
"Abang, sudah dulu dong masa kita tiduran melulu mentang-mentang ini hari libur?" ucap Hanna saat Benny menariknya kembali Hanna yang sudah bersiap untuk bangun.
"Lha, emang ini hari libur. Ngapain lagi? kalau kita lagi berdua begini di tempat tidur." sanggah Benny malas-malasan.
"Udahan dulu atuh Bang, aku kan mau bangun, mau mandi beres- beres rumah, Abang kan dari sore pulang kerja sudah ambil jatah beberapa kali sampai malam, belum nanti siang. Sekarang aku bangun dulu ya!" rayu Hanna sambil mencium pipi Benny dan mengusap pundaknya.
"Nggak mau, ngapain beres-beres nanti juga berantakan lagi, pokoknya apalagi tempat tidur nggak usah di beresin nanti juga kita pakai lagi." rengek Benny seperti anak kecil yang terus bergelayut di pelukan Hanna.
"Terus maunya Abang sekarang apa?" tanya Hanna lagi.
"Mau semuanya, Hanna kita harus bersyukur sudah bisa dan boleh melakukan semuanya, sedang Bos kita masih menahan diri, kadang aku merasa kasihan melihatnya Bos Richard uring-uringan sendiri, makanya walau hari ini libur aku akan ke kantor nanti sore mau menemani takut dia tergoda memasukkan lagi lebah liar ke kamarnya haaa ...." tawa Benny sambil menarik Hanna lebih dalam lagi ke pelukannya.
"Ih Bang, Abang belum pakai baju lagi, nanti masuk angin dari semalam nggak pakai baju." sungut Hanna, walau dirinya juga hanya baju luar saja yang dikenakannya, pakaian dalamnya entah kemana.
"Usap-usap dong sayang biar bangun senjatanya, satu babak lagi pagi ini kamu boleh bangun, habis itu aku tidur bentar, nanti kita cari makanan ya!"
"Bang, kapan mau ngurangin jadwal mainnya? emang Abang nggak capek apa? tiap malam tiga kali belum kalau libur begini siangnya minta lagi."
"Kan kamu stop sendiri saat ada tamu bulanan, aku nggak akan bosan Hanna, kenapa? apa kamu ada masalah?" ucap Benny sambil membuka menarik kembali baju tidur Hanna.
"Enggak sih, senang aja. Aku suka juga, tapi takut Abang yang kewalahan sakit kayak waktu pertama kita melakukannya."
"Kenapa kalau sama-sama senang harus ada batas? lanjut aja kapan kita mau, mau di manapun kita suka, aku belum pernah merasakan nikmatnya hubungan suami istri di tempat kerja, sepertinya bawa semangat Hanna."
"Masa di tempat kerja Bang? kalau ketahuan orang gimana?" ucap Hanna menanggapi ide gila suaminya.
"Dimana pun jadi Hanna sayang, banyak orang melakukannya di kamar mandi di manapun mereka suka, malah kata satu teman relasi Hotel ku mereka sering melakukan di ruangan terbuka seperti di halaman, katanya lebih menantang."
"Gila itu namanya Bang! apa nggak ada kamar lagi? masih mending di mobil masih tertutup, lha di halaman gimana itu?"
"Itu harus sudah kepengen banget sepertinya, haaa ...."
"Abang sekarang kepengen banget nggak?" senyum Hanna, di sambut Benny dengan ciuman pagi mereka yang selalu menyuguhkan permainan panasnya.
"Setiap saat aku selalu mau, asal lihat kamu aja otakku langsung main," ucap Benny sambil tersenyum juga.
"Kok Abang kelihatan kuat aja?"
"Iya dong, sekarang sudah terbiasa dan terlatih, kita nikmatin saja semuanya."
__ADS_1
"Rasanya Abang nggak ada capeknya, Udah Bang lah kita bangun, bukan malah buka pakaianku gimana ini?"
"Libur Hanna kita bangunnya siang saja, kita malas-malasan dulu, aku selalu semangat kalau lagi libur."
Mau tak mau Hanna mengikuti keinginan suaminya yang memang rada berlebihan dalam urusan hubungan suami istri, Benny kelihatan sewaktu sendiri seperti dingin banget terhadap perempuan, tapi setelah menikah begitu over banget.
Benny termasuk laki-laki yang mampu menahan diri sebelum menikah, karena prinsipnya nanti juga akan kenyang saat sudah punya istri, sekarang semua di buktikan nya.
Benny rajin merawat senjata kesayangannya, dan selalu mengusapnya dan menenangkannya saat meminta sebelum waktunya, juga saat meronta kala Bos Richard menawarinya untuk sama-sama bisa piknik.
"Hanna nanti kalau kita sudah pindahan ke rumah kita yang baru, semoga kamu betah di sana, kita akan senang di tempat baru."
"Betah pasti Bang, yang terpenting ada Abang di dekatku. Tapi pasti akan sedih saat kita pindahan di sana, aku tinggalkan rumah kenangan ku ini yang dengan susah payah aku perbaiki walau perlu waktu lama sampai seperti ini."
"Aku nggak mengajak kamu pindah total sayang, aku tahu keluarga mu di sini, sekali-kali kita juga nginep ke sini sambil bernostalgia malam pertama kita"
"Makasih Bang, Abang pengertian banget sama aku."
"Aku juga senang Hanna, kamu kini segalanya buat aku."
Hanna semakin melambung saja, dan membiarkan Benny menyusuri kesenangannya, semua laki-laki begitu nyaman berada di daerah situ, walau Hanna merasa sedikit sakit saking seringnya Benny menikmati dua kuncup pucuk kecoklatan di dadanya, tapi Hanna merasakan kenikmatan luar biasa dan itu begitu membuatnya panas saat sebelum melakukan kegiatan ini.
"Nanti sayang, masih begitu enak."
"Bang!"
Benny membiarkan istrinya menggelepar seperti ikan di darat, saat seperti itu begitu senang melihatnya, permainannya begitu berhasil merangsang istrinya.
Tinggal selangkah lagi menembakkan senjata kesayangannya, memacunya dengan nikmat, saat itu puncak yang sangat di tunggu.
"Hanna, aku tanam bibit di dalam rahimmu, semoga jadi yang terbaik."
Hanya dengus nafas tak teratur dan memburu, Hanna tak menjawab sibuk mendesah menikmati hentakan pagi mereka yang panas dan berkeringat.
Benny seakan nggak ada capeknya selalu menjelajah tiap sudut kenikmatan yang di suguhkan istrinya.
Juga seakan enjoy saja dan setiap saat dia mau Hanna harus selalu siap dengan permainan mereka.
Hanna tersenyum di sela-sela desahannya, saat suaminya mengerang panjang melepaskan tembakan untuk kesekian kalinya, memeluknya dengan erat tanpa melepaskan penyatuan mereka.
__ADS_1
Hanna senang saat suaminya terkapar tepar di sampingnya, mengusap keringat yang membasahi keningnya.
Benny mengatur nafasnya yang begitu ngos-ngosan saat turun dari tubuh istrinya, capek luar biasa tapi begitu puas dan begitu enak, kenapa hal satu ini tak membuat semua orang kenyang?
Itulah mungkin candu.
Hanna melirik suaminya yang terkapar di sampingnya, membelai kepalanya yang basah.
"Bang, lagi nggak? tanggung nih masih pagi!"
"Ampun, sayang jangan menggodaku, aku sudah tak berdaya malam ini, kenapa kamu selalu menawarkan lagi saat aku kecapaian begini?"
"Aku hanya lucu saja melihat Abang tak berdaya, hilang gagahnya saat kecapekan."
"Tapi kalau kamu usap-usap lagi bisa jadi hidup lagi Hanna!"
"Serius Bang? Abang masih mampu?"
"Kenapa enggak Hanna, ayo kita lakukan lagi di kamar mandi!"
"Abaaaaang .... aku hanya bercanda! aku nggak kuat lagi."
Benny tertawa senang menanggapi candaan istrinya.
Menariknya ke kamar mandi.
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1