Hentikan! biar Xavier yang mengurus nya! kalian cukup diam saja '' perintah bibi Rui seketika dipatuhi oleh semua orang yang menghuni mansion ini.
Mereka hanya akan menjadi penonton saja tanpa mau membantu tuannya untuk menangkap Larissa.
Sedangkan Xavier terus berlari untuk menangkap Larissa yang gesit dan pandai. Xavier terengah dan mengumpat kasar saat nafasnya mulai naik turun.
" jangan salah akan aku Larissa! " tekan Xavier lagi.
DODODOR
Larissa bergulung saat peluru Xavier ingin melukainya. Sudah dipastikan jika Xavier akan menggunakan cara ini namun Larissa tak bisa di tantang dan ditaklukan.
" Lemah! " ucap Larissa lagi seraya mengacungkan jari tengah nya ke atas terkesan meledek Xavier yang terlihat nampak kelelahan.
Xavier yang melihat hal itu tentu saja menggeram marah karena diremehkan oleh seorang wanita. Tak terima tentu saja ia! Xavier nampak merasa jika harga diri nya terluka oleh sikap Larissa yang terkesan liar itu.
" Kau benar-benar sialan! " teriak Xavier marah dan langsung berlari dengan segala kemarahan yang ada. Larissa menoleh sekilas namun dengan cepat.
HAP
Larissa meloncat dengan sempurna melewati sebuah pagar hanya dengan satu kali gerakan. Tentu saja perbuatan Larissa tak dapat diterima oleh akal sehat manusia.
DODODOR !!
DODODOR !!
Xavier terus menembaki pelurunya kearah Larissa bahkan semua orang yang melihat nya tak percaya jika Xavier pun mampu melewati pagar itu hanya dengan satu kali gerakan.
__ADS_1
Larissa terus berlari tak tentu arah melewati banyak pohon yang tumbuh lebat disisi kiri dan kanan jalanan setapak yang sudah dibangun dengan sebuah papin blok berwarna merah.
Namun saat Larissa hendak berlari kearah kiri tiba-tiba dirinya berpapasan dengan seorang lelaki hingga dirinya tak menyadari jika sebuah belati sudah menancap sempurna di perut kirinya.
Larissa diam mematung dan menikmati rembasan darah yang perlahan keluar hingga Maniknya ikut menatap kearah luka nya sendiri.
" Larissa! " teriak Xavier lantang dari arah belakang dan terkejut melihat seorang lelaki yang sangat dikenalnya. Larissa diam saja tak menggubris hingga lututnya tiba-tiba melemas begitu saja.
BRUKKK
" Larissa! " teriak Xavier lagi berlari kencang dan menangkap tubuh Larissa yang ambruk. Hingga pandangnya beralih pada luka di perut Larissa. " Apa yang kau lakukan sialan! " teriak Xavier marah menatap lelaki yang mempunyai rupa sama persis dengan dirinya. Lelaki itu hanya menatap datar dan tak menjawab perkataan Xavier.
" Aku hanya membantu mu untuk menangkap tawanan mu itu, dimana salah ku? '' polos lelaki itu acuh dan tak merasa bersalah sama sekali. Xavier mengumpat kasar pada lelaki dihadapan nya dengan cepat dirinya membawa Larissa yang sudah tak sadarkan diri dalam pangkuannya.
Lelaki itu hanya memandang kepergian xavier yang membawa Larissa dengan wajah panik yang terlihat sangat jelas. Lelaki itu akhinya mengikuti langkah Xavier dengan pelan menuju mansion.
Sedangkan bibi Rui yang melihat itu tentu saja syok bukan main saat darah menetes dengan deras hingga membasahi lantai marmer di mansion itu.
" Siapkan alat-alat medis untuk ku! " pekik Xavier panik membawa Larissa kesebuah ruangan isolasi yang hanya di lingkari dengan dinding kaca. Disana pun terdapat benda-benda yang mirip seperti di rumah sakit dari mulai ranjang dan lainnya.
Dua orang wanita berkulit hitam datang dan tampak membantu Xavier yang akan menangani Larissa.
" siapkan semuanya. Dia tertusuk! " ucap Xavier lagi hingga dia orang wanita itu mengangguk tanda mengerti. Sedangkan bibi Rui yang melihat itu tak kalah panik hingga kedatangan seseorang semakin membuat bibi Rui terkejut.
" Xaraza ? kau disini ? " ucap bibi Rui lagi dan lelaki yang dipanggil Xaraza itu hanya mengangguk polos. " kapan? " tanya bibi Rui lagi.
" belum begitu lama? ada apa bibi kenapa kau panik sekali? '' imbuh lelaki yang bernama Xaraza itu.
" tidak...hanya saja bibi sedang mencemaskan keadaan Larissa " ucap bibi Rui lagi yang menatap lurus kedepan dimana dinding transparan itu dapat dirinya lihat.
" Larissa ? siapa dia ? '' Picing Xaraza bingung. " Apakah wanita yang aku tusuk tadi? " Gumam Xaraza lagi hingga pandangan bibi Rui beralih pada lelaki yang memiliki tato elang besar di dadanya.
" Apa kau menusuk Larissa? kau gila Xaraza " pekik bibi Rui marah hingga Xaraza semakin dibuat bingung olehnya. " Dia calon kakak ipar mu! " ucap bibi Rui lagi seraya menggeram tertahan dan menatap tajam Xaraza.
" kakak ipar? benarkah. Aku kira dia salah satu tawanan Xavier yang kabur. Jadi aku membantu nya untuk menangkap wanita itu '' polos Xaraza lagi hingga bibi Rui memijat pelipisnya pelan. '' maaf aku tidak tau '' imbuh Xaraza lagi.
" minta maaf pada Xavier nanti Xaraza. Kau tau bagaimana sifat nya bukan? aku harap Larissa baik-baik saja '' ucap bibi Rui lagi dan Xaraza tentu saja mengangguk setuju dan ikut menatap kearah ruangan transparan dimana dia melihat xavier yang sedang menangani Larissa layaknya seorang dokter profesional.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
nahh guys satu persatu tokoh baru mulai bermunculan yah. Dimana nanti mereka akan menambah kesan sesuatu dalam cerita ini hehehe
__ADS_1
jangan lupa like, komen, dan vote serta fav yah.
tnQ ❤️❤️