Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Sarapan tak sehat


__ADS_3

"Masuk Ben, gue mau diskusi sama lo soal hasil rapat tempo hari itu soal perluasan ruangan klab malam di sini."


Benny membuka agenda hari ini, dan karena Bos-nya telah mengatakan pembahasan yang ingin di diskusikan nya, Benny menutup kembali agendanya.


"Lo sudah sarapan belum? kelihatan loyo banget?"


"Sarapan lah Bos, kalau nggak sarapan takut aku nggak kuat menghadapi kenyataan hari ini! emang Bos doang yang sarapan?"


"Haaa ... lo bisa aja, gue kalau nggak sarapan dua kali yang pasti loyo, tiap hari sekarang sarapan dua kali haaa .... "


"Sarapan tak sehat itu! encok, osteoporosis dan gangguan jantung mengancam penikmat sarapan dua kali!"


"Buktinya gue sehat-sehat aja Ben, malah tambah stamina kalau pagi-pagi bisa men-charge jagoan jumbo gue."


"Alah, alah sudah, apa yang akan di bahas kali ini? sarapan apa kerjaan?"


"Haaa ... santai Ben, sensitif amat lo!"


"Aku bukan sensitif, tapi ingin hari ini ada yang bisa aku kerjakan dan aku hasilkan bukan hanya sekedar ngobrol men-charge, mencelupkan, mengajak piknik jagoan, tembak menembak dan mengasah pedang dan urusan lobang!"


"Siap Benny, gue senang kalau lihat lo serius."


"Menurut Bos, seperti apa perluasan klab malam itu, apa merombak kamar yang sudah ada? atau manjadikanya dua lantai atau perluasan ke samping?"


"Kemarin aku pernah melihat-lihat lokasinya dan mengukur-ukur dan juga mempertimbangkannya, sayang banget kalau harus merombak dua kamar kelas atas di hotel itu. Kalau di jadikan dua lantai apa akan kuat daerah tebing seperti ini? itu jadi bahan pertimbangan juga."


"Lantas seperti apa kira-kira jalan terbaiknya?"


"Ben, sebelah hotel kita ada satu vila tetangga cukup luas, coba cari tahu barangkali minat buat di jual sebagian lahannya?"


"Bos tahu pemiliknya?"


"Kalau gue tahu nggak nyuruh lo cari tahu!"


Benny terdiam, satu satunya jalan dirinya harus punya misi untuk bisa tahu siapa pemiliknya, bagaimana kehidupan ekonomi nya, apa ada minat untuk di jual? juga orang mana pengelolanya.


"Baiklah beri aku waktu dua hari aku akan mencari tahu dulu siapa pemilik vila itu."


"Oke Benny, semoga khabar baik yang kamu dapatkan."


"Lanjut agenda hari ini, keliling hotel dan siangnya Bos ada janji ketemu teman Jody di luar. Itu urusan pekerjaan apa urusan pribadi?"

__ADS_1


"Kalau sama Jody dipastikan urusan lobang itu, haaa ...."


Benny geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


"Eh Benny, terimakasih telah lo beliin stok balon gue."


Takut obrolannya berlanjut ke arah mesum lagi, Benny mengangguk dan beranjak keluar dan masuk ke ruangannya.


'Gini banget kerja gue, punya Bos bokep, tiap hari hanya godaan dan obrolannya nggak jauh dari ************.'


Benny tersenyum saja sambil merancang bagaimana seharusnya mencari tahu pemilik vila di sebelah hotel ini.


Sebelum keluar Richard ke tempat huniannya dulu karena ada yang lupa tadi, sambil mau membangunkan Annet takut belum bangun.


'Senang juga rasanya hidup bareng sama cewek seperti Annet.'


Pikir Richard, setiap saat standby dimana pun mau mereka lakukan, ya di situ mereka lakukan. Richard tersenyum, hidupnya terasa bergairah.


Richard juga pengen tahu sampai berapa bulan Richard akan merasa bosan? atau tak akan merasa bosan sama sekali?


Richard masuk kamarnya ada Hanna sama team servis kebersihan kamar.


"Bos balik lagi?" sapa Hanna.


"Jangan bilang kalau yang ketinggalan itu Annet, dia telah pergi keluar katanya mau ke salon sama ke kost kostan temannya."


Richard menaikkan alisnya, dan masuk ke ruangannya tanpa kata apapun, mungkin kalau nggak ada Hanna dan dua orang dari layanan kebersihan dirinya akan mencari cari dimana Annet.


"Titip pesan nggak?"


"Cuma itu aja, mau keluar ke salon dan ke kost-kostan temannya."


"Hanna, coba kamu cek kebenarannya."


"Sepertinya dia jujur, Bos."


"Ya, apa benar seperti ucapannya?"


"Sekalian cek juga, apa punya pacar? apa yang di ucapkan nya benar pergi ke mananya? gue udah steril kan dia! hanya punya gue nggak bisa di miliki orang!"


"Baik!"

__ADS_1


Richard keluar kembali meninggalkan orang yang bersih bersih di kamar hunian Richard.


'Sepertinya Annet sangat beruntung, mendapat perhatian Bos Rich sampai sebegitu nya. Semoga Annet tak bikin ulah yang membuat Richard marah dan tak meliriknya lagi.'


Begitu dalam hati asisten Hanna berkata. Menutup pintu mobil dan menjalankannya perlahan keluar pintu gerbang The Rich Hotel.


Sebelum ada tempat yang di tuju Hanna menelephon dulu Annet memastikan keberadaannya.


Hanna menuju kost-kostan yang waktu itu mengantar Annet dari rumahnya dan menyimpan pakaiannya.


Sampai kost kostan hanya ada Loka sendiri, Hanna berusaha mengamati dari jauh tapi Annet nggak muncul-muncul kelihatan batang hidungnya.


Hanna turun dan bertanya pada Loka apa ada Annet ke sini Loka jawab tidak ada.


"Mbak Hanna, mungkin Annet ke salon dulu lalu nanti ke sini atau pulang barangkali.


"Aku ikuti menurut apa yang di katakannya saat pamit tadi."


"Mbak Hanna emang kenapa kok Annet sampai diikuti segala?" Loka penuh tanda tanya pada Hanna.


"Bos yang menyuruhku, itu sudah biasa, intinya Annet ada dalam kontrak dan perjanjian dengan Bos Richard, Bos tak mau Annet punya pacar dan pergi ke sembarang tempat."


Loka bengong saja kurang mengerti.


'Sejauh itu hubungan Annet dengan Bosnya?''


Hati Loka meronta, memikirkan jalan yang di ambil sahabatnya seperti berjalan dalam bahaya. Bermain-main dengan orang yang berpengaruh seperti Richard memang sangat riskan.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


- Meniti Pelangi


- Pesona Aryanti


- Biarkan Aku Memilih


- Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1



__ADS_2