
Ezio meninggalkan penobatan itu dengan kerusuhan yang ada. Bahkan kata-kata Ezio mampu menusuk hingga relung hati para tetua. Mereka mencemaskan masa kepemimpinan seorang Ezio Pillipo yang dikenal seorang iblis berwajah rupawan.
Ketakutan tercetak jelas diwajah mereka. Para tetua itu hanya bisa bungkam saat ultimatum seorang Ezio sudah terdengar dan tak bisa terbantahkan. Bahkan tetua Lang yang ditembak di kakinya tak bisa mereka bantu, karena tak ingin terlibat dengan pertikaian yang ada. Namun jelas-jelas mereka semua seperti mengibarkan bendera perang yang nyata.
Valera dan Remigio ikut meninggalkan penobatan itu dengan wajah dingin. Jika tidak Karena Harvey dan Ezio mana mungkin Remigio dan Valera mau mendatangi nya, bertemu dengan mereka para ngengat yang nyata.
Ezio memilih kembali kesebuah apartemen mewah yang selama ini menjadi tempat tinggal untuk nya seorang diri. Rasa kesal dan marah masih menumpuk dalam hati dan dirinya. Namun lagi-lagi Ezio dikejutkan karena seorang wanita cantik bermanik hitam sedang menunggu kedatangannya.
" Kau sudah pulang? '' tanya wanita itu lagi. Namun Ezio bergeming dan menatap lekat wajah wanita yang telah melahirkan nya. " Ezio.. " ucap Athena maju dan mengusap lembut pipi putra pertamanya.
" Untuk apa datang? sendiri ? bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mu mom '' ucap Ezio lagi. Athena tersenyum mendengar perkataan Ezio yang seperti mengkhawatirkan nya. Lelaki itu mendekat kesebuah pintu dan menempelkan sidik jarinya dan segera pintu apartemen itu terbuka " masuk lah '' ucap Ezio lagi. Athena mengangguk dengan tersenyum senang.
Langkah pertama Athena melihat ruangan yang begitu terang karena cahaya matahari masuk kedalam sana. Ruangan yang begitu luas dan rapi membuat Athena yakin jika ini adalah ruangan pribadi putranya. Ezio melirik dan berjalan begitu saja untuk mengambil sebotol red wine untuk ia sajikan.
Athena menatap sekelilingnya. Tempat ini jarang sekali ia kunjungi. Bukan tidak ingin, namun Ezio melarangnya. Benar-benar membangun benteng yang begitu tinggi untuk dirinya sebagai seorang ibu.
" Bagaimana hari mu? apa semuanya baik-baik saja ? '' tanya Athena saat melihat Ezio yang duduk di sofa yang menghadap kearahnya.
" semuanya baik-baik saja '' ucap Ezio lagi dan Athena mengangguk pelan. " Aku tau kedatangan mommy memiliki maksud lain bukan ? jadi katakan saja '' ucap Ezio tanpa berbasa-basi. Athena menatap lekat wajah putranya dalam. Wajah itu benar-benar mirip dengan Harvey Hillarey hanya manik nya saja yang dapat membedakan nya. '' Aku tau jika wajah ini sangat mirip dengan ayah ku! '' ucap Ezio lagi.
" Ya kau benar-benar mirip dengan nya '' saut Athena lagi.
" Hingga kau begitu membenciku bukan '' ucap Ezio lagi dan Athena tersenyum kecil mendengarnya.
" Tidak kau salah paham zio! Aku sangat menyayangimu tapi mengapa kau tidak mengerti juga '' ucap athena mulai berwajah serius. Ezio menatap lekat wajah ibunya. " Kau yang selalu menjauh dan bersikap dingin padaku " ucap Athena lagi.
" Lalu apa mu mom ? '' ucap Ezio lagi.
__ADS_1
" Tidak ingin apa-apa mommy hanya ingin hubungan kita membaik itu saja. Aku ibumu dan kau putraku. Seharusnya kita tidak seperti ini Zio '' lirih Athena lagi.
" Sudahlah. Jangan seperti ini. Apa kehadiran mommy hanya untuk berbicara seperti ini? '' ucap Ezio lagi kesal.
" Datanglah untuk makan malam nanti zio. '' seru Athena lagi dan Ezio hanya mengangguk kecil menyetujuinya. " bolehkan aku memeluk mu? '' pinta Athena dan Ezio diam saja menghela nafasnya pelan dan mengangguk.
Manik Hazel itu terpejam seraya menghirup aroma ibunya. Belaian lembut terasa sekali di punggung kekar itu. Ezio sangat menikmatinya entah kapan terakhir kali dirinya seperti ini. Bahkan Ezio lupa hal itu.
" Maafkan mommy zio. Maafkan mommy. " ucap Athena terdengar serak ditelinga Ezio. Lelaki itu bergeming dan memilih diam hingga pelukan itu terlepas dan Athena tersenyum begitu lembut seraya mengelus pipi Ezio pelan. " kau putraku Ezio! ingat itu! '' ucap Athena lagi.
" Ya aku memang putramu '' seloroh Ezio dan athena terkekeh rendah di buatnya.
Arena pelatihan milik king.
Serena tampak fokus dengan panah busur nya. Manik nya memicing untuk mengenai sebuah apel berwarna merah di kepala seorang pengawal yang berada disana. tampak gadis itu berwajah datar dan tetap terfokus pada sasaran nya.
" Sedikit saja maka melesat " ucap Serena tajam hingga pengawal itu diam dengan wajah ketahuan.
prok prok prok
" Bidikan mu tepat sasaran dan selalu tepat terarah sama seperti ibuku! " ucap seorang gadis yang terdengar tak asing ditelinga. Serena berbalik dan menatap kearah sumber suara betapa terkejut nya saat dia melihat siapa yang datang.
" Aria! " gumam Serena saat melihat putri dari pasangan Aisley dan Daniel berada disana. Aris gadis itu tersenyum sangat manis dengan begitu anggun. Serena berlari dan langsung memeluk gadis yang jauh lebih muda dari dirinya. Aria terkekeh dan segera melepaskan pelukan erat Serena " Kau disini ? bersama siapa ? '' tanya Serena lagi.
" Aku datang bersama Evan '' saut Aria lagi dan Serena hanya mengangguk mengedarkan pandangannya ke segala arah. " Evan sedang bersama dengan Lycon '' ucap Aria lagi dan Serena diam saja. Lycon seekor harimau putih jantan bertubuh besar dengan usia yang sudah tak muda lagi. Entah mengapa Serena mendadak merinding saat memikirkan tentang Lycon.
" Akhirnya kau datang juga Aria. Apa ibu dan ayah mu juga datang ? '' tanya Serena lagi dan Aria sontak mengangguk senang.
__ADS_1
" bukan nya ini sudah waktunya kami untuk menjajal kemampuan ? '' tanya Aria dengan memicing dan Serena terkekeh namun merasa kikuk. " Aku ingin menjajal kemampuan ku selama ini yang terpendam '' saut Aria lagi.
" Lalu kau bisa apa selain menembak ? '' tanya Serena lagi.
" Aku bisa memanah, memakai senjata Laras panjang milik Daddy bahkan aku bisa mengendalikan sebuah helikopter '' ucap Aria dengan bangga dan Serena diam namun mengacungkan jempol nya.
" kau hebat '' puji Serena lagi dan Aria mengangguk angkuh.
" Lalu bagaimana dengan mu ? '' tanya Aria lagi Setya berjalan beriringan dengan Serena menuju sebuah pondok mini yang berada disana guna untuk bersantai ria. Serena tersenyum kemudian.
" Memanah tentu saja bisa. Berkuda, berkelahi, bahkan aku bisa memakai beberapa senjata dengan tipe berbeda. Daddy mengajariku banyak hal Aria. Aku sungguh senang akan hal itu '' ucap Serena bercerita sedikit dan Aria terlihat menyimak dengan baik. Tiba-tiba suara seseorang terdengar dibelakang sana.
" Rupanya kalian berada sini '' ucap suara seorang pemuda. Serena dan Aria menoleh seketika.
" Evander!! " pekik Serena saat melihat Lycon berjalan tepat di belakang Evan. Pemuda itu terkekeh dan melirik harimau jantan itu dengan malas. " Apa yang kau lakukan ? " pekik Serena lagi.
" Dia ingin ikut. Aku bisa apa? '' ucap Evan santai dan duduk bersebrangan dengan Serena dan Aria. Kedua gadis berbeda usia itu diam menatap dalam si harimau jantan dengan kedua pengawal yang berlari tergesa.
" Tuan muda " ucap seorang pengawal dengan nafas tersengal. Evan melirik sekilas kepada dua pengawal itu. '' Tuan muda lycon tidak bisa berkeliaran bebas seperti ini. Jika tuan muda Elmer tau maka dia akan marah pada kami '' ucap seorang pengawal mencoba berbicara baik dengan putra dari Maxim dan Isabella itu.
'' Bukan salah ku jika dia ingin ikut. Kau tanya saja kenapa dia melompat begitu tinggi karena mengikuti ku. '' ucap Evan santai dan kedua pengawal itu saling pandang satu sama lain. " Lycon kembali lah ke kandang sekarang juga '' ucap Evan melirik tajam harimau putih itu.
Gerrrrrrr
Harimau putih itu mengaum begitu nyaring hingga mengalihkan tatapan banyak orang disana beserta hewan-hewan buas yang berada di dalam sangkar nya. Lycon terlihat enggan dan seperti memberontak membaut Serena dan Aria panik seketika.
" Evan. Cepat! Aku takut dia mengamuk '' pekik Aria dengan mata melotot.
__ADS_1
" Lycon kembalilah '' tegas Evan lagi hingga harimau putih itu berhenti mengamuk dan menuruti perintah Evan. Serena mengelus lega dadanya karena harimau putih yang terkenal agresif itu menuruti perintah Evander.
Entah mengapa Lycon terlihat lebih menurut saat Evan memberikan sebuah perintah padahal harimau putih itu milik Elmer pemberian dari Remigio kala itu.