
Sarapan pagi terasa lebih hangat dimana kini ruang makan mewah itu ditempati oleh orang-orang yang jarang melakukan sarapan bersama. Dyora gadis itu selalu saja menempel pada sang ayah George dan membuat Athena selaku ibunya hanya bisa tersenyum saat kehadiran dirinya kini terganti oleh sang putri.
Remigio yang melihat itu hanya terkekeh Karena mengingat bagaimana dulu Athena selalu saja menempel seperti lem pada dirinya dan kini Dyora pun melakukan hal demikian.
" Zio apa kau sudah mempersiapkan semuanya untuk besok? '' tanya Valera lembut menatap kearah Ezio yang sedari tadi hanya diam saja. Ezio yang ditanya seperti itu sontak mengangguk dengan tersenyum.
" Besok? Memang nya ada apa Zio ? '' tanya Athena lagi. Ezio hanya mengalihkan pandangannya kembali dan fokus pada makanan miliknya. Athena yang merasa diabaikan hanya menghela nafas panjang nya dan menatap George sendu.
Elmer yang menyadari itu hanya bisa diam menatap ibunya diabaikan oleh kakak lelakinya. George hanya tersenyum dan mengelus lembut punggung tangan Athena. Valera dan Remigio hanya bisa saling pandang dan menatap sendu cucu pertamanya.
Beberapa tahun sudah berlalu, banyak sekali kejadian yang merubah seorang Ezio Pillipo yang awalnya sangat hangat dan ramah kepada Athena dan George, kini berubah layaknya seperti orang asing.
" Zio bisakah kita bicara setelah sarapan usai? '' pinta George kepada Ezio. lelaki bermanik Hazel itu hanya mengangguk tanpa mau menjawab membuat George tersenyum senang.
Keheningan melanda mereka kembali. Ezio dengan melirik kearah jam tangannya dan dengan cepat menghabiskan sarapannya. Elmer yang menyadari itu sontak menyudahi sarapannya dengan cepat dan berlalu pergi.
" Dia kenapa ? " bingung Dyora menatap kepergian Elmer dengan wajah lugu.
" Mungkin Elmer sedang terburu-buru saja '' ucap Athena lembut dan Dyora hanya mengangguk kecil. Athena sekali lagi menghela nafasnya perlahan saat putra pertama nya masih membangun benteng tinggi untuk dirinya. Tiba-tiba Athena merasakan sesak melanda hatinya hingga semua orang menyadari hal itu.
Di Balkon halaman belakang, Gold mansion.
Kini Ezio duduk dengan tenang setelah George ingin membicarakan sesuatu. Manik Hazel itu masih setia menatap hamparan taman yang terbentang luas dengan indah, seketika perasaan damai menyapa hatinya.
" Maaf membuat mu menunggu lama " ucap suara seseorang tiba-tiba hingga Ezio menoleh dan menegakkan tubuhnya dengan cepat. George duduk di hadapan Ezio hingga manik birunya menatap secara lekat.
" Zio bisakah kau tidak bersikap seperti itu pada ibumu? " ucap George langsung dan Ezio memicingkan manik nya seketika.
" Jika kau ingin membicarakan masalah ini mari kita akhiri saja. Aku mempunyai waktu yang penting daripada membicarakan masalah ini " ucap Ezio dengan tenang hingga George dibuat bungkam.
__ADS_1
" Ezio tidak bisakah kau berubah? Ini sudah bertahun-tahun lamanya. Tidak kah kau ingin berdamai dengan semuanya. Ibumu dan aku sangat menyayangimu. Kau putra ku begitu juga dengan Elmer tidak kah..
" Maaf aku tidak bisa! " ucap Ezio beranjak dari kursinya berniat untuk pergi setelah memotong ucapan George.
" itu pun jika kau menganggap kami orang tua mu!" ucap George lantang dan langkah Ezio seketika terhenti dengan tangan yang terkepal sempurna. Untuk apa dibahas lagi sesuatu yang Ezio tidak ingin dengar.
Ezio menggeleng kan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan George yang masih saja menatap kepergiannya, rasanya sungguh sulit untuk meluluhkan hati Ezio setelah berubah beku tak mencair.
George memijat pelipisnya pelan hingga langkah seseorang datang menghampirinya. George sontak menoleh dan mendapati Remigio yang sudah berada di dekatnya.
" Dad " ucap George dan Remigio hanya mengangguk kecil lalu duduk di kursi lain.
" jangan kau paksa dia George. Semakin kau memaksanya semakin dia pergi menjauh. " ucap Remigio lagi.
" sungguh sulit untuk mencoba memahami hatinya Dad. Semenjak dia mendengar percakapan kami Ezio yang ku kenal seolah berubah menjadi orang lain. " ucap George lagi. " dia benar-benar telah berubah. " lanjut George lagi.
Disisi lain keberadaan Ezio.
Lelaki bermanik Hazel itu menepikan mobil mewahnya disebuah pantai yang tak jauh dari markas utama king. Ezio berjalan perlahan membiarkan dirinya di terpa sapuan angin sepoi-sepoi yang menyapu wajah nya.
Entah mengapa Ezio tidak bisa berdamai dengan hatinya ketika mengingat hari itu dimana Athena membicarakan sebuah rahasia besar tanpa disengaja bersama dengan George. Tentu saja Ezio terkejut bukan main selama ini sosok lelaki yang kerap di panggil Daddy olehnya bukan ayah kandungnya.
seketika Ezio terkekeh kecil, senyuman itu lebih mirip senyuman mengejek. Marah dirinya tentu saja marah namun ezio bisa apa? mengamuk pada ibunya ? tentu saja tidak.
" kak " suara seseorang membuat Ezio berpaling dan menatap sosok lelaki yang lebih muda dari dirinya. Elmer ya lelaki itu adalah Elmer.
" Ada apa? " ucap Ezio datar.
" Apa kau tak melihat wajah mommy tadi ? " Picing Elmer dan Ezio diam saja " Sebagai seorang ibu tentu saja dia merasa sedih " ucap Elmer lagi.
__ADS_1
" Langsung pada inti nya saja! Aku tau kau tak pandai berbelit " ucap Ezio kesal.
" Hancurkan benteng itu dan cobalah memulai semuanya dari awal " ucap Elmer lagi. Ezio terdiam sesaat benarkah dirinya harus memulai segalanya dari awal ? Ezio tertawa kecil.
" Kau tidak mengerti Elmer dan kau tidak pernah merasakan bagaimana menjadi diriku.. Kau tau hal apa yang paling membuat aku kecewa? perlu aku ucapkan lagi? " Picing Ezio menatap lekat Elmer yang berdiri sejajar dengan dirinya.
" Lalu kenapa jika kau bukan putra Daddy? Semuanya tidak akan berubah kak. " ucap Elmer tajam " Dia tetap ibu dan ayahmu! orang tua kita! " tekan Elmer lagi.
" Ya kau benar semuanya tidak akan pernah berubah! " lirih Ezio lagi " Maka dari itu percuma saja kau berbicara panjang lebar untuk membahas ini. Bukankah kita sudah sepakat tak akan membicarakan hal ini lagi? biarkan semuanya mengalir seperti ini, aku terlalu nyaman hidup tanpa mereka disisi ku " ucap Ezio lagi hingga Elmer menatap balik kearah kakaknya.
" Kau yang menjauh dan berusaha pergi dari mereka! dari kami. " ucap Elmer lagi dengan kesal.
" ya begitulah. Kau pintar Elmer maka dari itu akhiri saja sampai disini. Jangan lagi kita membahas masalah ini " pinta Ezio lagi hingga membuat Elmer mendengus kesal.
SHOTTT
DODODOR !!
Ezio yang tanggap segera menarik Elmer untuk menjauh dan merunduk. Seketika rentetan peluru kembali terjadi. Ezio dan Elmer bergulung di hamparan pasir pantai untuk menghindari serangan yang ada.
" Cepat berlari ke mobil! Penembak itu tak terlihat ! " pekik Ezio menatap Elmer lagi. Manik Hazel nya menyipit dan memindai sekitar. Hingga,
DODODOR !!
Elmer melepaskan pelurunya kearah sebuah pohon beringin yang rimbun dan tiba-tiba saja seseorang jatuh dari atas sana. Singkat Elmer dan Ezio saling pandang hingga terdengar suara riuh dari jarak yang cukup dekat.
" Go! " pekik Elmer lagi dan Ezio beranjak segera berlari kearah mobil nya diikuti oleh Elmer. " Aku menumpang. Mobil ku cukup jauh dengan mobil milikmu! " ucap Elmer lagi dan Ezio tak menjawab dan segera bergegas pergi dari area itu.
Rupanya kepergian Elmer dan Ezio dibuntuti oleh seseorang namun hal nya mereka tidak menyerang dan justru membuntuti Kakak beradik itu secara diam-diam.
__ADS_1