
Akhir nya setelah melakukan perjalanan hampir tujuh jam lamanya. Florian dan Zay menemukan titik terang dimana sinyal milik Florian berkedip terang pada tablet milik Aslan.
Sontak Aslan langsung bergegas dengan cepat seraya Ezio dan Brandon yang mengawasi wilayah sekitar dengan waspada.
" oh dapat! Dia tak jauh dari sini! '' pekik Aslan girang.
" baiklah. Biar aku yang kendalikan helikopter ini. Paman tolong kau pantau '' ucap Ezio dan Brandon mengangguk tanda mengerti. Aslan pemuda itu duduk dengan tenang seraya menempelkan sebuah alat di telinganya yang mirip dengan MH milik king hanya saja benda yang dipakai Aslan sedikit lebih besar layaknya headset berbentuk piring.
Ezio mulai mengendalikan helikopter itu dengan mudah hingga mereka bergegas meninggalkan tempat dimana sebelumnya mereka singgahi.
Brandon yang duduk di samping Ezio terus menatap kesebuah layar tablet yang merupakan salah satu fitur terbaik di dalam sana.
" Paman aku sudah mengirim nya. Fokus lah, aku ingin melihat wilayah di sekitar Florian selama dalam perjalanan '' imbuh Aslan dan Brandon sekali lagi hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya keatas.
Sedangkan disisi lain Florian dan Zay tampak kelelahan dengan peluh yang membasahi tubuh keduanya. Aslan sudah mengirimkan tanda biru ke dalam ponsel Florian yang artinya mereka akan segera datang untuk menjemput.
" Kau tak apa? '' Picing Florian menatap Zay yang tampak tersengal diusianya yang hampir setengah abad. Lelaki yang panggil Zay diam saja namun mengangguk kecil. '' Aslan dan lainnya akan segera tiba. Aku harap kau baik-baik saja Zay '' ucap Florian tegas.
" aku baik-baik saja tuan muda. Jangan khawatir '' ucap Zay dengan penuh semangat walaupun nafasnya sudah tersengal.
Mereka hanya mengambil satu botol mineral yang dimasukkan kedalam tas ransel yang berada di rumah kayu itu, namun siapa sangka perjalanan mereka memakan waktu berjam-jam lamanya.
Florian menyandarkan tubuh nya disebuah kayu yang sudah tumbang akibat dipotong seseorang begitupun dengan Zay. Mereka berdua melepaskan rasa lelah dengan manik yang terpejam.
tak butuh waktu lama suara deru baling-baling helikopter terdengar memekakkan telinga. Florian dan Zay Langsung terperanjat setelah mendengar suara itu.
Namun Florian menghela nafas lega saat melihat Ezio yang gagah sedang mengendalikan burung besi bewarna hitam Senyum keduanya mengembang dan tak lama helikopter itu turun tanpa harus mendarat.
__ADS_1
" Flo!! '' teriak Aslan saat melihat Florian yang berdiri tak jauh dari mereka. Florian melambaikan tangannya begitupun dengan Aslan. " cepat naik! Kita tak ada waktu untuk disini! '' teriak Aslan lagi dan Florian mengangguk mengerti.
Ezio menatap Florian yang tampak kusut dan kotor bahkan tubuhnya basah oleh keringat. Entah apa yang Ezio pikirkan tentang hal ini namun mereka segera pergi dari tempat itu dengan cepat.
" Mereka sudah pergi nona '' ucap seseorang lagi.
" Ya lebih baik begitu! Tuan muda itu sungguh menyusahkan '' ucap seorang gadis yang tak lain adalah Xenya. " bagaimana apakah kita aman disini? " ucap Xenya lagi cemas.
" untuk sementara kita aman nona. Anak buah tuan Ex sedang dalam perjalanan untuk menjemput. Hanya saja kita harus keluar dari hutan ini terlebih dahulu '' jelas seseorang itu lagi.
" Baiklah aku mengerti. Siapkan keberangkatan kita '' imbuh Xenya tegas tak terbantah dan berlalu pergi dat tempat itu. Namun manik nya menatap kearah langit dimana helikopter berwarna hitam mengudara dengan gagah dan mulai menjauh.
Dasar ramalan sialan!. Batin Xenya.
Markas utama king.
Para mafia senior dibuat pusing dengan hilangnya Larissa Dan juga Florian. Mereka tak mengerti kemana perginya kedua keturunan Dutton itu.
" Larissa benar-benar tidak bisa dilacak Asyur. " ucap Valera lagi hingga tangan kekar Asyur Dutton itu mengepal dengan sempurna. " Hasil kerja keras Aslan tak membuahkan hasil. Pasti Larissa sengaja " imbuh Valera.
" Jadi maksud mu cucu ku sengaja melakukan hal itu? bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Larissa! Dia perempuan " ucap Asyur marah mendengar perkataan valera yang terkesan acuh itu.
" Jangan lupa jika dia juga adalah cucuku Asyur! " kecam Valera dengan sorot mata yang tajam menatap suami dari Diandra. " Kau meragukan kemampuannya? " picing Valera lagi.
" Tidak! sama sekali tidak. Aku hanya mencemaskan keberadaanya. Dua bulan sudah kita kehilangan jejak Larissa. Bahkan lelaki yang bernama Nando itu sampai saat ini belum juga ditemukan " ucap Asyur kesal
" Aku merasakan hal yang sama. Larissa memang sengaja tidak memberi kita celah untuk menemukannya. " imbuh Remigio akhirnya membuka suara dengan pandangan yang lurus kedepan.
__ADS_1
CEKLEK
" Maaf lady. Hanya saja aku ingin memberitahukan jika sinyal Larissa terdeteksi di Afrika " ucap tiba-tiba Thomas yang masuk dengan cepat hingga Asyur, Valera dan Remigio membelalakan matanya lebar. " satu jam lalu aku menangkap sinyal milik Larissa " ingin Thomas lagi.
" Afrika? " gumam Valera mengerutkan dahinya halus seperti tak menyangka dengan ucapan Thomas itu.
" Jika begitu aku akan mengirim anak buah ku ke sana " tutur Asyur lagi cepat dan Valera mengangguk saja. " Tunggu Afrika? apa kau tak salah Thomas ? " ucap Asyur memicingkan manik nya sesaat.
" Tidak! Aku tidak salah. Sinyal itu memang berada disana " ucap Thomas lagi yakin.
" baiklah siapkan semuanya. " ucap Valera lagi dan akhirnya Asyur menyiapkan penjemputan Larissa. Namun Valera berpikir bagaimana bisa Larissa mengirim kan tanda sinyal itu setelah sekian lama? bahkan Valera tau jika Larissa adalah gadis dengan seribu cara licik di dalam otaknya. Seketika rasa penasaran menyelimuti hati pemimpin dari king itu.
Afrika, waktu setempat.
Larissa kini jauh tampak lebih segar, rambut panjang nya yang indah ia ikat tinggi menjadi satu. Gaun berwarna merah begitu sangat kontras di kulitnya yang putih bersih.
Seseorang yang membantunya untuk membersihkan diri begitu iri dengan pesona dan kecantikan yang dimiliki oleh Larissa.
" Lana boleh aku bertanya? " tanya Larissa menatap lekat wanita berkulit hitam itu. Lana hanya mengangguk saja " hmmm maaf jika pertanyaan ku kurang sopan atau tak nyaman di dengar. Hanya saja aku begitu penasaran... Kenapa para penghuni mansion ini semuanya berkulit hitam ? " tanya Larissa lagi kepada Lana.
" Karena kami adalah satu suku " ucap Lana lagi singkat. " tuan Xavier begitu sangat baik menyelamatkan kami dari perdagangan manusia di meksiko saat itu. Sebagai balas budi kami mengabdikan diri pada tuan Xavier hingga beliau membangun istana ini di tanah gersang negara Kami. " jelas Lana lagi dan Larissa yang mendengarkan nya hanya diam.
" Apakah kau tau ini dimana? " tanya Larissa lagi hingga membuat Lana tertawa kecil. " kenapa? " tanya Larissa lagi.
" Apa sungguh kau tak tau ini dimana? kau tak bisa menebak nya ? " picing Lana dan Larissa hanya menggeleng kecil. " Aku kira kau sudah tau " ucap Lana lagi. " selesai..kau terlihat seperti seorang Dewi bagi kami. Kulit mu yang putih bersih membuat ku sangat iri " ucap Lana lagi dan Larissa meliriknya dengan sekilas.
" Jangan memuji ku! " dingin Larissa melirik tak suka.
__ADS_1
" aku hanya memuji kecantikan mu saja ? bahkan tuan Xavier telah memperingati para lelaki yang bekerja disini untuk tidak menatap mu terlalu lama. Apa kau tau kenapa? itu artinya kau memang sudah menarik perhatian tuan kami " ucap lama begitu menggebu menjelaskan pemikirannya saat ini.
Apa ? tertarik? lelaki sialan itu tertarik? hmmm cukup menarik. Maka akan ku buat dia bertekuk lutut. Dua bulan! dua bulan aku merasa gagal untuk menaklukan lelaki sialan itu! tapi tidak lain kali!. batin Larissa