
pemuda yang memakai pakaian lengkap nya baru saja tiba di suatu tempat. Kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya ia lepaskan secara perlahan.
Aslan melirik sekilas beberapa orang yang sudah menunggunya. Putra Alexandrea itu dengan cepat melangkah dan memasuki sebuah mobil berwarna abu yang akan mengantarkan nya ke tempat tujuan.
Mobil yang membawa Aslan melaju dengan kecepatan sedang. Sorot mata nya yang teduh hanya menelisik ke arah samping dimana jalanan yang lenggang ia lalui. Hingga tak terasa mobil yang membawa nya sudah tiba disebuah mansion bertingkat tiga itu
" tuan muda silahkan '' ucap seseorang membukakan pintu mobil untuk Aslan hingga pemuda itu hanya mengangguk samar. Mansion bergaya klasik itu membuat Aslan terkekeh seketika. '' nyonya berada di dalam, silahkan '' ucap orang itu lagi.
'' Ya terimakasih. Kau boleh pergi '' ucap Aslan datar dan lelaki itu hanya menunduk dengan hormat.
CEKLEK
Aslan membuka sebuah pintu berwarna putih keemasan. Maniknya menangkap seorang wanita yang sedang duduk dengan anggun seperti sedang menunggu kehadiran seseorang di sana.
'' bibi '' ucap Aslan hingga wanita itu menoleh dengan cepat menampilkan wajah terkejutnya " maaf mengejutkan mu '' ucap Aslan lagi tersenyum dan melangkah maju lalu duduk di samping wanita yang merupakan adik ayahnya. Alexa
'' tidak apa-apa.. Ada apa? mendadak sekali '' ucap Alexa dengan tatapan memicing memperhatikan Aslan yang berwajah datar menyerupai Alexandrea semasih muda dulu.
" bibi aku ingin berbicara serius dan aku harap bibi dapat menjawab pertanyaan ku dengan baik '' ucap Aslan lagi hingga membuat Alexa mengerutkan dahinya pelan. " ramalan! tentang ramalan itu. Dapatkan bibi menjelaskan nya padaku ? '' pinta Aslan hingga Alexa terkejut bukan main. Bagaimana bisa Aslan mengetahui tentang ramalan yang masih simpang siur itu.
'' Apa yang kau katakan? ramalan apa? " ucap Alexa dengan tenang. Namun manik tajam Aslan membuat Alexa menghembuskan nafasnya perlahan. " Ada apa Aslan? sesuatu sedang mengusik mu? " tanya Alexa lagi dan Aslan mengeryitkan dahinya perlahan.'' apa yang ingin kau ketahui? " tanya Alexa lagi.
" Semuanya! " tegas Aslan dan Alexa terkekeh namun detik kemudian wanita itu tertawa dengan renyah hingga mengalihkan tatapan Aslan pada Alexa. " ramalan? jangan terlalu percaya dengan hal seperti itu Aslan. Karena apa? kita tidak tau apa yang akan terjadi dimasa mendatang. '' ucap Alexa tenang.
" Seperti yang terjadi dengan Larissa? Serena? dan Florian? '' tanya Aslan lagi dan Alexa hanya mengangguk samar. " Baiklah anggap saja semuanya tidak benar! Namun bibi itu semua tidak serba kebetulan. Larissa dan Florian bertemu dengan seseorang yang menurut ku cukup mengesankan. Xavier Wang dan xenya Wang apa bibi mengetahui nya? " tanya Aslan lagi dan Alexa hanya menggeleng tidak tau. '' aku sempat mendengar percakapan bibi dengan seseorang di telepon dan bibi membicarakan tentang kami. Jujur saja aku sangat penasaran terlebih dengan Mike dan Mikael! '' tajam Aslan hingga Alexa menatap tajam putra kakak nya itu.
__ADS_1
'' jaga batasan mu Aslan! '' dingin Alexa dan Aslan hanya tersenyum kikuk dibuatnya " Mike dan Mikael tidak akan pernah melakukan hal seperti itu! '' tegas Alexa lagi dan Aslan hanya mengangguk samar walaupun perasaan jua mengatakan tak yakin.
'' aku harap begitu '' imbuh Aslan menanggapi perkataan Alexa yang terdengar seperti sedang mencemaskan sesuatu. Alexa terus menatap kearah Aslan yang sedang duduk dengan tenang seraya memainkan ponsel mahal milik nya. Sejujurnya Alexa pun masih penasaran tentang ramalan itu namun Alexa lebih tertarik dari mana Aslan mengetahui nya.
'' Apa kedatangan mu diketahui seseorang? '' tanya Alexa lagi dan Aslan sontak menggeleng tegas.
" ini murni misi ku! itu sebab nya mari bekerja sama untuk mengungkap tabir penuh misteri ini bibi. Aku yakin bibi membutuhkan bantuan ku! '' ucap Aslan dengan penuh percaya diri.
keesokan harinya Alexa sepakat meminta bantuan Aslan untuk mencari seseorang yang dapat membantu meluruskan semuanya. Bukan hanya Alexa namun Aslan pun lebih penasaran terlebih setelah dirinya bertemu dengan seorang gadis pada waktu itu.
Sedangkan disisi lain Ezio dibuat geram karena gudang bisnis legal miliknya diledakkan seseorang. Gudang yang menyimpan berbagai macam motor antik itu meledak begitu saja hingga Ezio mengalami kerugian yang berjumlah fantastis
'' agh!! siall!! '' marah Ezio menggelegar dengan manik yang memerah menahan amarah " Periksa cctv yang ada! kali ini siapa yang ingin bermain-main dengan ku! " peluk Ezio lantang hingga seseorang datang dengan langkah tergesa.
" Tuan.. kami menemukan ini! " ucap seseorang yang datang dengan langkah cepat seraya membawa sebuah benda asing ditangan nya. Jam tangan ? Ezio melirik dengan cermat jam tangan itu. Tunggu! dirinya pernah melihat seseorang memakai jam tangan ini.
Ezio tak mau banyak bicara dirinya segera bergegas menuju kediaman pria itu. Lozak! berani sekali lelaki itu bermain-main dengan seorang Ezio Pillipo! rasanya Ezio ingin sekali melenyapkan lelaki yang tak lain adalah sepupu tirinya.
" Lozak!! " teriak Ezio lantang hingga suaranya mengejutkan beberapa orang yang berjaga di sana. Ezio semakin beringas kala tubuhnya dihadang oleh para anak buah lozak yang bertugas " minggir! " peluk Ezio lantang.
" Tuan jangan membuat keributan! " ucap seseorang lagi namun Ezio tersenyum menyeringai hingga.
BUGHHHH
aghhh
__ADS_1
Ezio memukul beberapa orang yang mencoba untuk mengulangi nya, beberapa pengawal terus menyerang dan menghadang Ezio untuk tidak membuat kerusuhan yang ada. Namun Ezio tak perduli dan terus menyerang orang-orang itu dengan lihai.
BUGHHHH
" Sampah! " seringai Ezio tercetak jelas Dimata. Lalu manik hazel nya menatap seseorang yang sedang memperhatikan nya di atas sana, senyum Ezio semakin terlihat nyata " Kau yang menjemput kematian mu sendiri! " ucap Ezio lirih. hingga
DODODODOR!!
" SHITTT! " Ezio mengelak dan membenturkan dirinya kesamping saat rentetan peluru ingin mengoyak tubuhnya. Lancang! sungguh lancang. Ezio berlari dan memasuki mansion itu dengan amarah yang memuncak.
" Ada tamu rupanya! " ucap seseorang mengalihkan pandangan Ezio hingga senyum lelaki itu terbit seketika. Lelaki paruh baya yang hampir seumuran dengan ayahnya keluar dengan wajah angkuhnya. Lelaki baya itu tersenyum simpul membuat Ezio menyeringai penuh arti '' ada apa Ezio? datang dan membuat keributan? '' ucap lelaki baya itu lagi dengan nada angkuh nya.
'' tentu saja aku datang ingin membunuh putramu! '' ucap Ezio dengan nada dingin dan manik yang menatap datar. Perkataan Ezio bagaikan sebuah angin yang berhembus sangat kencang.
" Hahahaha '' lelaki baya itu tertawa renyah mengejek. Ezio hanya diam dengan tenang lelaki baya di hadapan nya itu tak lebih seperti parasit yang tumbuh dengan baik, itu sebab nya Ezio harus segera membersihkan nya tanpa sisa " membunuh putraku? kenapa " tanya lelaki itu lagi.
'' apa saat ini kau sedang mengajak ku untuk berbincang? '' sinis Ezio mengusap tangannya seraya manik nya menelisik bangunan mewah pemberian ayahnya Harvey! " tentu saja aku ingin sekali membunuh putramu karena sudah berani mempermainkan aku! meledakkan gudang legal ku dengan meninggalkan jejak! sangat bodoh! '' maki Ezio hingga lelaki baya itu dibuat terkejut sekaligus geram mendengar Ezio yang berkata tak baik terhadap putranya.
'' lancang! kau memang lelaki tak punya etika Ezio! " berang lelaki itu lagi hingga,
DORRRR
AGHHH
" berbicara lah yang sopan terhadap ku paman! kau tau aku ini siapa bukan? jadi berhati-hatilah lah mulai saat ini juga! urusan ku dengan putramu jadi kau jangan ikut campur! " tegas Ezio bengis mengabaikan lelaki baya itu yang sedang merintih kesakitan karena salah satu kakinya ditembak begitu saja oleh Ezio.
__ADS_1
lelaki bermanik hazel itu menyeringai penuh arti saat menyadari jika targetnya sedang bersembunyi di mansion ini. Ezio tidak bodoh itu sebab nya ia membiarkan Lozak untuk bersembunyi sebaik mungkin sebelum dirinya seret ke tempat yang sangat mengerikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...