King ( KSRM Season 2 )

King ( KSRM Season 2 )
* Sad love.


__ADS_3

Malvin terkejut saat mendengar suara jeritan seorang wanita di balik pintu ruangan kerja miliknya, dengan cepat Malvin menekan tombol sesuatu dan merubah dinding hitam menjadi kaca transparan untuk melihat apa yang terjadi di luar sana.


Madeline tersungkur di dekat meja dengan seorang gadis muda yang sedang berkacak pinggang disana, Madeline meringis saat sikutnya membentur sisi meja.


Malvin mengeryitkan dahinya sesaat melihat adegan tersebut bahkan ia tak begitu paham dengan apa yang telah terjadi.


" Apa yang kau lakukan nona ? " ucap Madeline bingung karena tiba-tiba dirinya didorong kuat dari arah belakang dan ternyata pelakunya adalah gadis muda.


Gadis itu hanya tersenyum sinis tanpa menjawab pertanyaan Madeline. Malika sekertaris George dengan cepat membantu Madeline untuk berdiri dari lantai yang dingin itu.


" Anda tak apa-apa nona ? " seru Malika dan Madeline menggeleng pelan dan mengucapkan terimakasih. Malika menatap gadis muda itu dengan tatapan menyelidik nya, lalu ia teringat akan wajah gadis muda itu yang pernah dibawa rekan klien tuannya saat rapat pada tempo hari.


" Nona ada keperluan apa kau disini ? '' tanya Madeline bersikap ramah kepada wanita yang usianya lebih muda dari dirinya.


" Tidak perlu tau. Aku ingin bertemu dengan tuan Malvin " ucap gadis itu dengan ketus.


" Tapi apakah anda sudah membuat janji sebelumya ? " tanya Malika lagi dan gadis itu hanya mencibir sinis tanpa sebab. Madeline geram dengan sikap kurang ajarnya itu lalu ia melangkah dan beranjak pergi dari tempat itu tapi lagi-lagi tangannya dicekal oleh gadis berambut blonde.


" Apa yang kau lakukan ? " sentak Madeline hingga Malvin yang berada di ambang pintu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Malika langsung menundukkan kepalanya seraya menghormati Malvin.

__ADS_1


" Ada apa ini ? membuat keributan di tempat kerja adalah hal yang tak terpuji " tegas Malvin datar hingga Madeline hanya bisa menundukkan wajahnya saja.


" ahh tuan Malvin aku datang kemari hanya ingin mengantarkan proposal milik ayahku. Tadinya aku ingin bertemu dengan tuan George hanya saja ia tak ada " jelas gadis itu bersikap manis dan ramah hingga Malika dan Madeline mengeryitkan dahinya pelan.


" berikan dan sekarang kau pergi " ucap Malvin tegas dan gadis itu hanya menampilkan wajah kusamnya dan mendelik Malika maupun Madeline sinis. Malika pamit dan Malvin mengangguk kini tersisa hanya tinggal Madeline saja. " masuklah " ucap Malvin dingin dan Madeline mengangguk dan tersenyum tipis.


Malvin duduk di kursi kebesarannya seraya menatap Madeline tajam dan wanita itu hanya menunduk dengan wajah sendu, hati nya selalu tercubit saat lelaki yang dicintainya menatapnya dengan pandangan kebencian.


" Malvin aku hanya ingin mengajak kau makan siang " ucap Madeline dan Malvin diam saja tak menjawab tapi tariannya malah menelisik kearah wanita itu.


" apa kau tak bosan bersikap seperti ini Madeline, apa kau tak lelah ? " sinis Malvin dan Madeline menatap Malvin dengan sendu " Aku muak melihat wajah mu itu tidak bisakah kau berhenti bersikap seperti ini ? " tajam Malvin lagi.


" Karena kau putri dari orang yang hampir membunuh ibuku " tajam Malvin perkataan itu lolos begitu saja di mulut Malvin, Madeline terkejut bukan main, apa yang baru saja Malvin katakan sungguh membuat sesak di dada wanita anggun itu.


ayahnya ? bagaimana mungkin ? bahkan kini ayahnya telah tiada. Air mata Madeline lolos begitu saja dan Malvin menatapnya dengan sinis.


" itulah sebabnya aku membencimu. Karena kau putri dari orang yang hampir membunuh ibuku pada masa lalu " ucap Malvin dengan dingin.


" tapi bagaimana mungkin itu terjadi ? ayahku tak mungkin melakukan hal itu !! kau berbicara dengan asal Malvin " pekik Madeline histeris dengan airmatanya yang mulai berderai.

__ADS_1


" asal kau bilang ! " bentak Malvin " apa keuntungannya aku berbicara hal itu padamu. Itulah kebenarannya Madeline ayahmu seseorang yang kejam bahkan kematian ayahmu yang terkena serangan jantung itu tak pantas untuknya " pekik Malvin hingga Madeline terdiam dari tempatnya. Lidahnya kelu tak bisa berbicara apa-apa. Jadi ini sebabnya Malvin selalu bersikap menyakitkan pada dirinya, kesalahan sang ayah berimbas pada dirinya sendiri. Lelaki yang ia cintai sedari dulu ternyata menaruh dendam pada sang ayah yang telah tiada. " Jadi sekarang kau tau bukan alasanku " ucap Malvin lagi mengatur nafasnya melihat Madeline terdiam dengan menunduk dan airmatanya yang berderai, sesaat Malvin memandang wajah sendu itu.


" ha..ha..ha.. Jadi itu alasanmu bersikap demikian Malvin, karena kesalahan ayahku dimasa lalu, aku yang tak tau apa-apa kau seret begitu saja. Selama ini aku mencintaimu dengan tulus berharap kau mau menatap kearah diriku tapi ternyata itu semua tak bisa bahkan kau membenciku secara terang-terangan. Berapa tahun aku selalu bersabar dengan sikap dingin mu itu Malvin, bahkan saat kau membentak ku dan memarahiku aku masih berlapang dada untuk memakluminya. Tapi sekarang semuanya sudah jelas, aku lelah aku menyerah dengan cintaku Malvin. " ucap Madeline terisak dengan pilu bahkan Malvin hanya terdiam membisu mendengar setiap ucapan Madeline yang terdengar begitu menyayat hati.


Benar apa yang dikatakan Madeline, ia wanita tersabar saat menghadapi sikap dingin dan datar seorang Malvin yang selalu menatap layaknya seorang musuh, tapi Madeline tetap tersenyum memaklumi, dan kini semuanya tercetak jelas rasa kecewa yang teramat dalam pada diri Madeline.


Madeline menyeka air matanya secara perlahan dan tersenyum manis pada Malvin, dan Malvin hanya tertegun dengan sikap wanita yang berada di hadapannya itu.


" baiklah, ini terakhir kalinya kita bertemu, dan ini terakhir kalinya aku bisa melihat wajahmu, setelah itu aku jamin kau tak akan pernah melihat wajahku lagi, dan aku meminta maaf atas nama ayahku yang sudah melakukan kesalahan dimasa lalu ayahku telah tiada dan aku tak punya siapa-siapa lagi " ucap sendu Madeline lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dengan sejuta luka dan kecewa di dalam hatinya.


Malvin mengacak-ngacak rambutnya kasar dan mengusap wajahnya dengan gerakan tak menentu, matanya memerah seperti sedang menahan sesuatu yang hendak tumpah.


Madeline wanita cantik berambut panjang dengan warna kecoklatan gelap, wajahnya yang yang anggun dengan sorot mata yang teduh serta bibirnya yang tipis, sesaat wajah Madeline seperti perpaduan wanita Asia.


Sebenarnya Malvin enggan bersikap demikian, tapi saat mengingat kejadian beberapa tahun silam yang hampir merenggut nyawa ibunya Diandra, seketika kemarahan itu muncul saat menatap wajah Madeline.


" maafkan aku Madelina..Maafkan aku " lirih Malvin dengan memejamkan matanya secara perlahan, dasi yang melingkar di lehernya ia kendor kan dengan kasar.


maniknya menatap awan yang cerah dibalik jendela, langkah kakinya secara perlahan melangkah ke depan dan melihat sekelilingnya, ia bisa melihat jalanan yang cukup padat di depan gedung GM Crop's.

__ADS_1


" kerumunan ? " Picing Malvin saat maniknya melihat kearah bawah jika ia melihat kerumunan banyak orang, sesaat ia mengingat pada sosok Madeline tapi detik kemudian ia menggeleng cepat lalu duduk kembali dan segera menyelesaikan pekerjaan.


__ADS_2