
"Annet, apa penawaran ku menarik hatimu?" bisik Zen begitu dekat di telinga Annet.
"Sangat menarik Bos Zen, apalagi porsi ku tak terlalu menyita waktu."
"Mulai besok kamu pindah ke apartemenku, kamu begitu istimewa buatku." Kata-kata Zen melambungkan hati Annet merasa berada di atas awan, tak perduli apa bisnis Zen yang sebenarnya.
"Wow, apartemen? terimakasih. Bos Zen begitu mengistimewakan ku, aku tak berpikir lagi soal Bos Richard mulai sekarang." Annet menunjukkan kesetiaannya, walaupun itu hanya tampak luar saja, dalam hatinya Richard tak bisa tergantikan oleh siapapun.
"Bagus! aku begitu cemburu padanya Annet, rasanya aku begitu ingin meninggalkan profesi sebagai manajer di klab malamnya, tapi tempat ini begitu nyaman untuk berbisnis." Zen seakan membuka rahasia dirinya, kalau dirinya memanfaatkan kelengahan team manajemen The Rich dengan klab malamnya menjadi tempat transaksi ilegal peredaran obat terlarang dan senjata api rakitan.
Zen begitu kalem dan tak memperlihatkan kalau dirinya punya power dan jaringan bisnis tumpang sari yang beromset bukan sedikit, di depan istri sahnya, di depan keluarganya hanya di depan Annet Zen tak bisa sembunyi, karena Janeeta adalah bagian dari bisnisnya.
Berusaha berterus terang berharap ada seorang perempuan yang mendukungnya dan sasarannya Janeeta memang tepat, sama-sama saling butuh segalanya.
"Bos Zen tenang saja, aku selalu ada di samping Bos Zen. Malam ini kita mulai kerjasamanya bagaimana?" Tangan Annet begitu terlatih untuk jurus awal yang sudah biasa di lakukannya.
Mengusap paha Zen sambil tersenyum dan Zen menggeserkanya agak ke pangkal dan menahannya sambil tertawa.
"Awww ... Bos, ternyata ada yang menantang ku!" teriak perlahan Janeeta, membuat Zen merasa tak ingin melepaskan tangan itu.
Semua tak bisa di tolak Zen, pesona Janeeta memang luar biasa menyihir dirinya. Saat nyanyi Janeeta begitu menarik hatinya, sehabis mengisi acara di klab malam Janeeta selalu ingin habiskan waktunya di dalam kamar berduaan dengan siapa saja sasaran orang yang berpotensi memberi keuntungan dan cuan lebih dari profesi yang sebenarnya.
Kali ini Bos Zen sasarannya sama sama gila main, dan sama sama butuh pelampiasan. Selalu butuh cewek pengisi waktu malamnya karena kerjanya memang malam.
__ADS_1
"Aku sudah pesan kamar kamu duluan aku masih ada janji dengan seseorang, nanti aku nyusul, kamu istirahat saja dulu." ucap Zen sambil mengusap pipi Annet sambil tersenyum pasti di remang lampu klab malam yang mulai sepi karena sudah tutup, hanya ada beberapa personil yang beres-beres dan bartender yang mulai merapihkan meja dan peralatan
"Oke Bos Zen sayang, jangan lama lama lho aku nggak mau di serang saat sudah ngantuk!"
"Haaa ... jangan tidur dulu dong, aku janji paling lama setengah jam."
Annet tersenyum sambil berdiri mengambil kunci kamar dari tangan Zen sambil mencium pipinya.
Annet tersenyum senang memang begini kesenangannya, asal ada kepuasan juga keuntungan semua dijalani dengan enjoy dan happy.
Annet berpikir bisnis apa yang di lakukan Bos Zen? Sungguh menggelitik untuk mencari tahu, bukan ingin terlibat langsung Annet tahu risikonya, tapi mengambil keuntungan dari pelakunya yaitu Bos Zen.
Berhubungan dengan orang yang berduit, pasti dirinya akan mendapat keuntungan dari rahasia juga dari pelayanannya. Otak Annet memang pintar, sepintar memanfaatkan potensi dalan dirinya bagi yang haus akan servis memuaskan dirinya.
Annet tak bisa mengalahkan perang bathin nya, tuntutan dan keinginannya menuntun Annet ke jalan salah.
Biasa tidur dalam dekapan laki-laki membuat hasrat Annet begitu menuntut setiap waktu, dan kencan terakhir dengan Richard menjadi kencan paling tak bisa di lupakan, Richard tak bisa menuntaskannya memberi kepuasan entah apa dan kenapa semua seakan berubah seketika.
Asyik berkhayal pintu di ketuk dari luar. Annet mendongak, Zen masuk sambil membuka jaket panjangnya di lempar ke sofa mini sebrang tempat tidur.
"Halo Annet sayang!"
"Hai Bos."
__ADS_1
"Apa kamu tidak haus?"
"Haus tidak, aku hanya lapar." jawab Annet dengan suara manjanya.
"Kalau lapar tunggu saja, nanti sebentar lagi pasti kenyang."
"Bos yakin begitu fit malam ini?"
"Haaaa ... kamu begitu meragukan aku hemght?" jawab Zen sambil duduk di pinggir tempat tidur.
Annet bangun membuka kancing kemeja Zen satu persatu, Zen mengusap bibir merah mungil Annet dengan tatapan penuh hasrat.
******
Sambil menunggu up MASA LALU SANG PRESDIR baca juga yang satu di bawah ini ya, Jangan lupa like dan komentar membangun, juga beri hadiah ya🙏
Blurb :
Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.
Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.
__ADS_1
Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?