
" APA " teriak seorang lelaki saat mendapat kabar dari anak buahnya jika ia telah gagal untuk membawa target, dan lebih mengerikannya lagi terjadi sebuah kecelakaan yang melibatkan tiga orang anak muda lainnya. " Tak becus " marah lelaki itu lagi hingga ia melempar gelas yang berisi wine ke dinding dan pecah begitu saja.
" maafkan atas kelalaian kami tuan " ucap suara diseberang sana.
" bereskan semuanya, aku tak ingin ada masalah dikemudian hari " ucap lelaki itu dan langsung mematikan sambungan itu dengan sepihak.
Lelaki itu menghela nafasnya pelan, sungguh sulit untuk menaklukkan seorang lelaki muda, hingga harus melibatkan orang lain untuk menjadi umpan nya. Chaiden,ya lelaki itu Chaiden.
Chaiden kini tinggal disebuah mansion tersembunyi milik mendiang ayahnya, Chaiden menatap photo keluarganya, maniknya memerah karena menahan cairan yang akan tumpah ruah ke pipinya.
bohong jika ia tak merindukan keluarganya, ayahnya dan juga adiknya, mereka sama-sama telah tiada bahkan Chaiton pun entah berada di mana kini.
setelah beberapa tahun Chaiden dan Chaiton di ditawan akhirnya Valera membebaskan mereka berdua dengan syarat, awalnya Chaiden akan disuntik mati oleh Ornaf tapi pada saat itu Diandra datang dan memohon pada Valera untuk tak membunuhnya.
Chaiden dan Valera memiliki kesepakatan bersama dimana Chaiden tidak boleh menganggu dan mengusik orang-orang nya, bahkan tidak ada balas dendam yang terjadi diantara mereka, kematian ayah dan adiknya itu murni kesalahan mereka sendiri, Chaiden mengangguk paham akan kesepakatan itu.
ponsel milik Chaiden menerima sebuah pesan bergambar dan alangkah terkejutnya saat Chaiden menerima jika korban lainnya adalah putra-putri sang lady, Chaiden membelalakkan matanya seketika, baru saja ia bebas dari jeratan king kini masalah baru datang dengan melibatkan anak-anak nya.
" AGHHH !! kenapa menjadi seperti ini " pekik Chaiden marah.
Rumah sakit internasional, Paris.
rumah sakit itu kini ramai kedatangan beberapa orang penting negara. Valera dan Remigio tampak gusar memikirkan keadaan dua anaknya didalam sana, hal yang serupa dirasakan oleh Zizi dan vyan mereka mendapatkan kabar ini dari Valera secara langsung. Untung saja kedua pihak berwajib yang mengikuti Valera kini sudah tak berada di sana karena Remigio telah menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
Malvin dan George baru saja tiba kedua lelaki muda itu tampak kusut dan acak-acakan, Malvin menghawatirkan adiknya begitupun dengan George.
untung saja mereka ditangani didalam ruangan yang sama dengan beberapa dokter spesialis yang berada di dalamnya, Tak lama para dokter keluar dan langsung diberondong pertanyaan oleh pihak keluarga.
" keadaan tuan muda Kenneth dan juga tuan muda Gabriel cukup serius karena mereka terbentur dengan sangat keras, sedangkan untuk kedua nona muda mereka terbilang baik-baik saja, walaupun kami sempat mendapatkan kabar jika mereka berdua terjepit dan untung saja tak berakibat fatal terutama untuk nona Athena. " jelas dokter itu dan semua orang diam mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut sang dokter.
" Tapi semuanya baik-baik saja bukan ? " ucap Zizi memastikan.
" Anda tenang saja nyonya. Mereka semua dalam pengawasan kami. " ucap sang dokter dan akhirnya Zizi mengangguk mengerti.
valera terduduk di kursi dan Remigio mencoba untuk menenangkannya, begitupun dengan George yang duduk disamping Valera, Zizi menatap sendu pintu ruang dimana putra nya berada.
" George, Malvin tolong kau ambil rekaman cctv ditempat kejadian mereka kecelakaan, pasti ada yang tak beres. " ucap Remigio dan kedua lelaki muda itu mengangguk mantap. Baik George dan Malvin sama-sama enggan meninggalkan orang yang mereka kasihi, tapi ini adalah perintah mutlak dari seseorang yang harus dijalankan, terlebih sorot mata itu menajam seperti sedang menahan amarahnya.
kabar ini sampai ke telinga nyonya sofhia dan tuan Ramius, mereka syok dan terkejut bukan main, dengan langkah tergesa-gesa mereka segera menuju rumah sakit dengan ditemani oleh para pengawal.
Turki, waktu setempat.
seorang lelaki yang berusia tak lagi muda sedang duduk tenang di kursi kebesarannya, sosoknya masih saja berkharisma dengan tubuh yang tegap sempurna bahkan wajah itu tak pernah berubah sedikitpun.
ponselnya berdering menandakan ada yang menghubunginya. Nama Malvin tertera di ponsel layar miliknya dengan cepat ia mengangkatnya sebelum panggilan itu mati.
" Hallo dad, maaf menganggu waktu mu. Aku hanya ingin memberi tahu jika Elisya kecelakaan dan sekarang ia berada di rumah sakit internasional Paris. Aku mohon jangan bertanya lebih yang terpenting sekarang Daddy dan mommy harus segera menuju ke Paris. Korbannya bukan nya hanya Elisya akan tetapi Athena, Kenneth dan juga Gabriel. " ucap Malvin lagi.
__ADS_1
" Kecelakaan ? Ya tuhan. Daddy akan segera menuju Paris hari ini juga " ucap lelaki itu dan Malvin mengiyakan ucapan ayah sambungnya itu,
Lelaki itu adalah Asyur Dutton. Ya Diandra telah menikah dengan lelaki berpengaruh beberapa tahun yang lalu keduanya dipertemukan oleh takdir tuhan, Asyur segera mengemudikan mobilnya menuju mansion untuk memberi kabar ini kepada sang istri.
sesaat Asyur berfikir sejenak bagaimana mungkin putrinya terlibat sebuah kecelakaan bersamaan dengan anak-anak Valera dan juga putra dari Vyan Harson, Asyur yakin telah terjadi sesuatu kepada mereka semua.
hingga Asyur tak sadar sudah sampai di mansion miliknya yang begitu megah, para pengawal yang berjaga langsung menunduk penuh hormat pada sang tuan, Diandra yang kebetulan sedang membaca sebuah majalah terkini begitu bingung melihat suaminya sudah pulang.
" Kau sudah pulang ? " ucap Diandra heran, dan Asyur mengangguk cepat.
" sayang, sekarang kita harus segera berangkat menuju Paris. Elisya, putri kita mengalami kecelakaan " ucap Asyur dengan nada tenang dan membuat Diandra syok bukan main, benarkah putrinya kecelakaan ? " Ayo sayang, " ucap Asyur lagi dan Diandra dengan cepat berlari ke kamar pribadinya untuk membawa tas dan lainnya.
Asyur menghubungi seseorang untuk menyiapkan pesawat pribadinya karena ia akan bertolak menuju Paris hari ini juga, Asyur terlihat gusar memikirkan putri satu-satunya itu, ditambah iapun memikirkan Athena putri dari Valera.
siang itu iring-iringan mobil mewah membelah ibukota jalanan, Diandra sedari tadi hanya bisa menahan tangisnya agar tak luruh, Malvin putranya mengapa ia tak memberi kabar penting ini pada dirinya dan lebih memilih memberi kabar ini kepada Asyur.
Asyur mengenggam tangan Diandra dengan lembut, wanita yang bertahun-tahun menjadi istri dan ibu dari darah dagingnya sendiri, Asyur mengelus lembut punggung Diandra seolah mengatakan jika semuanya baik-baik saja.
" Aku takut.. " ucap Diandra lirih.
" tidak akan terjadi apa-apa terhadap putri kita sayang. " ucap Asyur dan Diandra hanya menggeleng pelan, saat ini rasanya ia ingin sekali bertemu dengan anak-anak nya dan memastikan semuanya baik-baik saja, tapi itu tak mungkin mengingat jarak yang akan mereka tempuh memerlukan waktu beberapa jam kedepan.
Asyur mendekap tubuh Diandra dan menyandarkan kepala Diandra di dada nya, kemejanya basah karena air mata sang istri, Asyur hanya diam saja dan menenangkan Diandra dengan kata-kata lembutnya.
__ADS_1