
Di tempat Diandra berada.
Chaiden mendapatkan informasi jika Elisya berhasil ditemukan bahkan ia pun mendapat kabar jika Malvin serta Asyur berada di Prancis saat ini, Chaiden hanya diam dan tersenyum tipis mendengarnya, ia akan mempermainkan keduanya.
Chaiden meletakkan kembali ponselnya diatas nakas, ia memilih untuk membersihkan tubuh nya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Diandra setelah ini ia akan pergi bersama Diandra secepat mungkin agar mereka tak dapat menemukan keberadaan Diandra.
Di sebuah ruangan Diandra hanya diam dan menangis matanya memandang kearah luar jendela ia terus memikirkan bagaimana keadaan Elisya yang berada digenggaman Chaiden. Diandra berharap jika putra dan suaminya dapat menemukan lokasi mereka dengan cepat.
CEKLEK
Diandra terkejut karena seseorang masuk kedalam ruangannya, matanya terbelalak saat melihat Chaiden berada di sana dan hanya menggunakan boxer saja dan membiarkan tubuhnya terlihat, Diandra menelan ludahnya kasar.
" Apa kau tak membersihkan diri ? " tanya Chaiden tapi Diandra tak menjawab dan memilih memalingkan wajahnya kearah lain, Chaiden kesal bukan main karena Diandra tak menjawabnya.
GREPPP
" ahh lepaskan aku Chaiden " berontak Diandra tapi Chaiden tak perduli dan kini ia menyeret Diandra menuju kamar mandi.
" menurut lah Diandra kau lebih tau aku seperti apa " tekan Chaiden dan Diandra hanya diam saja dengan air mata yang berderai.
SRAKKKK
Diandra tersentak saat Chaiden merobek pakaiannya hingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya.
" kau gila !! " sentak Diandra.
" bukankah sudah kukatakan jika aku menginginkan kau mengandung anak ku " seringai Chaiden tapi Diandra justru menggeleng tegas dan menutupi bagian dadanya.
" brengsek kau !! Aku membencimu !! " teriak Diandra lagi.
SRAKKKK
lagi-lagi Chaiden merobek habis pakaian Diandra hingga memperlihatkan kain tipis yang membalut aset-aset cantik milik wanita itu, Diandra berontak dan mencoba untuk melawan Chaiden tapi lelaki itu hanya diam dan menerima setiap pukulan yang dilayangkan oleh Diandra.
__ADS_1
dengan satu kali gerakan Chaiden dapat menangkap tangan Diandra yanh hendak melukainya dengan sebuah botol sabun, Diandra menatap tajam Chaiden.
" jangan bertindak lebih !! " ancam Chaiden lalu ia menyalakan shower dan seketika membasahi tubuh Diandra. " kau lebih cantik jika seperti ini sayang " ucap Chaiden yang mulai mendekat dan kini telah mencium kasar bibir Diandra.
Diandra sekali lagi berontak membuat Chaiden geram dan pada akhirnya ia mengigit bibir Diandra hingga berdarah dan detik kemudian benda hangat tak bertulang itu menerobos masuk dan bermain disana.
Chaiden terlihat begitu bergairah dan Diandra lagi-lagi berontak membuat lelaki itu kian bergerak liar dengan tangan yang meraba-raba.
" tidak Chaiden !! hentikan aku mohon " ucap Diandra dengan menangis tersedu, menahan tubuh Chaiden yang semakin mengungkungnya. " aku sudah bersuami '' akhirnya kata-kata itu lolos begitu saja di bibir Diandra, sesaat Chaiden menghentikkan aksi nya ia menatap manik Diandra yang sudah luruh dengan airmata.
" kau masih terus berkata seperti itu Diandra. Aku tak perduli " ucap Chaiden semakin gila dan kini ia melepaskan habis kain yang menempel di tubuh Diandra.
" Kau gila !! " teriak Diandra terus menggerakkan tubuhnya agar Chaiden gak bisa menguasai tubuhnya.
Chaiden tak perduli dengan tangisan Diandra saat ini adalah hasratnya saja, Diandra semakin terkejut saat lelaki dihadapannya ini seakan siap untuk menggempurnya dengan sebuah senjata yang besar.
" AGHHH " erang Diandra saat benda keramat milik Chaiden berhasil masuk kedalam miliknya. Lelaki itu memejamkan matanya sesaat menikmati sebuah jepitan di ujung sana. " brengsek !! " umpat Diandra lagi tapi Chaiden tak menghiraukannya dan terus menggerakkan tubuhnya.
gerakkan itu semakin cepat Diandra diam tak mengeluarkan suara apapun hati dan tubuhnya seakan beku airmatanya seakan kering tak tersisa.
" terimakasih sayang '' lirih Chaiden lagi tapi Diandra tak menggubris dan justru menatap benci pada sosok lelaki itu.
Chaiden bangkit dan berjalan tanpa dosa apapun menuju kearah kamar mandi, tangis Diandra semakin lirih ia menenggelamkan wajahnya ke bantal berharap apa yang terjadi barusan adalah sebuah mimpi buruk saja.
******
Asyur kini berhadapan dengan Malvin sorot mata keduanya sama-sama menyorot tajam dan mengeluarkan aura permusuhan yang kentara.
Malvin geram karena menurut analisis nya Asyur sangat lambat untuk bergerak hingga pergerakan musuh tak dapat ia baca dengan cepat. Apa karena faktor usia yang menurunkan kemampuan seorang Asyur.
" Ada apa dengan tatapan mu itu ? '' dingin Asyur menatap Malvin tanpa berkedip.
" Apa kau sudah mengetahui dimana keberadaan mommy ? '' Picing Malvin dan Asyur diam saja. " see kau hanya diam berdiri di sini tuan Asyur. '' ucap Malvin terkekeh.
__ADS_1
" Jadi kau berfikir aku membiarkan istriku begitu saja ! '' tekan Asyur sedikit kesal.
" istrimu itu adalah ibuku tuan Asyur apa kau lupa ? Apakah aku harus mengatakan secara tak sopan padamu '' tekan Malvin lagi tapi Asyur hanya tersenyum tipis dan memilih pergi tanpa menghiraukan ucapan anak tirinya itu.
Malvin benar-benar geram kali ini ia gagal mencari lokasi ibunya apakah Asyur juga gagal ? ternyata musuh terlalu licik dan licin serta pandai bermain hingga Malvin harus bekerja keras untuk menemukan ibunya itu.
Asyur pergi ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu di dampingi oleh beberapa anak buahnya, hingga mobil mewah itu tiba disebuah hunian yang cukup mewah.
Salah satu anak buahnya turun dan berbicara sedikit dengan penjaga hunian itu, mereka disuruh untuk menunggu nya sebentar dan Asyur tak mempermasalahkan hal itu.
Tak lama keluarlah seorang wanita anggun dengan rambut yang diikat tinggi ia menatap heran pada Asyur dan anak buahnya.
" kau.. " ucap wanita itu yang tak lain adalah Greta salah satu orang penting dalam jajaran king '' ada apa ? '' ucap Greta lagi.
" tak sopan membiarkan tamu terlalu lama di luar '' saut Asyur dengan datar dan Greta mendengus lalu mempersilahkan mereka untuk masuk.
kini mereka duduk dengan saling berhadap-hadapan, dimana Greta bingung sekaligus heran dengan kedatangan Asyur yang tiba-tiba.
Asyur berdehem untuk menghilangkan kecanggungan ini, jujur ia pun merasa sungkan untuk meminta bantuan dari wanita dihadapannya itu, bagaimana pun juga ia harus meminta ijin pada penguasa negara yang sedang ia pijaki saat ini.
" Aku ingin meminta bantuan padamu, Greta. '' ucap Asyur dan Greta mengeryitkan dahinya pelan '' istriku di culik seseorang, Aku ingin kau melihat penerbangan asing yang berhenti disini . '' ucap Asyur to the point
" Diandra di culik ? '' Picing Greta dan Asyur mengangguk saja. " ahh baiklah, aku akan membantumu sebisa ku tuan Asyur '' ucap Greta lagi dan Asyur mengangguk lalu berterimakasih kepada Greta.
Greta menuju sebuah ruangan yang dikelilingi oleh kaca transparan dimana ruangan tersebut tempat nya beroperasi selama ini berbagai macam komputer canggih dengan banyaknya layar monitor persis seperti hunian para peneliti, Asyur tak kalah terkejut karena layar-layar monitor itu menampilkan aktivitas hampir di seluruh kota Prancis.
Greta memasang wajah datar saat Asyur menatap tanpa berkedip kepada alat-alat nya Greta tak peduli dan ia mulai bekerja dimana tampilan visual dalam layar monitor menuju sebuah vigur rahasia.
jari-jari tangan wanita itu sangat lincah Asyur menganguminya pantas saja king selalu menemukan lokasi musuh dengan cepat walaupun mereka bersembunyi dilubang semut sekalipun.
Sekitar dua puluh menit berlangsung Greta menyipitkan matanya sesaat saat ada tiga buah penebangan asing yang mendarat beberapa hari yang lalu di Perancis, Greta dengan cepat menandai tapi hasilnya itu adalah sebuah pesawat pribadi milik seseorang.
" Kau mencurigai nya ? '' picing Asyur.
__ADS_1
" Yes " ucap Greta tegas. Greta terus mencari identitas tersebut dan akhirnya berhasil sebuah nama asing tertera disana. " milik seseorang ? siapa ? kenapa aku tak menyadarinya. Oh God apa kemampuanku kini berkurang ? bertambahnya usia semakin menurunkan kemampuan ku '' gumam Greta dan Asyur terlihat menatap aneh pada salah satu jajaran king itu. '' sebaik nya kau cari sendiri aku sudah membantumu sampai sini aku yakin kau mampu tuan Dutton '' sindir Greta dan Asyur menatap tajam tapi detik kemudian ia mengangguk pelan.
" terimakasih " ucap Asyur lalu ia pamit dan berlalu pergi dari kediaman Greta.