
Rumah sakit internasional Paris.
Rayzen segera mendapatkan pertolongan setelah ia mendapatkan beberapa luka bakar di tangan serta kakinya. Athena harap-harap cemas dibuatnya.
George melihat Athena yang sangat mengkhawatirkan lelaki itu bahkan Athena terus menatap kearah pintu dimana Rayzen sedang ditangani.
" siapa dia Athena ? " ucap George bertanya dan Athena menoleh lalu memalingkan wajahnya seketika. " Athena. " ucap George dengan penuh penekanan.
" bukan urusan mu " ketus Athena dan George lagi-lagi heran bukan main melihat sikap Athena yang berubah.
Tak lama dokter keluar dan dengan cepat Athena bangkit seraya mempertanyakan keadaan Rayzen didalam, Athena menghela nafasnya saat dokter itu mengatakan jika Rayzen baik-baik saja dan hanya mengalami luka bakar yang tidak terlalu parah.
Athena dengan cepat masuk kedalam setelah selesai berbicara dengan dokter, terlihat Rayzen terbaring dengan perban yang menempel di kaki dan tangannya.
" Quenn kemarilah " ucap Rayzen saat melihat sosok gadis bermanik hitam yang hanya diam terpaku menatap dirinya dengan lekat.
Athena tersentak dari lamunannya dan segera menghampiri Rayzen yang terbaring itu, Athena menatap luka yang dialami oleh orang kepercayaan.
" Aku tak apa-apa sudahlah. " ucap Rayzen dan Athena hanya diam tapi tatapan mata nya tajam mendelik Rayzen.
" jantungku hampir saja terlepas jika terjadi sesuatu padamu " ketus Athena dan Rayzen tertawa seketika " Ada yang salah hmm ? " Picing Athena sinis.
" ini hanya luka kecil Quenn. Apa kau tak ingat saat kau pertama kali menemukan aku dengan keadaan sekarat ? tapi aku mampu melewatinya bukan " seru Rayzen jenaka dan Athena terkekeh kecil dibuatnya.
" Athena sebaiknya kita pulang " ucap George tiba-tiba menarik tangan Athena dan saat itu juga Athena menghempaskan nya begitu saja sembari menatap tajam George. " Athena menurut lah " tajam George tapi Athena bergeming.
" jangan memaksa ku " ucapan Athena terdengar tegas seperti tak suka diperlakukan seperti itu. George memijat pelipisnya pelan sungguh ia tak mengerti dengan sikap Athena saat ini.
" Athena jangan memaksa ku untuk bertindak kasar padamu ! " ancam George dan Athena tersenyum menyeringai.
__ADS_1
" Aku tak perduli !! " sentak Athena lagi dengan nada meninggi. George terdiam dan menatap sendu manik hitam itu dengan dalam, hatinya bertanya-tanya ada apa dengan Athena ? ini bukan seperti gadis yang dikenalnya ini seperti orang lain.
perlahan-lahan George melepaskan genggaman tangannya dari tangan Athena dan gadis itu masih menatap sengit lelaki bermanik biru, terlihat jelas jika dirinya sangat kesal dan terkesan marah.
Rayzen yang melihat pertengkaran itu hanya diam sembari memperhatikan keduanya Rayzen seolah-olah mempunyai banyak pertanyaan untuk Athena di dalam fikirannya.
" baiklah jika begitu aku pergi '' ucap George berpaling dan akhirnya pergi dari tempat itu meninggalkan Athena dan Rayzen dengan sejuta kekecewaan dalam dirinya.
Athena seketika terduduk di sofa yang tak jauh dari dirinya, hatinya berdenyut nyeri tapi rasa kecewa dalam dirinya lebih besar semenjak George dan kedua orangtuanya melakukan kebohongan terbesar.
Athena fikir ibu dan ayahnya tak akan pernah berbohong pada dirinya termasuk George lelaki yang telah menempati hatinya sejak dulu tapi dirinya salah ternyata mereka melakukan kebohongan yang membuat hatinya hancur saat mengetahui jika George akan dijodohkan, bahkan Hans Maxwell pun yang telah dianggap ayahnya sendiri pun ikut berbohong dan justru melakukan perjodohan konyol itu.
Athena menyeka air matanya dengan keras dan menatap Rayzen yang kini sedang menatapnya. Athena menunduk dan malah memalingkan wajahnya kesamping.
" Quenn sebaiknya jika ada masalah selesaikan lah terlebih dahulu, jangan dibiarkan berlarut-larut '' ujar Rayzen berkata lembut. Dirinya telah menganggap Athena seperti adik kandung nya sendiri.
" Aku tidak apa-apa Rayzen. Hmmm sepertinya aku harus pergi bagaimana jika aku menyuruh seseorang untuk menemani mu disini ? besok aku akan kembali lagi untuk melihat keadaan mu '' ucap Athena dan Rayzen mengangguk dengan mengulas senyum manis nya.
Indonesia, waktu setempat.
sudah tiga hari Diandra berada di indonesia, ternyata Chaiden membawa dirinya kesebuah hunian yang cukup luas bahkan terlihat seperti tak terawat.
Didalam kamar bernuansa biru Diandra hanya bisa duduk termenung sembari memikirkan apakah suami dan putranya belum juga menemukan dirinya.
Chaiden lelaki itu selalu membuat dirinya frustasi apalagi saat Chaiden melakukan hubungan suami istri dengan cara yang memaksa, tapi hatinya merasa lega karena dirinya memasang alat kontrasepsi jadi Diandra tak khawatir jika dia akan kembali mengandung apalagi usianya tak lagi muda.
CEKLEK.
Diandra terkejut saat mendengar pintu terbuka maniknya menatap datar lelaki yang teramat ia benci. Diandra memilih memalingkan wajahnya kearah lain.
__ADS_1
" Apakah kau membenciku ? '' tanya Chaiden tiba-tiba duduk bersimpuh dihadapan Diandra menatap wajah cantik itu lekat.
" sangat " tegas Diandra yang masih enggan memandang kearah Chaiden.
" Aku sangat mencintaimu Diandra. Apakah kau tak merasakannya ? kau tak merasakan jika aku masih sangat mencintaimu. Aku tau jika aku seorang bajingan, lelaki brengsek yang mungkin tak bisa termaafkan tapi apakah tidak ada tempat untuk ku di hatimu walaupun sedikit saja '' lirih Chaiden berwajah sendu bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
Diandra bergeming dan menggeleng pelan kilatan masa lalunya kembali terngiang indah di memory nya.
" Kau lah yang membunuh rasa cintaku untukmu Chaiden. Aku selalu menerima saat aku kau jadikan pelampiasan dari amarah mu Chaiden. Rasanya sangat menyakitkan '' Isak Diandra dengan air mata yang sudah jatuh membasahi kedua pipinya. " cintaku sudah lama mati untuk mu, dan ingat Chaiden kini kita berbeda aku telah bersuami dan memilki dua orang anak. '' tegas Diandra lagi dan Chaiden hanya diam tapi detik kemudian ia terkekeh diiringi tawa kecilnya.
" Aku bodoh Diandra. Aku memang bodoh seharusnya aku tak menyia-nyiakan dirimu kala itu '' ucap Chaiden lagi.
" dan aku semakin membencimu saat aku tau jika kau dalang atas kematian ayah dari putraku '' ucap Diandra lagi Chaiden menegakkan pandangan ke wajah Diandra dimana ia bisa melihat kilatan amarah dalam diri wanita itu.
'' Macky '' gumam Chaiden '' dia memang pantas mendapatkannya !! dia merebut mu dari ku bahkan kau sampai mengandung anak darinya. '' sentak Chaiden lagi.
" itu semua karena dirimu Chaiden !! karena kau '' terbaik Diandra histeris hingga menunjuk Chaiden dengan kasar di dadanya. " kau yang telah membuatku melepaskan mu !! itu semua karena kau dan kini kau mempertanyakan semuanya ? jangan gila Chaiden aku bukan Diandra yang dulu lagi kini aku telah memiliki suami " pekik Diandra tak tahan dengan sikap Chaiden yang memaksa itu.
PRANGGG
Chaiden mengamuk dan menghancurkan apa saja barang yang berada didekat nya, Diandra diam saja dan menatap sinis pada lelaki tempramental itu.
Chaiden berteriak histeris dengan mengusap rambutnya kasar, maniknya menatap tajam Diandra tapi dirinya seakan tak takut dengan tatapan itu.
" itulah dirimu. Kau seorang lelaki tempramental bahkan kau seorang lelaki psikopat bagaimana bisa aku bertahan di sisimu jika seperti itu '' bentak Diandra lagi
BRAKKKKKK
Chaiden memilih pergi dari ruangan itu dan menutup pintu nya dengan keras hingga Diandra terlonjak kaget dengan air mata yang semakin deras mengalir, dirinya terisak lirih.
__ADS_1
Aku harus pergi dari sini. Ya aku harus pergi. Batin Diandra.