
Tampak sekumpulan para lelaki yang sudah berumur duduk melingkar bak sebuah lingkaran. Wajah-wajah mereka terlihat serius tanpa senyum di wajah sedikitpun. Terlihat hembusan api mengepul secara perlahan disertai helaan nafas berat dari para pemilik nya.
" Jadi bisakah kau jelaskan lebih detail apa maksud ucapan mu waktu itu ? '' seru lelaki yang lebih muda dari mereka. Manik nya menyipit seolah meminta penjelasan yang lebih.
" Apalagi yang ingin kau ketahui! Perkataan ku waktu itu sudah sangat jelas bukan? jika Ezio memang keturunan para mafia! '' kesal lelaki berpakaian semi formal.
" Kau itu sungguh aneh! Mengatakan mereka para mafia lalu kita ini apa? '' seru lelaki yang lebih muda disana yang tak lain adalah Lozak. " Jadi kau pikir jika kita ini sekumpulan orang baik? '' tanya Lozak berwajah bingung.
" Kita dan mereka berbeda Lozak! Ingat itu '' ucap lelaki itu yang sering di sebut tetua Lang. Matanya memerah seperti menahan amarah yang terpendam dalam dirinya.
" Lalu kenapa aku baru tau jika Ezio cicit dari pendiri king '' kesal Lozak lagi seperti tak terima dengan semua kenyataan yang ada. Ezio selalu lebih unggul dan hal itu membuat Lozak semakin marah dan merasa tersudutkan.
" Memangnya kenapa jika dia cicit dari pendiri king ? Jangan bilang kau takut menghadapi dia Lozak. Ingat Ezio memang putra dari Harvey namun statusnya seperti anak haram! Lahir dari seorang wanita yang telah bersuami! '' ucap tetua Lang dengan penuh penekanan. Tentu saja Lozak semakin tercengang tak percaya jadi sepupu tirinya itu terlahir dari seorang wanita yang telah bersuami. Lozak tersenyum miring di dalam hatinya itu dirinya sangat tertarik dengan cerita masa lalu.
" Namun kau ingat satu hal Tetua Lang! Ezio bukan lelaki yang mudah kita taklukan atau dikendalikan. Diri nya sosok yang lebih menyeramkan dari ayahnya Harvey. Apa kau tak melihat saat dia menembak Tetua Yakuz! Bahkan dia menembaknya di tempat suci. Tetua Lang jika kita salah langkah maka kau tau akibat nya bukan? aku tak mau berakhir di tangan anak itu. '' ucap seorang lelaki tua yang disebut tetua Burhan.
" Kita akan tetap melengserkan dia dari kursi nya. Aku tak sudi di pimpin dan di kendalikan oleh bocah tengik itu! '' ucap tetua Lang dengan lantang. Lozak menyipitkan manik nya saat melihat para tetua itu seperti memiliki dendam pribadi pada sosok Ezio. Terbukti mereka menolak tegas keputusan tuan Harvey saat itu.
Sedangkan disisi lain Ezio terlihat duduk dengan santai seraya menyesap segelas red wine dengan menonton tampilan yang menurutnya sangat seru. Manik Hazel Ezio yang terukir indah namun memiliki sejuta racun dan ketajaman yang ada menatap sebuah Vidio dengan senyum menyeringai.
" Jadi apa langkah selanjutnya tuan Ezio ? " tanya seorang wanita yang merupakan tangan kaki nya selain Edo.
" Tentu saja membasmi mereka hingga ke akar nya Angela. Hahaha Lozak.. sejak kapan mereka menginginkan Lozak menduduki kursi milikku. '' ucapnya mengejek penuh para tetua itu. " Ayah terlalu lembek menghadapi mereka jadi ya beginilah akhirnya para parasit itu tumbuh subur dengan tidak tau malu. " ucap Ezio dengan tenang.
" Lalu apa tuan akan menghadiri acara yang dilakukan oleh tuan Harvey '' ucap Angela lagi penasaran.
__ADS_1
" Tentu saja itu adalah penobatan tahta ku dengan resmi! Dan tentu saja aku akan hadir dan mulai mendepak mereka dengan caraku Angela. Kau dan Edo harus menyiapkan segalanya dengan rapi '' tegas Ezio menatap tajam sosok Angela wanita yang selalu menemaninya itu.
" Percayakan saja pada ku dan Edo tuan. '' ucap Angela dengan percaya diri. Manik Ezio melirik sekilas lalu tersenyum tipis.
" Baiklah jika begitu aku pergi. Kerja yang baik Angela '' ucap Ezio tersenyum tipis dan Angela mengangguk pasti tersenyum menanggapi. Ezio segera keluar dari ruangan nya dengan Angela yang menatapi kepergian tuannya.
Gold Mansion.
sesampainya Ezio di mansion mewah milik neneknya lelaki bermanik Hazel itu disambut hangat oleh orang-orang yang berpapasan dengan nya. Langkah Ezio semakin tegas dan mencari keberadaan neneknya.
" Larissa kau disini ? " ucap Ezio yang berpapasan dengan putri pamannya itu. Larissa gadis itu tentu saja mengangguk kecil. " Dimana nenek? " tanya Ezio lagi.
" Dikamar Dyora bersama dengan paman Ornaf dan bibi Ellara. " ucap Larissa lagi dan Ezio mengangguk seraya bergegas ke ruangan dimana Dyora berada. Namun sebelum itu dirinya berbalik dan memanggil Larissa kembali.
" Why? " bingung Larissa.
" Ya baiklah. Namun kau juga tau aku tidak suka di ikuti! " tegas Larissa dan Ezio mengangguk saja. Gadis itu segera pergi kesuatu tempat hingga Ezio menatap kepergiannya hingga menghilang dari pandangan mata. Ezio berpaling dan segera menuju ke lantai tiga dimana ruangan yang selalu ditempati oleh adiknya.
Terlihat Valera dan juga Ornaf sedang berbincang satu sama lain dengan Ellara yang terus duduk disisi ranjang Dyora dengan mengambil Sempel darah gadis berambut coklat susu itu.
Ya ini sudah dua hari Dyora tak sadarkan diri namun gadis itu masih tetap damai dalam tidurnya membuat Valera cemas bukan main. Ezio datang dan membuat Ellara terkejut bukan main.
" Ezio! kau mengejutkan bibi " pekik Ellara dan Ezio terkekeh kecil.
" Nenek bagaimana keadaan nya ? " tanya Ezio lagi.
__ADS_1
" baik namun belum juga sadar " ucap Valera lagi lalu menarik lembut lengan Ezio dan menuntun nya untuk duduk di sebuah sofa panjang nan empuk. Ezio menurut saja.
" Apa kau sudah makan? " tanya valera lembut yang begitu perhatian kepada cucu tertuanya itu. Ezio tersenyum dan menggeleng saja. " Kau ini bagaimana cepat makan terlebih dahulu lalu kita berbincang. Aku yakin kedatangan mu kesini bukan hanya untuk melihat Dyora saja bukan ? " picing Valera lagi.
" Kau memang tebaik nenek. " ucap Ezio lagi lalu mengecup pipi Valera singkat setelah itu berlalu pergi menuruti permintaan neneknya itu. Valera tersenyum lembut menatap Ezio yang kini tumbuh menjadi seorang lelaki kuat.
Valera beranjak dan menatap lekat wajah Dyora cukup lama. Malam ini Athena dan George pun akan tiba di Perancis setelah menyelesaikan suatu masalah yang berkaitan dengan Swann di England. Tentu saja mereka syok mendengar kala putrinya sudah tak sadarkan diri selama dua hari dan hal itu membuat Athena mempercepat kepulangan nya.
Disebuah ruangan tertutup.
Valera kini duduk dengan anggun dihadapan Ezio yang terlihat tenang menatap lamat sang nenek. Valera tersenyum dan terkekeh saat Ezio justru mengambil segelas red wine kesukaannya itu.
" Jadi apa yang ingin kau perbincangkan ? " tanya valera tenang.
" Bagaimana dengan tanggapan nenek jika ada seseorang yang berusaha untuk melenyapkan kita.? " tanya Ezio langsung tanpa basa basi. Valera memicing menatap lekat wajah Ezio yang seperti menahan sebuah amarah.
" Membumi hanguskan tanpa sisa!" tegas Valera tanpa ekspresi. " Siapa kali ini ? " tanya Valera.
" Para tetua yang hanya menjadi parasit di kehidupan ayah ku! " ucap Ezio tenang " Mereka berusaha ingin melengserkan kursi milikku! " ucap Ezio lagi dan valera diam menyimak. " Sungguh lucu sekali bukan ? " ucap Ezio lagi.
" Maka musnahkan mereka sebelum mereka memusnahkan kita. Ingat Ezio hidup ini keras dan kau sudah memilih hidup sebagai apa. Namun ingat pesan nenek jangan kau remehkan sekecil apapun ancaman yang akan memikat mu " ucap Valera dengan tegas dan Ezio mengangguk pasti.
" Satu Minggu lagi acara penobatan resmi yang akan mengangkat diriku sebagai penerus dari seorang Harvey Hillarey. aku ingin nenek dan kakek datang " ucap Ezio penuh harap. Valera diam dam mempertimbangkan keinginan cucunya itu.
" Baiklah nenek dan kakek berusaha untuk datang dalam penobatan resmi itu. " ucap Valera tersenyum lembut dan Ezio mengangguk kecil dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Valera tampak tersenyum saat melihat wajah Ezio yang kian mempesona dari hati ke hari. Tak di pungkiri jika Harvey ayahnya mewarisi ketampanan dari para leluhurnya dan itu menurun pada sosok Ezio Pillipo yang tumbuh menjadi sosok idaman.