Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Di titipkan


__ADS_3

Annet sampai di satu tempat yang begitu asing bersama Ibunya Hampir jam delapan malam, mejalani perjalanan kurang lebih satu jam setengah perjalanan naik angkutan umum, tempatnya lumayan jauh tapi baru kali ini Annet menginjakkan kaki di tempat ini Annet heran kenapa Ibunya punya kenalan orang di sini seperti tempat rehabilitasi dan mendalami agama, juga kemungkinan panti asuhan juga.


Tak ada pilihan lain bagi Annet selain mengikuti kata dan perintah Ibunya sebagai orangtuanya, tak ada kata dan niat untuk menolak, selain kesadarannya telah menyentuh hati dan perasaannya selain menurut pada satu-satunya orang yang di cintainya yaitu Ibunya.


Mungkin Ibunya telah menelepon terlebih dahulu kepada orang yang dituakan di tempat ini terbukti waktu Annet sama Ibunya datang mereka disambut oleh seorang Ibu yang dipanggil dengan Haji Saodah. juga anak-anak kecil seusia anak SD.


Ibunya ngobrol begitu akrab dan saling berpelukan, sementara Annet melongo sambil duduk mematung.


"Annet beri salam sama Bu Haji, kamu akan berada di sini dalam pengawasannya, semoga tempat ini bisa menjadi tempat tafakur kamu, pendewasaan dan tempat menimba ilmu kehidupan." Ibunya Annet membuka pembicaraan dan obrolan mereka.


Annet mencium tangan Haji Saodah, dan Haji Saodah mengusap usap punggung Annet.


"Tenang, Annet di sini tak akan banyak yang di bahas, di sini semua orang akan mendapat ketenangan asal kosongkan pikiran siap menerima semua hal kebaikan, Insya Allah akan mendapatkan hikmah betapapun punya masa lalu yang begitu hitam, semua juga punya sisi kelam kehidupan, mulailah memperbaiki diri dan meninggalkannya," ucap Ibu Haji Saodah sambil menatap Ibunya Annet yang mengangguk mengiyakan.


"Makasih Haji, saya bawa anak saya dulu istirahat sama sekalian belum Isya, nanti kita sambung ngobrolnya." Ibunya Annet pamitan dulu.

__ADS_1


"Oh, silahkan Bu."


"Annet malam Ini Ibu akan temani kamu tidur di sini, dan akan menjelaskan sedikit soal tempat ini, besok pagi Ibu akan pulang."


Annet mengangguk, dan Ibunya Annet berdiri membawa tas berisi pakaian Annet ke kamar yang di tunjukkan Ibu Haji Saodah.


Annet duduk di tepi tempat tidur sederhana dari kayu, satu lemari kayu juga yang sudah usang satu meja kecil dan kursi dengan lampu penerangan begitu temaram, begitu jauh dengan segala fasilitas yang biasa dirinya nikmati di apartemennya.


"Silahkan masuk ini kamar kamu, Ibu mau ke kamar mandi, mau mengambil air wudhu dan belum salat Isya. Kalau kamu juga belum melakukan shalat Isya dan mau ke kamar mandi ayo Ibu tunjukkan tempatnya." ucap Ibunya Annet, sambil keluar dari kamar.


Annet menurut keluar mengikuti Ibunya yang seperti sudah hafal bangunan ini.


"Annet, duduk di sini."


"Iya, Bu."

__ADS_1


Annet menurut seperti anak TK yang di perintah gurunya.


"Ibu menitipkan kamu di sini, ini namanya Yayasan Bersama, termasuk Ibu yang mendirikan dan setiap bulan menyisihkan sedikit dari hasil keringat Ibu buat kelangsungan hidup dan berjalannya yayasan ini, sampai kamu melahirkan, kalaupun ada laki-laki yang mau menikahi kamu, sebelum kamu melahirkan itu tidak boleh kecuali itu bapak biologisnya, itu aturan semua harus di taati, kita berpegang pada aturan, kita orang yang beragama."


Annet tercenung kenapa Ibunya baru memberitahu kalau punya kenalan yayasan dan sebagai donatur tetap yayasan ini?


"Ibu Haji Saodah teman Ibu teman seperjuangan teman di pengungsian dulu, tetapi beliau tidak memiliki anak jadi beliau mendedikasikan hidupnya mengurus anak yatim piatu yang terlantar dan tempat ini juga tempat rehabilitasi dari segala macam penyakit sosial masyarakat."


Annet mengangguk mengerti.


"Jadilah orang yang bermanfaat di sini, Ibu sayang sama kamu tapi lebih perduli pada masa depan kamu dan kehidupan kamu selanjutnya, jadi kali ini Ibu akan tega menitipkan kamu di sini, jangan khawatir semua keperluan kamu Ibu akan cukupi, belajarlah mandiri belajar dari lingkungan di sini.


Kamu jangan punya pikiran ibu membuang kamu tapi semua ini karena Ibu sayang, Ibu janji akan menengok setiap bulan dan memantau perkembangan kamu lewat Ibu Haji Saodah."


Setetes air bening menetes dari ujung mata Annet sambil menunduk mengusap airmatanya.

__ADS_1


"Janeeta, Ibu tahu awalnya kamu pasti berat tinggal di sini, tetapi ingat perjuangan Ibu dulu sampai bisa berada di rumah kita sekarang jauh lebih berat. Bersedih boleh tapi jangan berlebihan tekadkan niat dalam hatimu untuk jadi lebih baik titik."


"Hanya itu yang dapat Ibu pesankan sama kamu, sekarang tidurlah istirahat, jaga kesehatan ada anak yang perlu jaga di dalam perutmu. Ibu mau ngobrol sama Ibu Haji Saodah.


__ADS_2