
Benar saja entah angin apa yang membawa Richard begitu serius dan berusaha memasuki dunia lain. Dunia yang baru dan bertentangan dengan kehidupan yang di jalaninya sekarang.
Richard ingin mengubah haluan hidupnya, menjadikan semuanya lebih baik jadi lembaran baru dari masa lalu yang hitam dan kelam.
Richard ikut sama Ameera ke rumahnya, berkenalan dengan Ibunya Ameera yaitu Ibu Hj. Salamah, sama sopan, sama ramah seperti Ameera juga Haji Marzuki.
Lalu ikut ke mesjid yang entah kapan terakhir Richard memasuki sebuah masjid atau mushola, seperti sekarang ini berusaha mengingat-ingat mungkin pada masa sekolah SMP dirinya masih masuk ke tempat beribadah seperti ini, itupun mushola yang ada di sekolahnya. Guru bidang pendidikan agama mengharuskan untuk melakukan kewajiban menurut agama dan keyakinan masing-masing saat itu.
Berpuluh tahun Richard hidup dalam kebebasan dan dunia yang gersang juga kehidupan yang tanpa sentuhan keagamaan, terkadang terbersit kerinduan masa kecilnya mengaji bersama temannya di rumah seorang pemuka agama di kota Bandung, terkadang saat sendiri suka terpikirkan semuanya, betapa hidupnya selama ini hilang pedoman.
Tapi kini Richard di sadarkan oleh perasaannya sendiri, perasaan ingin kembali pada jalan yang benar, terlalu banyak yang harus di benahi.
Tapi dengan niat dan tekad juga dorongan perasaan motivasi terbesarnya adalah seorang Ameera, Richard berusaha ingin menyentuhnya dengan cara yang benar, karena Ameera tak bisa di sentuh dengan cara yang sekarang dan masa lalu Richard yang salah.
Richard menyadari semuanya mungkin jalan taubat harus ada perantara siapapun itu, Richard akui Ameera yang menginspirasi dirinya untuk berubah.
Berawal dari satu malam seorang Loka sama Janeeta duet yang tak terlupakan Richard, menyanyikan satu lagu dengan lirik lagu sepertinya begitu menyentuh dan masuk di hati Richard.
Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan ku bicara
Agar kau juga dapat mengerti
Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tahu mengapa
Yang kutahu inilah cinta
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Kamu yang buat hatiku bergetar
__ADS_1
Senyumanmu mengartikan semua
Tanpa aku sadari
Merasuk di dalam dada
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Mulai saat itu hati Richard gundah gulana, memandang Annet terasa sakit dadanya, Janeeta adalah salah satu yang mengisi masa lalunya yang hitam, bayangan wajah Ameera menertawakan kehidupannya menari-nari di kepalanya.
'Aku datang padaMu Ya Allah...'
Lirih suara hati Richard di sisi tembok paling ujung setelah ikut sholat makmum berjamaah.
Duduk terpekur dalam diam, dalam kenyamanan hatinya, dalam pengakuan semua jalan yang telah di tempuhnya mendapati dirinya dalam salah, Richard ingin pulang ke jalan yang benar usia telah membawa pada kesadaran inilah jalan yang penuh makna. Puji-pujian, shalawat pada Nabi juga Adzan tiap waktu sholat pasti dari sini yang seakan semua masuk ke kamar huniannya.
'Ya Allah aku datang langsung pada sumber suara itu, aku ada di dalamnya sekarang, Ampunilah hamba ini Ya Allah ....'
Richard memejamkan mata dalam duduknya, merefresh rasa dan otak yang masih bergolak tak menentu antara sadar dan lamunan.
Ada rasa bahagia di hatinya, Ameera telah menuntunnya, menjadikan satu perubahan dalam dirinya, walau Richard tak tahu seperti apa kedepannya, yang pasti melihat senyum Ameera begitu lapang dan bahagia hatinya.
"Alhamdulillah, tambah warga baru kali ini, semoga bukan kali ini saja Pak Richard datang ke mushola ini."
"I-iya Pak Haji semoga saja."
__ADS_1
Suara Haji Marzuki membuat Richard kaget bukan kepalang, dalam lamunan panjangnya Richard di sentuh sebelah bahunya.
"Ayo mampir di rumah, kita makan sore dulu, karena menurut kesehatan baiknya makan sore bukan makan malam."
"Oh, i-iya pak Haji, saya langsung pulang saja takut malah ngerepotin."
"Nggak baik menolak ajakan dengan niat tulus."
"Terimakasih Pak Haji."
"Makannya juga belum, sudah bilang terimakasih?" Pak Haji Marzuki tersenyum memandang Richard.
"Bukan soal makan, tapi pengakuan Pak Haji di tempat ini juga undangannya ke rumah Pak Haji."
"Siapapun yang datang ke tempat ibadah itu adalah saudara, selayaknya kita mengaku mengajak dan merangkul siapapun itu."
"Iya Pak Haji."
"Pak Richard, Bapak tadi sudah menelepon Pak Bagas biar sekalian kalau dia datang Pak Richard bisa kenalan dan silahkan mulai diskusi soal proyek itu, apa sekiranya Pak Richard tidak sibuk sore ini?"
"Oh, boleh Pak Haji, saya bisa meluangkan waktu dan mengkondisikan pekerjaan kebetulan Aku ada punya asisten yang bisa diandalkan yaitu Pak Benny."
Baiklah sepertinya awal yang baik." ucap Pak Haji Marzuki, sambil berjalan bersisian keluar mushola menuju rumahnya yang tak jauh dari mushola itu.
Ameera sudah ada di rumahnya mempersiapkan makan buat semua keluarga dan tamunya, Ibu Hj. Salamah juga Bibi yang biasa bantu-bantu di rumahnya.
"Ayo Mari Pak Richard, kita makan apa adanya, menu rumahan. Di keluarga Bapak tidak ada makan malam karena alasan utamanya yaitu faktor kesehatan. jadi kalau makan malam memang menurut medis juga tidak baik jadi Bapak mengkondisikan makan itu sebelum salat magrib habis sholat ashar sampai menjelang Maghrib."
Richard mengangguk sambil mencuri pandang pada satu orang yang begitu tak puas dirinya melihatnya. Ameera yang sama sedikit mencuri pandang pada Richard yang sudah duduk di kursi ruang tamu menunggu Pak Bagas, Ameera sibuk membantu Ibunya juga Bibi menyiapkan makan sore mereka.
"Di situlah keluarga kami bisa berkumpul berdiskusi mengobrol seperti sekarang Bapak juga mengundang Pak Bagas alhamdulillah juga di sini sudah ada Pak Richard jadi kita menganggap semua sudah menjadi keluarga bagian dari usaha yang kita jalani Bapak menganggap semua yang berkompeten didalamnya adalah keluarga."
Entah seperti apa perasaan Ameera saat ini, apa bahagia saat mendapati Richard ada di rumahnya, bahkan akan makan bersama.
Yang pasti perasaan Richard tak bisa di bayangkan, pikiran dan otak lagi ngobrol sama Pak Haji Marzuki, tapi mata selalu mencari satu sosok, yang menguasai hatinya.
Ketertarikan Richard pada Ameera sanggup mengesampingkan apapun, termasuk emosinya, egonya dan kesibukan lainnya.
Kehadiran Ameera di dekatnya, ngobrol dengannya membuat hati Richard berdegup kencang, betapa ingin Richard melewatkan waktu berdua lagi seperti waktu jalan meninjau lokasi proyek yang sedang di kerjakan.
Ameera seperti magnet baru buat Richard, yang mungkin bisa di miliki dengan pengorbanan. Apapun itu sepertinya Richard siap menjalaninya.
*****
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
__ADS_1