
"Aliyah, Indah ada apa?"
"Ada Mas Fathir ada di rumah sama Bapak, lagi nunggu Kak Ameera pulang, dari tadi Bapak menelepon melulu, katanya ponsel Kak Ameera nggak aktif kenapa?"
"Apa? Mas Fathir?" Ameera mengulang mengucapkan kata Fathir mantan suaminya, seperti apa yang diucapkan Aliyah adiknya, terasa disambar petir perasaan Ameera saat itu.
'Untuk apa datang lagi? dimana perasaanmu? masa Iddah tinggal seminggu lagi di jalani Ameera, sudah itu selesai semuanya.'
'Dirinya siap meninggalkan semuanya, bersiap untuk melupakan siap untuk menata masa depannya sendiri'
"Sama siapa Mas Fathir ke sininya?" Ameera merasa nggak percaya.
"Sama orangtuanya Kak."
"Ya sudah, Kakak pulang dulu nggak enak mereka menunggu lama."
Ameera balik badan meninggalkan Aliyah dan Indah yang mematung berdua dengan pikiran yang bermacam-macam, entah apa yang akan terjadi apakah Kakaknya mau menerima lagi Mas Fathir atau semua berakhir sampai disini? mungkin itu yang ada dalam pikiran Aliyah dan Indah.
Ameera tak jadi masuk ke ruangannya, malah dengan semangat Ameera mau menemui Fathir dan orangtuanya.
Sepanjang jalan Ameera memikirkan apa tujuannya Mas Fathir datang ke sini? apa mungkin sebenarnya dia mengembalikan dan menyerahkan dirinya secara resmi kepada orang tuanya? bukankah pernyataan talak dirinya waktu kemarin-kemarin sebelum dirinya pulang ke rumah orangtuanya beberapa bulan lalu semua telah berakhir?
Ameera menganggap semua berakhir usai kata talak yang di ucapkan Mas Fathir, walau semua di rasa Ameera begitu cepat semuanya usai.
Ameera sibuk mereka dan menebak apa tujuannya. Sebenarnya tak ingin Ameera bertemu lagi dengan seseorang yang dengan susah payah dirinya perjuangkan sampai hatinya bisa menerima dan sekaligus mencintai Mas Fathir. Tapi semua perjuangannya itu tak sedikit pun di beri harga dan di pandang oleh suaminya, seperti apa sakit dan kecewa hati Ameera? tak terbayangkan.
Masih begitu terngiang ucapan Mas Fathir saat Ameera mulai curiga, semalam tak pulang, dua malam dan seminggu tak pulang, hanya ganti pakaian dan pulang tanpa memberi penjelasan yang begitu memuaskan Ameera.
"Maafkan aku Ameera, aku telah menikahi sekretaris pacarku dulu sebelum kita di kenalkan orangtua kita, aku telah memiliki anak yang seminggu ini lagi sakit di rumah sakit di rawat,makanya aku nggak pulang seminggu ini, aku panik nggak tahu apa yang harus aku lakukan."
__ADS_1
Sejuta pertanyaan hanya ada dan berkecamuk di otak dan hati Ameera saat itu, hatinya kelewat sakit bathin nya terlalu kecewa.
Dunia teras berputar, langit berasa mau runtuh lemas sekujur tubuh Ameera, perasaannya bergolak antara marah dan benci tapi apa daya? semua telah terjadi, hatinnya hancur terluka dan berdarah, bathin nya terkoyak begitu berkeping-keping, semua rasa yang selama ini dirinya rajut untuk bisa mencintai dan menerima Mas Fathir luluh lantak semuanya tersisa sedikitpun hanya menyisakan titik air mata di ujung bola mata Ameera saat itu.
Ameera berjalan sampai di halaman rumah yang begitu besar dan rindang, suasana teduh masuk teras yang begitu luas tak membuat hatinya adem, rasa dag dig dug entah apa lagi yang dirasakan Ameera semua bercampur menjadi satu pertanyaan yang tidak bisa ditebak jawabannya.
Pak Haji Marzuki menyambutnya di pintu, sekilas Ameera melihat Mas Fathir tersenyum berdiri menyambutnya juga. Tapi Ameera tak mau terpancing dengan segala kemanisan yang di suguhkan.
Mantan mertuanya Haji Jalaludin juga menyambutnya dengan tersenyum dan berdiri, mereka seperti berlomba untuk menarik hati Amira dan memperlihatkan sikap yang sangat manis, Ameera menyalami Haji Jalaludin dengan mencium tangannya.
Ibunya Hj Salamah membimbing Ameera yang kelihatan masih bingung dan grogi, apalagi saat Fathir mau menyalami dan memeluknya Ameera langsung menghindar di hadapan kedua orangtua dan mantan mertuanya.
Ameera ingin memperlihatkan ketegasan hatinya, kalau dirinya tak mau dipermainkan apalagi menyangkut pernikahan dan perasaannya yang sudah hancur. Dalam hati Ameera sudah bertekad seandainya Mas Fathir ingin kembali mengajak rujuk atau balikan Ameera akan menolaknya mentah-mentah.
"Apa khabar Neng Ameera? kelihatan lagi sibuk ya? Bapakmu cerita banyak kalau keluarga di sini lagi membangun suatu proyek spektakuler yang sangat luar biasa." ucap Bapak mertuanya duluan menyapa Ameera. Fathir kelihatan tersenyum sambil mengangguk.
"Baguslah, apalagi kegiatan yang positif. Tapi ingat perempuan ada batasnya ada yang lebih berhak dalam bekerja yaitu seorang suami."
Deg! hati Ameera langsung mengeras, sudah mengira kelanjutan pembicaraan akan seperti apa. Amira mencoba tegar untuk bisa menjawab semua pertanyaan dengan dewasa dan bijaksana dalam permasalahan ini.
"Ameera, Pak Haji Jalaludin datangnkesini untuk bersilaturahmi dengan keluarga kita dan untuk selanjutnya akan meluruskan permasalahan antara naky Fathir dan Ameera sendiri."
Ameera memandang Bapaknya, menanti ucapan selanjutnya.
"Tujuannya tiada lain hanya ingin minta maaf atas nama Nak Fathir khususnya terhadap kamu dan selanjutnya Nak Fathir berubah pikiran ingin mencabut talak sebelum masa iddah kamu selesai, mengajak kembali kamu untuk rujuk. Tapi semua itu butuh persetujuan mu, jadi Bapak serahkan semua kepadamu. Bapak tidak akan memaksamu Bapak hanya menyampaikan saja karena pilihan ada di tanganmu silahkan bicara, silahkan sampaikan, silakan mediasi dengan baik, apa sebaiknya langkah terbaik yang akan kamu ambil dan Bapak hanya bisa meluruskan saja." tutur Pak Haji Marzuki begitu terasa tohokan keras di ulu hati Ameera.
"Ameera mohon maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga Mas Fathir juga pada Bapak sama Ibu di sini, Ameera hanya ada beberapa pertanyaan saja yang akan di tujukan sama Mas Fathir sendiri, Maaf Mas Fathir pernikahan bagiku bukan permainan, perlu kesiapan hati untuk menjalani dan memasukinya, jujur dari awal aku tidak mencintai Mas Fathir! tapi karena aku bermaksud ibadah dalam pernikahan aku rela belajar mencintai dan memahami sampai aku bisa menjalani semuanya."
Sampai di situ Ameera berhenti bicara menarik nafas dan mengumpulkan kekuatan untuk bisa melanjutkan pembicaraan
__ADS_1
"Aku berhasil bisa keluar dari masalahku sendiri, lambat laun aku bisa menerima dan mencintai Mas Fathir, tapi semua itu begitu tak berarti, ketika kebohongan dan kejujuran Mas Fathir meluluh lantakkan semuanya. Maaf, aku tidak bisa tetap berada di zona itu, siapa yang akan menjamin Mas Fathir akan berubah? ancaman keluarga? bagaimana anak dan istrinya? akan seperti apa rumahtangga kita selanjutnya ketika semua diawali dengan satu kebohongan?"
Semua terdiam, semua mengerti kekecewaan Ameera, Fathir menunduk sedalam-dalamnya.
"Ameera, Fathir sudah Bapak ultimatum dan sudah berjanji akan merubah semuanya, dan akan menceraikan istrinya karena Bapak sama Ibu tidak setuju." ucap Bapak mertua Ameera begitu berharap Ameera berubah pikiran.
"Bagaimana seandainya aku ada di posisi sekretaris itu? apa Bapak akan tetap menyuruh Mas Fathir menceraikannya? bukan itu yang aku harapkan, aku bukan berlomba untuk memenangkan pernikahan ini, tapi aku justru meninggalkan pernikahan ini karena ada ada lebih membutuhkan Mas Fathir yaitu Istri dan anaknya."
"Ameera, pikirkanlah dulu sebelum masa iddah kamu berakhir, apa kamu tak akan menyesal?" ucap Fathir begitu naif.
"Mas Fatir, ayo kita bicaranya jangan di depan orang tua kita karena ini bukan urusan persahabatan mereka ini urusan rumah tangga dan pernikahan kita." ucap Ameera sambil berdiri diikuti Fathir ke teras taman belakang bagian rumah.
Ameera bangkit mohon diri sama Bapak dan Ibunya juga pada mertuanya.
Mereka mengangguk, menyetujuinya, berharap masih ada harapan baik untuk kedepannya.
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1