
Kedatangan beberapa anggota black road yang tak diketahui membuat lega Alland dan Brandon pasalnya keributan yang ada dapat terselesaikan walaupun banyak nya para mayat yang bergelimpangan begitu saja dari pihak king maupun pihak musuh.
para pihak berwajib kini berhadapan dengan Remigio atas insiden yang membuat kacau dunia jika pertempuran antar senjata terus saja berlangsung.
'' Aku ucapkan rasa terimakasih ku untuk kalian karena sudah membantu. Hanya saja sisanya biar kami yang selesaikan. Tak ada satu mayat pun dari mereka yang boleh kalian ambil tanpa persetujuan dariku! '' tegas Remigio tenang berhadapan dengan sekumpulan orang berseragam serupa.
" Aku hargai keputusan mu tuan Remigio. Tapi insiden ini sampai terdengar hingga luar. Yang aku takutkan adalah ketika para musuh kalian berbuat ulah dengan meneror warga sipil sekitar '' ucap seorang lelaki berambut putih karena telah beruban.
" Cukup saja amankan kawasan. Aku akan mengirimkan para anak buah ku untuk berjaga-jaga '' tegas Remigio dan lelaki itu terlihat mengangguk walaupun sedikit ragu. Membantah pun tak sanggup akhinya mereka pergi begitu saja tanpa tugas yang mereka jalani.
Disisi lain keadaan semakin memburuk bahkan Pram dinyatakan tewas karena penyerangan di mansion utama keluarga Harson, bahkan nyonya sofhia sedang ditangani oleh para dokter karena keadaan yang semakin kritis.
saat itu Aisley dan Isabella segera menghubungi orang-orang atas apa yang telah terjadi. Semua orang yang mendengar kabar buruk itu tentu saja terkejut hingga Vyan dan Zizi memutuskan untuk pergi menuju rumah sakit.
Kabar penyerangan yang terjadi pada keluarga Harson itu seakan menyebar luas layaknya sebuah wabah, berita hangat itu tentu saja sampai ke telinga keluarga Remigio yang berada di Amerika.
" siapa mereka!! " geram Vyan dengan mengepalkan kedua tangannya erat, maniknya memerah seketika. Zizi terduduk di kursi panjang khas rumah sakit seolah sedang mencerna sesuatu namun maniknya melirik Aisley dan Isabella seketika.
" sungguh aku tak tau siapa mereka aunty " Cicit Isabella seakan gugup saat Zizi menatapnya dengan tajam. " Saat kami datang keadaan sudah kacau " lanjut nya lagi sedikit serak.
" Apa ada petunjuk ? " tanya Zizi lekat. Isabella menggeleng namun berbeda dengan Aisley yang diam sedang memikirkan sesuatu. Zizi menyadari sesuatu saat putri sulung Dave itu diam dengan pandangan lurus.
" Aisley ? " tanya Zizi.
__ADS_1
" tanda itu. Salah satu dari mereka memiliki tanda yang sama persis dengan kematian aunty Greta " ucap Aisley yang mengejutkan Zizi, vyan dan Isabella seketika. " Aku melihatnya aunty. orang itu sudah terluka saat aku tiba di lantai atas. Aku yakin paman Pram mengetahui sesuatu. '' ucap Aisley yakin dengan menatap lekat Zizi.
" baiklah kita akan mencari jawaban dari hal ini. Lalu.. '' ucapan Zizi terhenti kala seorang dokter keluar dengan wajah pucat. Vyan menatap tajam kearah pria berseragam putih itu. Namun ucapan lelaki itu seketika membuat semua orang terdiam. Vyan limbung dengan pandangan tak menentu.
" aghhhh !! " erang Vyan dan langsung meninju dinding rumah sakit dengan keras hingga dokter itu terlihat ketakutan
" Maafkan kami. Nyonya sofhia tak bisa diselamatkan '' ucap nya lagi hingga tangis Zizi terdengar begitupun dengan Isabella dan Aisley
Zizi dengan sigap mendatangi suaminya yang terduduk di lantai dingin rumah sakit seraya memeluk Vyan erat hingga lelaki bertubuh kekar itu balas memeluk nya erat. Isabella dan Aisley terlihat menangis dengan menundukkan pandangan karena mereka tak menyangka jika nyonya sofhia pun ikut tewas setelah mendapatkan dua buah peluru yang bersarang di dada dan perutnya.
Vyan mengamuk dan memukul dinding rumah sakit secara terus menerus. Zizi sudah mencoba untuk menenangkan nya namun lelaki itu seakan tak bisa menerima kenyataan yang harus ia hadapi.
'' Akan ku bunuh orang itu!! '' teriak nya lantang dengan mata melotot.
Aisley dan Isabella bergidik ngeri saat ibu dari Gabriel itu bernafas dengan begitu menderu layaknya seseorang yang sudah berlari berkilo-kilo meter.
Sore harinya kabar tewas nya nyonya sofhia begitu membuat gempar semua orang. Bahkan Remigio yang hendak mencari keberadaan valera yang entah kemana mendadak mengurungkan niatnya karena mendapatkan kabar mengejutkan ini.
kabar buruk juga diterima oleh Athena dan George yang belum kembali dari berbulan madu mereka. Pasangan pengantin itu memutuskan untuk segera kembali dengan cepat terlebih Athena yang menangis keras setelah mendapatkan kabar mengejutkan ini.
Keesokan harinya di rumah duka.
beberapa mobil terlihat memasuki perkarangan sebuah rumah duka terkenal di Paris, pakaian serba hitam senada mereka kenakan hari ini. Tuan Ramius yang duduk di kursi roda dengan Kenneth yang mendorongnya tampak terlihat bersedih dengan pandangan menunduk.
__ADS_1
Tampak iring-iringan para mafia king memenuhi dan memadati rumah duka tempat persinggahan terakhir sebelum kedua jenazah akan di bawa pergi menuju pemakaman yang telah disiapkan.
Keluarga Asyur pun terlihat hadir dengan Diandra dan juga Elisya, bahkan kedua orang tua Remigio pun turut hadir. Wajah-wajah mereka terlihat sendu dengan air mata yang tertahan, terlebih para cucu yang kehilangan sosok seorang nenek yang sangat penyayang.
Disisi lain Remigio tampak cemas karena valera masih belum juga kembali, perasaan Remigio benar-benar dibuat tak karuan saat ini hingga suara deru mobil yang terdengar kasar mengalihkan perhatiannya.
" Sweatheart " lirih Remigio saat melihat dan istri datang dengan wajah datar dan mata sembab nya. Semua orang terlihat menatap kearah Valera yang baru saja tiba dengan penampilan yang cukup berantakan.
BRUKKK
Valera ambruk tepat di depan peti sang ibu, pandangannya menunduk hingga Remigio berjalan mendekat dan terlihat menguatkan sang istri. Tangis Valera semakin kencang kala Remigio membawa kedalam pelukannya.
" jangan seperti ini sweatheart. '' ucap Remigio berbisik dengan menangkup lembut wajah sang istri seraya mengusap lembut air matanya. Valera terisak dan terus memandangi peti ibunya yang terlihat sudah siap untuk dibawa.
" Aku akan membunuh nya!! Aku bersumpah '' dingin Valera dengan tatapan tajam nya seolah dirinya tak menerima atas kematian ibunya terlebih Pram pun ikut tewas dalam insiden ini. perlahan Valera melepaskan pelukannya dari sang suami lalu mengusap air matanya dengan kasar lalu melirik sekilas kearah ayah dan kakak nya yang sama-sama sedang menatap kearah dua peti dihadapannya.
Tangannya terkepal sempurna, lalu perlahan dirinya pun ikut melangkah kearah depan lalu membuka peti milik ibunya untuk melihat wajah damai itu untuk terakhir kali nya. Manik Hazel itu memerah seperti sedang menahan air matanya untuk keluar namun sayang pertahanan nya runtuh begitu saja, Valera menunduk lalu menatap kearah kedua lelaki dihadapannya.
" Ayo kita pergi '' ucap Valera dengan nada pelan. Kedua lelaki itu mengangguk mantap lalu memberikan aba-aba kepada yang lainnya untuk mengangkat kedua peti itu menuju mobil yang sudah di siapkan.
Valera mendatangi ayahnya yang tampak pucat karena belum selesai dalam masa perawatan. Tuan Ramius kekeh ingin ikut mengantar kepergian sang istri untuk terakhir kalinya walaupun kondisi tubuhnya saat ini melemah.
" Kau tidak perlu khawatir Pah. Aku akan mencari orang itu. Aku bersumpah dengan nyawaku " desis Valera dan tuan Ramius menatap wajah putrinya lalu detik kemudian dirinya mengangguk mantap.
__ADS_1
Iring-iringan mobil dengan jenis serupa terlihat meniggalkan rumah duka untuk menuju pemakan keluarga Harson dimana Macky dikebumikan kala itu, Ruangan Anggita black road telah mengamankan perjalan mereka hingga ke tempat tujuan dimana mereka akan melakukan penghormatan terakhir untuk dua orang yang telah tiada salah satunya adalah ibunda sang Lady.