King ( KSRM Season 2 )

King ( KSRM Season 2 )
Season 3 ~ about Generations


__ADS_3

Selepas kepergian Florian kini hanya ada Evander, Aria dan Larissa ketiganya sama-sama bungkam tak dapat berbicara bahkan mereka terlihat sibuk memikirkan sesuatu yang memenuhi isi kepalanya.


" Evan bisa kau beritahu kami kenapa kau melenyapkan dia? '' ucap Aria yang akhinya berbicara karena rasa penasaran nya itu.


'' sudah ku bilang dia masuk ke dalam ruangan ku tanpa ijin! '' ucap Evander datar. " Jangan tanya alasan yang lain karena aku tak akan menjawab! '' tandas Evander lagi.


" Kenapa? Apa aku tak boleh tau ? '' Picing Aria lagi namun Evander hanya memalingkan wajahnya kearah samping. " menggoda mu? atau dia ingin melakukan sesuatu hmm. seperti merangkak naik keatas ranjang mu? '' tebak Aria lagi.


'' Kau pintar aria! Aku tak suka wanita bekas orang lain sekalipun bekas saudaraku! Aku tidak suka wanita kotor! '' kesal nya lagi dan Aria serta Larissa sontak tertawa renyah. Ya mereka tau jika Evander sangat tidak suka dengan wanita penggoda apalagi wanita yang rela merangkak naik keranjangnya. Bagi seorang Evander hal itu sangat lah menjijikan.


" Baiklah tak apa. Namun melihat jika Florian seperti tak rela akan kematiannya ada kemungkinan Ganesha memiliki rahasia besar '' imbuh Larissa lagi mengutarakan pendapatnya dan hal itu membuat Aria sependapat.


" Entahlah aku tak tau. '' ucap Evander lagi. " Dan aku tak mau mencampuri urusan nya! '' ucap Evander lagi dengan perasaan dongkol yang menumpuk dihatinya. Bahkan wajah tampannya terdapat lebam kebiruan akibat pukulan Florian.


'' Baiklah sepertinya aku harus pergi. Serena Sudah menungguku! '' ucap Larissa lagi.


"Kemana? '' kali ini Evander bertanya dengan penasaran. Sebab jika sudah bertemu dengan Serena pasti ada sebuah masalah besar dibalik nya. Larissa tersenyum kecil dibuatnya.


" pergi ke Club'! ingin ikut? '' tawar Larissa dan Evander menggeleng lemah. " Obati luka mu terlebih dahulu Aria akan disini bersama mu! '' tandas Larissa lagi dan berlalu pergi dari tempat itu dengan cepat.


" Ayo aku akan mengobati luka mu! '' ucap Aria lagi.


" ckck aku bisa sendiri! '' ketus Evander lagi.


" Tidak! aku bisa mengobati mu! kau lupa janji kita Evan! jika salah satu diantara kita ada yang terluka maka yang sehat wajib mengobatinya. Bukan kah itu janji yang kita buat saat melakukan pelatihan fisik di Swiss? '' ucap Aria lagi Hingga akhinya Evander mengangguk lemah.


" Baiklah. Walau bagaimana pun kau saudara yang paling terikat dengan ku Aria. Kita menghabiskan masa kecil bersama hingga saat ini. Jika suatu saat nanti kau terluka maka aku orang pertama yang akan menangisi mu '' tandas Evander lagi hingga Aria tersenyum dan mengangguk kecil.


*******


Disisi lain Larissa dan Serena baru saja tiba disebuah club' yang berada dibawah naungan king. Walaupun tempat itu sudah resmi menjadi milik Serena dan Larissa tetapi tetap saja masih berada dibawah pengawasan King.


Kedatangan kedua nya mencuri perhatian para pengunjung disana. bahkan para pembisnis muda menjadikan tempat itu sebagai meeting dadakan.


" Nona! " ucap seseorang yang datang seraya membungkuk dengan hormat. " Mari " tandas orang itu lagi hingga Serena dan Larissa mengikutinya dari arah belakang.

__ADS_1


tatapan tajam Larissa menyapu setiap sudut bangunan itu, setiap harinya pengunjung disini sangat ramai dan tak pernah sepi. Mereka mulai menaiki tangga klasik yang akan menghubungkan ke lantai dua dimana Larissa dan Serena dapat melihat para pengunjung dibawah sana.


Kini baik Serena dan Larissa berdiri di tepian anak tangga dengan pandangan yang mengedar kesana kemari. Baik Serena maupun Larissa seperti sedang mencari sesuatu.


" Katakan! " ucap Larissa dingin menatap seorang lelaki yang di percaya untuk menjaga tempat ini.


" Nona orang-orang tuan Nando datang mencari anda " ucap lelaki itu hingga pandangan Larissa dan Serena saling pandang. Ada rasa takut yang terpancar didalam manik Larissa.


" Lalu? " ucap Larissa lagi.


" Mereka menginginkan nona Larissa untuk datang " ucap lelaki itu lagi.


" Dimana? " picing Serena.


" kota kematian! " ucap lelaki itu hingga tiba-tiba tubuh Larissa melemah dengan manik yang bergerak tak beraturan. Kota kematian ? siapa yang tau dengan sebutan itu tempat para psikopat sepertinya berkumpul ria.


" Baiklah.." ucap Larissa lagi.


" Tidak Larissa! kau jangan gegabah! Bisa saja dia menjebak mu kembali! '' ucap Serena yang tak setuju dengan keputusan Larissa.


" Tapi bagaimana jika dia..


" Kau tenang saja. Aku akan memakai jam tangan itu Serena. Ketika aku merasa terancam maka sinyal darurat akan tiba.. '' ucap Larissa lagi.


" Aku akan menyuruh beberapa orang untuk mengikuti mu '' imbuh Serena dan Larissa mengangguk tanda mengerti. Hingga pandangan Serena bertemu dengan seseorang di bawah sana, tatapan tajam lelaki itu seperti menusuk tepat di jantungnya.


Dia berada di sini?. Batin Serena


DORRR!


AGHHH


PRANGGG


" Serena! " teriak Larissa lantang saat sebuah peluru bersarang di perut Serena. " Serena! " pekik Larissa lagi namun serena hanya diam saja hingga keadaan semakin riuh tak terkendali. " Cepat bawa dia! " pekik Larissa marah hingga pandangannya menyapu ke

__ADS_1


segala arah.


gedung itu segera di tutup paksa oleh para pengawal yang berjaga di tempat itu. Larissa menatap tak percaya saat Serena justru menyobek gaun nya dan mengikat nya kuat diarea perut.


" Kau tak apa? " ucap Larissa dan Serena hanya menggeleng.


" Aku tak akan mati hanya dengan peluru sialan itu! Bawa para pengunjung ke sisi kanan! dan pastikan mereka semuanya masuk! " perintah Serena lantang pada para pengawalnya.


DODODOR!


Serena dan Larissa menghindar saat mereka menyadari terdapat seorang sniper yang berada di lantai tiga bangunan. Serena dan Larissa berlindung seketika.


GREPPP


" Diam lah! Ini aku." ucap seseorang yang membungkam mulut Serena cepat.


" Ex! " lirih Serena lagi dan lelaki itu hanya mengangguk kecil dan ikut mengeluarkan senjata apinya. " Apa yang akan kau lakukan? " ucap Serena lagi.


" Menurut mu? " picing Ex hingga.


DODODOR!


DODODOR!


" Tembak dia! " pekik Larissa lantang saat seorang sniper nekat keluar melalui jendela dengan ketinggian yang cukup. " Go! " pekik Larissa lagi


sniper itu melarikan diri setelah berhasil menembak Serena dan membuat kekacauan yang ada hingga bangunan yang tadinya ramai pengunjung berubah menjadi keriuhan yang ada.


DUAKKK


AGHHH!


" Ex! " teriak serena saat melihat Larissa memukul pinggul kekar Lelaki itu " Larissa hentikan! " pekik Serena lantang.


" Kau mengenalnya? " picing Larissa dan Serena mengangguk membenarkan. " ckck menyebalkan. Luka mu harus segera diobati Serena lihat wajah mu kian memucat! " ucap Larissa lagi dan benar saja wajah Serena memucat walaupun gadis itu menggunakan mikup hingga pewarna bibi berwarna merah. " Kau!! apa yang kau lihat? segera bawa Serena ke mobil! '' pekik Larissa hingga Ex mengepalkan kedua tangannya erat. Dia tak suka diperintah namun saat melihat Serena yang sedang membutuhkan pertolongan akhinya Ex mengalah dan segera mengikuti langkah Larissa yang terlebih dahulu pergi.

__ADS_1


__ADS_2