
JLEBBB
SHOTTT
DODODODOR !!
Roz menembak beberapa orang penjaga jalanan yang hendak dilewati oleh mereka dengan senjata kedap suara milik Syina. Melani dan Elena dengan cepat melakukan hal yang sama. Leam yang berada di depan terhenti sejenak membuat yang lainnya pun melakukan hal yang sama.
" what wrong ? " tanya Elena heran. Namun Leam hanya memandang kearah tubuh yang sudah tergeletak di bawah. Leam turun dan dengan cepat mengambil senjata milik orang itu membuat Elena hanya menatap dengan mulut yang terbuka.
" Hehehe senjata ini lumayan. Sayang jika tak digunakan. Untuk berjaga-jaga jika senjata ku kehabisan peluru " ucap Leam dengan nada bicara yang terlihat lucu. Melani tak menghiraukan ucapan Leam namun maniknya menatap kearah sekitar dimana telinganya mendengar pergerakan yang ada. Melani mengumpat dalam hati seharunya ia tak mengikuti Leam yang berhenti.
" Go !! " pekik Melani dengan panik saat mendengar suara aneh itu semakin bergerak dengan mendekat. Sontak semua panik dan mulai bergerak maju untuk menjauhi area itu.
namun tiba-tiba sebuah babi berukuran besar datang menghadang motor milik Syina. Babi itu menatap kearah Syina dengan tatapan mengerikan. Sontak Roz memekik kaget begitupun dengan Leam.
SHOTTT
JLEBBB
Roz membidik kearah babi itu yang mulai bergerak dengan terburu-buru namun seperti mempunyai kekebalan tubuh babi itu terus bergerak walaupun Roz sudah memberikan rentetan perlunya.
" Bergerak !! " pekik Syina dengan mamacu kecepatan motor trail nya kearah lain, sontak Leam yang melihat itu langsung menembak babi dari arah kiri menggunakan senjata kedap suara agar tak memicu pihak lain.
DODODOR !!
suara erangan babi itu kali ini memekik hebat, tubuh babi itu mengucur darah deras disela-sela luka tembaknya. Namun lagi-lagi babi itu masih bisa bertahan dan kali ini menuju kearah Leam.
" Leam !! " Pekik Roz lantang saat melihat Leam yang hendak melarikan diri namun motor trail nya langsung diterjang begitu saja oleh babi itu.
DUAKKK
Eghhhh!!
Leam mengerang karena motornya terpental lumayan jauh dan langsung menghantam batang pohon yang besar, babi itu terus bergerak kearah Leam membuat Syina dan Roz panik.
DORR !!
__ADS_1
BRUKKK
babi itu tumbang karena tiba-tiba Elena dan Melani datang dan langsung menembak babi itu tepat di kepalanya sebanyak dua kali. Leam terkejut dan langsung mengelus dadanya pelan.
" Leam. Ayo aku khawatir akan ada babi lainnya yang berdatangan. " pekik Elena dan Leam mengerucut dengan memegangi pinggang nya yang terasa sangat sakit dan ngilu.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju kesuatu titik yang telah Leam petakan sebelumnya. Kali ini mereka melewati jalanan yang kedua sisi nya memiliki tebing curam dengan jalanan berlicin.
Sontak Roz berdebar tak karuan dirinya tak yakin jika Syina dapat mengendalikan motornya dengan baik. Elena yang telah bersiap dengan senjata di kedua tangannya hanya memasang wajah santai.
" turun!! " tiba-tiba Roz mengejutkan Syina.
" Ada apa ? " tanya Syina bingung.
" Biar aku yang mengendalikannya " ucap Roz lagi namun Syina hanya tersenyum meremehkan. Jangan pikir jika dia seorang wanita tidak bisa melakukan hal demikian, rupanya lelaki dewasa dibelakangnya ini sedang meragukan kemampuan nya.
NGENGGG
Roz sontak berpegangan erat pada bahu Syina karena ia sangat terkejut dengan pergerakan Syina yang tiba-tiba, jantungnya berdebar tak karuan saat melihat Melani yang sudah berada di hadapannya. Leam lelaki gemulai itu tampak berada di belakang nya dengan seringai tipis di bibirnya.
Rupanya rute yang ditunjukkan oleh Leam memiliki jalanan yang dipenuhi oleh jebakan. Hal itu sudah diprediksi oleh mereka sebelumnya. Sebuah air terjun yang berada dihadapan mereka cukup memanjakan mata Syina tampak menikmati sapuan angin pagi diwajahnya dan hal itu tak luput dari pengamatan Roz.
helikopter itu rupa nya melintas di atas mereka untung saja mereka tertutupi rerimbunan pohon yang tumbuh disekitarnya. Elena dengan cepat membuka ransel yang berada dipunggung nya dan tiba-tiba terbang sebuah benda kecil yang mirip sebuah drone dilengkapi kamera kecil dengan berbagai sudut.
" shitt !! Syina tandai !! '' pekik Elena dan Syina mengangguk lalu membuka tablet nya dan seketika pergerakan diatas langit dengan helikopter yang berada diatasnya dapat dilihat oleh Syina melalui tablet miliknya. " U17 " gumam Syina saat melihat sebuah tanda di ekor helikopter.
" ohh itu milik salah satu seorang pengusaha. Ya aku pernah mendengar nomor itu namun apa yang dilakukan oleh mereka disini ? '' bingung Melani membuat Syina dan Elena mengerutkan dahinya satu sama lain.
Namun benda yang dilayangkan oleh Elena tak bisa mengejar helikopter itu karena jarak mereka yang cukup jauh. Akhirnya Elena menarik mundur benda pantauan miliknya.
" Didepan sana ada sebuah hunian tapi tidak terlalu besar. " ucap Leam tiba-tiba.
" Kenapa kau tak bilang !! " pekik Elena kesal hingga Leam mengerucutkan bibirnya kedepan." tunjukkan jalan nya Leam jangan sampai aku mendorong mu kebawah sana '' kesal Elena hingga mata Leam spontan melihat kearah bawah, tiba-tiba bulu kuduk nya merinding saat melihat derasnya air terjun itu dan mungkin jika dirinya terjatuh maka nyawanya akan berakhir saat itu juga.
" Ya. Siagakan senjata kalian. '' ucap Leam dan sontak semua mengangguk saja. Leam memandu jalan didepan. Elena tersenyum tipis melihat Leam didepan sana. Melani hanya geleng-geleng kepala saat melihat Leam yang yang tampak patuh pada Elena tanpa melawan atau pun membalas perkataan Elena.
Sekitar lima belas menit mereka melajukan motornya semakin dalam sana. Leam turun dan berjalan kesuatu tempat bebatuan disana. Melani dan Roz tampak memperhatikan apa yang Leam lakukan.
__ADS_1
CEKLEK.
Sebuah batu tiba-tiba bergeser dan memperlihatkan sebuah lorong yang gelap. Leam tampak santai menyalakan senter portabel yang berada didalam ransel miliknya, namun sebelum memasuki lorong. Leam menyembunyikan ketiga motor trail ditempat yang menurutnya aman. .
'' Go. Waktu semakin cepat berlalu. '' ucap Leam lagi. Gelap, lembab dan dingin itulah yang dirasakan oleh keempat orang yang melewati sebuah lorong buatan dari balik batu yang sangat besar. Leam berjalan didepan dengan memegang senter portabel untuk menerangi jalan menuju rumah yang dimaksud olehnya.
" Apakah masih jauh ? '' kini Melani yang ikut bertanya. Sadari tadi dirinya memilih untuk diam namun kali ini dirinya ingin bertanya.
" Tidak. Belok sini ! " ucap Leam dengan berbelok ke sebelah kiri, sebuah anak tangga yang menaik berada dihadapan mereka. " kita akan naik tangga ini '' ucap Leam lagi seakan mengerti dengan tatapan semua orang yang berada disana.
anak tangga itu memang terbuat dari kikisan tanah, namun terlihat kokoh dan padat bahkan terdapat beberapa pecahan batu alam disekitarnya. Elena dan Syina yakin jika tempat ini dibuat secara khusus oleh seseorang. Leam ? bagaimana dia mengetahuinya.
KRAKKKK
batu dinding lagi-lagi bergeser membuat Melani terkagum-kagum dilihatnya. Matahari mulai menampakan dirinya. Waktu hampir setengah enam pagi. Hawa dingin semakin terasa.
AGHHH
teriakan Roz tiba-tiba mengejutkan semua orang. Dia berteriak dengan manik terpejam seperti sedang menahan rasa sakit.
" Ahhhh ada yang menggigitku '' pekik Roz sontak Melani melihat sebuah ular yang berada didekat kaki Roz lalu ia melirik kearah lainnya.
JLEBBB
Roz mengerang tertahan saat Syina menyuntikkan sesuatu pada pahanya. Wajah datar Syina sungguh membuat Roz bungkam saja.
" ini bukan ular berbisa " ucap Leam santai dengan memegang ular ditangannya. " tempat ini pasti ditinggali oleh mereka. Lihat hutan didepan kita itu sangat lebat. " ketus Leam.
Namun tiba-tiba,
" GO !! " pekik Leam saat melihat sebuah helikopter hendak turun. sontak mereka kembali masuk kedalam dinding berlumut. Nafas Leam terlihat ngos-ngosan karena dadanya berdebar tak karuan begitupun dengan yang lainnya. Mengapa Helikopter itu turun disekitar sini ? Syina dan Elena tampak penasaran dengan siapa didepan sana.
" Apakah pintu ini tak bisa dibuka sedikit saja. Aku ingin melihat siapa orang itu ? '' tanya Syina pelan menatap Leam yang terduduk dengan wajah panik.
" ohh kalian ingin mengintai. '' ucap Leam dan Syina mengangguk dengan tegas. Leam bangkit dan menggosok sesuatu dengan bajunya. Tiba-tiba sebuah kaca yang terkuat seperti jendela terlihat disana, namun karena lumut yang mengotorinya membuat kaca jendela itu terkuat samar. " masih bisa. Hanya mata mu harus jeli jika ingin mengintainya. " ucap Leam dan Syina tak perduli lalu mulai mengintai dengan teliti.
Seorang lelaki tua dengan tongkat ditangannya diapit oleh dua lelaki dewasa di kiri dan kanan nya. Jantung Syina berdebat tak karuan saat ia mengingat jelas wajah itu.
__ADS_1
" Jack !! Frazzes willyam !! '' lirih Syina