
Indonesia, waktu setempat.
Hari ini adalah keberangkatan Diandra dan Asyur menuju Paris karena mereka akan menjemput Elisya yang berada di Gold mansion yang bersama dengan keluarga Remigio.
Malvin memutuskan untuk tinggal sementara waktu karena akan mengurus permasalahannya dengan Madeline. Diandra yang paham akhirnya mengijinkan Malvin untuk tetap tinggal.
" Madeline. Terimakasih atas semuanya " ucap Diandra seraya memeluk tubuh Madeline dengan erat " berkunjunglah ke turki nanti. Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk mu " ucap Diandra lagi dan Madeline hanya mengangguk pelan. " Jika begitu kami pamit. " lanjut Diandra lagi.
" Hati-hati dalam perjalanan nyonya " ucap Madeline dengan penuh perhatian. Diandra dan Asyur mengangguk dan tersenyum menatap wanita berhati tulus itu, Malvin segera memeluk ibunya dengan erat.
" Hati-hati mom " bisik Malvin dan ibunya mengangguk lalu mengecup dahi Malvin dengan penuh kasih sayang. Beberapa lelaki bertubuh tegap sudah menunggu keberangkatan tuan dan nyonya nya, Madeline tampak melambaikan tangannya saat melihat Diandra mulai memasuki mobil mewah bersama dengan Asyur.
setelah kepergian Diandra. Madeline segera masuk tanpa mau berbicara dengan Malvin dan hal itu membuat Malvin dengan cepat mengikuti kemana pun Madeline melangkah.
" Madeline tunggu! '' ucap Malvin seraya mencengkram lembut tangan Madeline. " Kau mengabaikan ku ? '' Picing Malvin dan Madeline tersenyum sinis.
" pergilah dari rumahku Malvin. Kau bisa menyewa hotel ataupun villa untuk kau tempati '' ucap Madeline tanpa basa-basi menatap lekat manik Malvin dengan dalam.
" Madeline Aku sudah meminta maaf padamu, tidak bisakah kau memberiku satu kali kesempatan saja '' pinta Malvin dengan wajah penuh harap menatap Madeline yang enggan menatapnya.
Madeline menggeleng kepalanya pelan. Kesempatan ? Malvin meminta kesempatan saat harapan nya telah hancur. Tiga tahun Madeline selalu sabar dengan sikap dingin yang terbilang tak berperasaan dari seorang Malvin Bruno.
Malvin masih menunggu jawaban yang membuatnya memiliki harapan untuk memulai semuanya dari awal, perlahan-lahan Madeline melepaskan tangan Malvin yang masih mencengkram erat tangannya.
" Pergilah Malvin '' hanya itu yang mampu Madeline ucapakan. '' Aku tak tau apakah aku akan memberimu kesempatan atau tidak. Apakah kau ingat berapa tahun aku mencoba untuk mencairkan hatimu hanya untuk lelaki yang aku cintai ? Apakah kau tau bagaimana sakitnya saat ditatap penuh kebencian dari orang yang kau cintai ? Lalu apakah kau bisa merasakan bagaimana rasanya saat kau mengataiku dengan kata-kata halus mu saat dihadapan George ? '' ucap Madeline pelan. Saat ini ia sedang mengeluarkan apa yang ia rasakan dulu. Madeline benar-benar berjuang untuk bisa membuat luluh seorang Malvin Bruno.
" Maaf.. Maafkan aku Madeline. Aku menyadari semua kesalahan ku. Aku hanya.. '' ucapan Malvin terhenti karena Madeline menyelanya dengan senyum penuh.
" Apa karena aku putri dari ayahku ? hmm begitukah maksud mu. Kau melampiaskan kesalahan ayahku pada diriku yang tak tau apa-apa Malvin '' pekik Madeline marah dan hal itu membuat Malvin terkejut karena baru pertama kali ia mendengar Madeline meninggikan suaranya.
Malvin memeluk tubuh Madeline walaupun tak ada penolakan, Madeline terdiam saat tubuh kekar itu sedang mendekap nya erat. Aroma yang sangat dikenalnya terhirup secara perlahan.
'' Aku mencintaimu Madeline. '' ucap Malvin tegas ia menangkup wajah Madeline dan membelai nya secara perlahan, manik keduanya bersitatapan dan saling mengunci satu sama lain
__ADS_1
Madeline diam merasakan hangatnya sentuhan dari tangan Malvin, nafas hangat Malvin sangat terasa menyapu lembut area wajahnya hingga Madeline merasakan jika bibirnya dibelai lembut oleh Malvin.
'' Mungkin dulu aku bodoh Madeline. Tapi kali ini aku mencintaimu '' bisik Malvin dengan lembut dan tanpa sadar bibir mereka saling menyatu.
Malvin mencium nya dengan gerakan perlahan agar Madeline terbuai dan benar saja Madeline kini sudah terbuai dan ikut membalas pertautan indah itu.
Tangan Malvin mencengkram lembut tengkuk Madeline membuat si mpunya kian gelisah, benda tak bertulang itu sama-sama bergerak liar dan saling menyesap satu sama lain.
suara ******* lirih Madeline terdengar, Malvin melepaskan pertautan nya dan menyatukan dahi mereka satu sama lain.
'' Aku akan menebus penantian mu yang sia-sia itu Madeline. Aku berjanji padamu '' ucap Malvin dengan tegas menatap manik Madeline dengan dalam.
Madeline diam saja setelah mendengar perkataan Malvin yang bersungguh-sungguh itu, Malvin kembali mencium bibir nya secara tiba-tiba tapi kali ini lebih menuntut dan dalam.
pergerakan Malvin seperti sedang mengungkungnya, Madeline tak bisa menghindar karena nya.
'' Biarkan aku memilikimu sepenuhnya Madeline. '' ucap Malvin dengan tatapan hangatnya tapi tersirat jika ada sebuah kabut gairah di sana.
Rasanya Madeline ingin sekali menyentuh nya, bibirnya ia gigit dan tanpa sadar Madeline menarik tubuh Malvin kedalam dekapannya.
'' Kau milikku Malvin '' ucap Madeline lirih saat sebuah kecupan ia dapatkan di lehernya. '' ahhh Malvin " Madeline kian gelisah saat merasakan sentuhan dari Malvin yang menari indah di tubuhnya.
Ternyata cinta Madeline masih tetap sama untuk Malvin dan kini lelaki yang selalu menolaknya mentah-mentah justru berbalik arah dan menginginkan dirinya.
Kedua insan itu saling berpelukan dan bergulat dengan ria, suara-suara manja dari Madeline terdengar sangat sensual ditelinga Malvin.
ohh tuhan. Apakah ini mimpi. Batin Madeline.
Madeline kian gugup saat Malvin mulai membuka kain penutup terakhir miliknya yang berwarna putih. Desiran jantungnya berdetak lebih cepat, sentuhan hangat menjalar di sekujur tubuhnya.
Malvin menenangkan Madeline dengan kata-kata penuh cinta dan penuh kelembutan, kecupan ringan Malvin lakukan di seluruh wajah Madeline.
'' Percayalah padaku Madeline '' ucap Malvin lagi dan Madeline justru diam dan tak menjawab sama sekali tapi menolak pun tak ia lakukan. Sebuah anggukan kecil Madeline lakukan dan membuat Malvin tersenyum lebar.
__ADS_1
Malvin segera melepaskan seluruh pakaiannya karena tubuhnya terasa panas dan berkeringat, Madeline tertegun dan menatap syok pada benda pusaka yang tepat berada di hadapannya.
" Kau tak perlu terkejut sayang '' lembut Malvin dan Madeline mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan.
Malvin terus memberikan kecupan-kecupan kecil yang memabukkan hingga tautan keduanya kembali terjadi tapi kali ini lebih liar dan menggila.
Malvin menggeram saat ia mencoba untuk masukkan benda pusaka milik nya ke dalam sana. Madeline menjerit karena ia merasakan tubuhnya seakan terbelah dua.
" relaks.. Aku berjanji ini tak akan lama '' ucap Malvin lagi.
Madeline mencoba mengatur nafasnya agar lebih tenang dan teratur, Malvin segera membenamkan wajahnya di benda bulat nan kenyal itu. Madeline lagi-lagi menggila tak karuan.
" Aghhhh " pekik Madeline lagi saat sebuah hentakkan keras dilakukan oleh Malvin tanpa aba-aba. Madeline mencengkram erat bahu Malvin hingga sedikit mencakar nya. '' ini sakit sekali " ucap Madeline dengan mengerutkan dahinya pelan.
Malvin terdiam sejenak lalu detik kemudian ia melakukan kegiatan nya dengan baik, Madeline hanya mampu menikmati dan meracau tak karuan bahkan menyerukan nama Malvin dengan lantang.
kedua insan itu seakan tak puas dengan apa yang di capai nya, Malvin seakan tak lelah dan terus menggempur Madeline secara terus menerus.
" Faster " pinta Madeline lagi dan Malvin hanya tersenyum dan mengiyakan permintaan Madeline itu.
gerakkan yang cepat dan kasar Madeline terima tapi hal itu membuat Madeline tersenyum penuh arti, Malvin mengerang dengan mata terpejam saat ia menggelontorkan seluruh amunisinya kedalam sana.
Madeline roboh dengan tubuh telentang, maniknya menatap sayu kearah Malvin yang saat ini sedang tersenyum hangat padanya. Malvin segera mencium dahi Madeline dan tak lupa mengucapkan rasa terimakasihnya untuk hal yang baru ini.
" Tetaplah di sisiku dan jangan pernah pergi lagi. Aku akan mencintaimu dan menjagamu sampai akhir hidupku Madeline " ucap Malvin tepat di wajah wanitanya.
" Jangan pernah abaikan aku lagi " lirih Madeline dan Malvin terkekeh kecil.
" Tidak akan! " tegas Malvin dan akhirnya Madeline tersenyum dan memeluk tubuh Malvin dengan sangat erat. Walaupun ia harus menunggu bertahun-tahun lama nya tapi kali ini ia mendapatkan hasilnya.
sebuah penantian yang berujung sangat manis membuat Madeline memutuskan untuk menyerahkan seluruh hidupnya pada lelaki yang bertahta di hatinya itu.
Tidurlah sayang. Aku akan menemani mu hingga kau terbangun nanti. Batin Malvin.
__ADS_1