
Ameera masuk ke kamar mandi setelah sebelumnya memilih salah satu pakaian tidur yang begitu banyak mengisi lemarinya yang Richard persiapkan tanpa sepengetahuannya.
Ameera merasa bersalah melihat Richard begitu kecewa, tapi semua harus di mengerti kalau itu adalah aturan.
Ameera memandang isi kamar mandi yang telah begitu komplit, segala ada yang di butuhkan nya sampai hal terkecil tanpa terkecuali.
Semua tampak bersih, Richard benar-benar telah menyelesaikan vila ini sebelum di persembahkan pada dirinya sebagai mahar perkawinan.
Richard begitu mengerti kebutuhannya, Ameera membersihkan diri dan berpakaian, mengelap kembali seluruh muka dan tangan juga kakinya yang masih basah.
Keluar membawa gaun pengantinnya di simpan di kursi meja riasnya.
Richard masih telungkup di tempat tidur, entah tidur entah hanya diam.
Ameera menggoyangkan tangannya beberapa kali, Richard bangun dan memandang Ameera seakan tak percaya. Ameera dengan memakai pakaian tidur sutra putih tulang begitu cantik dengan rambut tergerai di biarkan begitu saja, kontras dengan pakaian putih yang di pakainya.
"Mau mandi nggak? katanya nggak marah tapi kok diam?" sapa Ameera masih memegang tangan Richard.
Richard menggeleng sambil tersenyum "Apa yang harus aku lakukan padamu sayang?"
Richard menarik tangan Ameera yang sedang duduk menjadi tidur berhadapan dan berpandangan dengan dirinya, Richard menarik nafas panjang menyentuh mengusap kepala dan helai rambut Ameera, mengusap pipinya, dan memainkan bibirnya, dagunya.
"Rich! sekali lagi ma ..."
__ADS_1
"Ssssssssst ... jangan meminta maaf, aku mengerti setiap kata yang kamu ucapkan, kamu tak salah apa-apa, Aku masih bisa memandang kamu, membelai kamu, dan ..." bibir Richard sudah mengulum penuh bibir mungil Ameera, Ameera dengan pasrah menerima sentuhan lembut penuh gairah suaminya, membalas lidah Richard yang memenuhi mulut Ameera dengan panasnya.
Mereka berpelukan, dan satu lagi Richard mulai membuka tali pakaian tidur Ameera dan dangan sangat nyaman menenggelamkan wajahnya di belahan dada Ameera.
Ameera memejamkan matanya merasakan sentuhan nakal suaminya yang begitu senang berlama lama di area itu.
Waktu yang mengiringi mereka tak terasa, senja redup mengiringi malam menjelang, mereka asyik tenggelam dalam kerinduan yang berpadu, sekian lama mendamba keinginan menumpahkan segala ganjalan hati mereka, sekarang di pertemukan dalam kebersamaan bahagia pernikahan.
Sadar akan keadaan waktu telah jam sembilan malam, Ameera bangun menyadari Richard tidur dalam pelukannya.
Ameera melepaskan diri perlahan dari rengkuhan tangan Richard yang tertidur pulas, mungkin kecapekan luar biasa, dari semalam tidak tidur, sehari tadi harus berjaga menyambut tamu dan menebar senyum dan menunggu malam tiba nyatanya keinginan Richard tak sesuai harapan semua harus di tunda. Richard memilih tidur dengan nyaman di pelukan istrinya.
Ameera membelai rambut dan kepala Richard degan sayang, lalu membereskan pakaiannya dan turun menutup gorden lalu keluar kamar, menatap sekeliling begitu senyap, banyak lampu berkelip di kejauhan pemandangan indah kalau dinikmati malam hari.
'Mang Jaka? ngapain ada di sini?'
Ameera keluar dan menyapanya.
"Mang Jaka ada di sini?" sapa Ameera mengagetkan Mang Jaka yang lagi merokok di pinggir benteng yang masih dalam tahap penyelesaian.
"Eh, Neng Ameera. Mang di tugaskan Pak Haji buat berjaga di sini."
"Bapak tahu aku di sini?"
__ADS_1
"Tadi Pak Benny yang kasih tahu Pak Haji. Lalu menyuruh aku jaga di sini, malah masih banyak teman Pak Richard yang datang sampai sore Neng."
"Mang Jaka pulang saja, aku sama Richard nggak apa-apa, ngapain nungguin orang tidur?"
"Aku nggak berani Neng, takut Pak Haji marah nanti, Neng Masuk saja Mang duduk di teras."
"Mang aku serius nggak apa-apa. Pulang saja biarin aku nanti yang ngomong sama Bapak."
"Nggak apa-apa Neng, Mang biasa berjaga, masuk saja udara semakin dingin."
Ameera mengalah masuk dan membiarkan Mang Jaka berjaga di halamannya, Bapaknya dirasa berlebihan dan bikin Ameera nggak enak hati, tapi bukan tanpa alasan juga ini tempat baru jauh dari pemukiman hanya ramai siang saja.
Ameera menyadari kasih sayang orangtua tanpa ada batasnya, menyayangi dan melindungi dengan sepenuh hati. Kehidupannya tak lepas dari kekhawatiran orangtuanya, walau ada dan tiada yang memiliki dirinya.
Ameera masuk dan membuka kulkas, tersenyum sekali lagi hatinya memuji atas pengertian suaminya Richard, sekeranjang bermacam-macam buah, minuman dan makanan lainnya yang siap santap seperti, puding, coklat dan es krim juga asinan dan buah yang diawetkan dalam bentuk kalengan tersedia memenuhi isi kulkas.
Ameera mengeluarkan buah dan membawa ke kamarnya, terlihat Richard begitu pulas tidur dengan dada terbuka.
Ameera menghampiri suaminya dan mencium pipinya sambil berbisik.
"Makasih sayang!"
Richard hanya menggeliat dan tertidur kembali. Ameera tersenyum sambil memakan buah apel kesukaannya.
__ADS_1