
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salaam, oh Pak Richard? mari silahkan masuk kebetulan Bapakku lagi ada." Ameera keluar menjawab salam lalu menghampiri Richard yang tersenyum di halaman vila.
Richard masuk, duduk di sofa ruangan tunggu, kalau di hotel pasti ini lobby depan. Tapi di vila di bikin sesederhana mungkin hanya tempat duduk dan satu meja, mungkin resepsionis di dalam menyatu sama ruangan pengelola vila.
"Pak, ada Pak Richard." suara empuk Ameera memberitahukan Bapaknya yang ada di dalam.
Selang beberapa menit datang Pak Haji Marzuki. Richard berdiri kembali membungkuk menyambut dan menyalaminya. Pak Haji Marzuki tersenyum ramah, tersenyum penuh intuisi tinggi pada Richard, menelisik dari ujung kaki sampai ujung kepala tamunya. Walau hanya sekilas pandang.
Tinggi tegap dengan perawakan standar, ideal seorang pria, penampilan sangat menawan terawat tampan diatas rata-rata. Pakaian sangat rapi sempurna dandanan maskulin pria sejati.
"Pak Richard ya?" Pak Haji Marzuki menyalami Richard yang agak grogi di hadapan Bapaknya Ameera.
"Iya Pak, Aku Richard Isaak dari hotel sebelah." Richard memperkenalkan diri.
"Silahkan duduk, di sini serba sederhana Pak Richard." Pak Haji Marzuki duduk duluan.
"Nyaman Pak Haji, begitu sejuk dan semua orang pasti merasa betah di sini termasuk aku." Richard memandang Ameera, dan Ameera memalingkan mukanya tak berani bertatapan apalagi di hadapan Bapaknya. Hanya sekilas matanya memandang laki-laki yang mulai mengusik hati dan perasaannya.
Ameera tahu sorot mata Richard seperti apa. Ameera bukan anak kecil untuk mengartikan suatu perhatian lebih yang diberikan Richard dari sekedar ingin berinvestasi di usaha keluarganya, tetapi Ameera tidak secepat itu menyimpulkan semuanya, tak mau gagal untuk kedua kalinya dan gegabah mengartikan kata hatinya.
Perlu waktu, perlu tahu, perlu mendengar dan melihat seperti apa keseharian Richard juga kehidupan yang sebenarnya.
Walaupun Richard pernah berterus terang kalau kehidupan yang begitu buruk, begitu jelek bukan satu contoh yang baik untuk diceritakan dan Richard sendiri mengaku dirinya berkecimpung dalam dunia kotor dan hitam tetapi bagi Ameera semua itu bukan masalah, selagi ada niat untuk merubah semuanya, itulah yang lebih baik.
Daripada kita baik dan manis diawal tetapi pada kenyataannya ujung-ujungnya hanya meninggalkan luka, manis hanya untuk menarik perhatian, menarik simpatik yang semua itu hanya kamuflase, itulah yang dijalani Ameera bersama mantan suaminya Fathir Fadil Hikmawan.
Pesona Richard di mata Ameera begitu mengganggu hari-hari yang dilaluinya. Sejak perkenalan pertama disambung dengan pertemuan selanjutnya saat makan di Mall sama Aliyah dan mereka bertemu tanpa sengaja, saat meninjau lokasi proyek agrobisnis, semua begitu melekat di ingatan dan hati Ameera.
Senyum menawan di muka tegas Richard entah kenapa tak bisa di hilangkan begitu saja, membuat Ameera merasa takut sendiri, takut dengan perasaannya yang menyiratkan satu rasa, dan takut hanya dirinya saja yang punya perasaan itu.
"Syukurlah kalau Pak Richard merasa nyaman, dari kemarin-kemarin Bapak mendengar obrolan putriku Ameera tentang Pak Richard. Kata Ameera Pak Richard begitu antusias melihat proyek usaha yang sedang kami bangun apa benar itu Pak Richard?" suara Bapaknya membuyarkan lamunan jauh Ameera.
"Aku begitu tertarik dengan Ameera Pak Haji."
__ADS_1
Pak Haji Marzuki mengerutkan dahinya dan Amira melotot dengan reflek menoleh pada Richard dengan muka berwarna merona merah.
Richard sadar dengan kesalahannya segera meralat ucapannya dengan perasaan tak menentu, mendadak gelagapan.
"Oh, eh ... maksudku, aku begitu tertarik dengan apa yang di obrolkan Ameera waktu pertama kali kami saling silaturahmi."
"Kenapa Pak Richard tertarik dengan proyek kami?" tanya Pak Haji Marzuki masih dengan senyumnya.
"Karena aku melihat prospek masa depan di sana, zaman sekarang orang-orang begitu jenuh dan ingin merefresh otak dimasa liburan, kehidupan kota dengan segala bentuk hiburan yang berbau teknologi bagi sebagian orang sudah biasa, jadi solusinya kembali ke alam adalah suatu pilihan bijaksana."
"Wah ... sepertinya cara berpikir Pak Richard tidak jauh seperti kami, terutama saya yang pada awalnya punya rencana dengan konsep untuk membangun wahana wisata itu secara bertahap dan pelan-pelan saja dengan modal yang terbatas. Tetapi kalau Pak Richard ingin berinvestasi di sana silakan saja."
"Terimakasih banyak Pak Haji, telah menerima aku bergabung di perusahaan yang Bapak bangun." ucap Richard kelihatan mukanya sumringah.
"Berterimakasih lah pada Ameera, karena dia yang bisa meyakinkan Bapak, untuk menerima orang luar sebagai investor di perusahaan kami."
"Ameera terimakasih, kita akan jadi partner dalam membangun dan mengelola usaha itu, mekanisme perkiraan saham nanti bagian Benny yang urus."
"Sama-sama Pak Richard, selamat datang dan bergabung bersama kami, semoga kerjasama yang terbangun akan mendatangkan berkah kebaikan buat kedua belah pihak."
Ada keganjilan dari biasanya diantara Ameera putrinya dan Richard, tapi itu terlalu dini untuk bisa di simpulkan Pak Haji Marzuki.
Richard ini laki-laki seperti apa semua harus lulus uji kelayakan, bukan hanya fisiknya saja tapi secara akhlak, agama, juga keluarganya.
Tampang seperti ini sepertinya bukan asli keturunan Indonesia dan itu harus benar-benar diusut dan dicari tahu kebenarannya, Jika suatu saat prediksi Haji Marzuki menjadi satu kenyataan ada aroma lain yang sedang diincar Richard kenapa dia begitu berani berinvestasi dengan orang yang baru dikenalnya?
Juga kenapa dirinya langsung menyetujui referensi putrinya yang mengajukan Richard sebagai calon investor di perusahaan yang sedang dibangun keluarganya?
"Pak Richard, investasi di Agrowisata bukan dana sedikit, Pak Richard bisa memperkirakannya, berapa persen yang Pak Richard bisa alokasikan untuk pembangunan itu?"
"Aku ingin mendengar dulu anggaran yang diperkirakan Pak Haji, baru bisa aku menyanggupi. Sepertinya kalaupun setengah-setengah juga akan kuusahakan karena punya prospek bagus, jadi aku juga tidak akan setengah-setengah dalam berinvestasi."
"Ya, ya ... maaf Pak Richard, apa Pak Richard sudah berkeluarga?"
'Deg! kenapa Bapak bertanya hal pribadi begitu pada Richard?'
__ADS_1
"Oh, aku masih sendiri Pak, Aku telat menikah dan terlalu enak dalam kesendirian, dan tenggelam dalam kesibukan usaha, sehingga niat untuk menikah selalu tertunda tunda dan akhirnya malah tidak terpikirkan sama sekali."
"Oh, maaf tadinya saya berpikir Pak Richard sudah memiliki beberapa anak."
"Nggak apa-apa aku memang orang yang sulit dimengerti oleh siapapun, sama orang tua sendiri, masih mengikuti kata hati saja. Baru sekarang aku merasakan butuh seseorang di sisiku, walau belum ada yang cocok." Richard memandang Ameera yang hanya menunduk saja.
Akhirnya menjurus juga jawaban Richard, jelas ada hati kedua selain tujuan utamanya yaitu kerjasama dan investasi.
"Pak Richard sudah pernah kan melihat lokasinya?" Pak Haji Marzuki mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Pak Haji, sama Ameera waktu itu, memang luar biasa. Aku begitu tak sabar merealisasikan harapan Ameera untuk bisa tinggal di sana memiliki hunian yang teramat istimewa di tengah-tengah alam yang begitu indah."
"Harapan Ameera?" Untuk kedua kalinya Haji Marzuki mengerutkan dahinya tak mengerti arah bicara Richard.
"Astagfirullah, Ameera sampaikan keinginanmu aku jadi gagal fokus hari ini, heee ...."
"Oh, itu Pak. Ameera menginginkan suatu saat proyek itu jadi dan selesai. Ameera ingin memiliki tempat tinggal di sana hunian sederhana di tengah alam mungkin sebagai tempat istirahat keluarga kita."
Haji Marzuki tersenyum dan mengangguk.
"Apapun keinginanmu harus terealisasi, jangankan cuma hunian di tengah alam Agrowisata, semua itu Bapak peruntukkan buat kalian anak-anak Bapak."
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1